Oleh Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I.
LAZISWahdah.com – Ibumu… Ibumu… Ibumu…. Ayahmu…
Begitulah wasiat Baginda Nabi pada UmmatNya. Wasiat dari langit yang ketujuh, karena Nabi kita sendiri lahir dalam keadaan yatim, serta ibunda beliau juga wafat ketika beliau masih kecil.
Ibumu …..
Dialah yang mengandungmu dengan kepayahan yang terus bertambah dan bertambah. Kehadiranmu dalam rahimnya mempengaruhi hormon dan kepribadiannya, sampai ada yang terpaksa diopname karena ngidam berat. Hari demi hari dia lalui dengan do’a. Engkau bertambah berat dari hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, mengelusmu dengan penuh kasih walau engkau belum melihat sinar di dunia yang semakin tua ini.
Ibumu …
yang mempertaruhkan nyawa demi melahirkanmu. Andai ia diberi pilihan antara keselamatanmu dan kematiannya, maka ia akan lebih memilih dirimu dari dirinya. Pantaslah Ibnu Umar, sahabat Nabi yang mulia mengatakan bahwa sakitnya sekali hentakan ketika ia melahirkanmu tidaklah sebanding dengan baktimu walau engkau menggendongnya tawaf keliling ka’bah.
Setelah engkau lahir, ibumu menyusuimu dengan penuh cinta, membersihkan kotoranmu agar engkau selalu merasa nyaman, begadang demi ketenanganmu. Jika engkau menangis, seakan tangisanmu menusuk hatinya, menyentakkannya dari nyeyak tidurnya. Karena letih mengurusmu (terkadang pun ketika ibumu tidak lagi mendengar tangisanmu karena berada dipuncak keletihan dan bapakmu yang terbangun, bapakmu membangunkan ibumu dan berkata “anakmu nangis ma”, padahal engkau anak bapakmu juga, pantas bagian bapakmu cuma satu)….
Ibumu … Ibumu … Ibumu ….
Ibuku … Beliau bernama ‘Rahmatiah’, dari kata ‘Rahmah’, sebagaimana namanya, beliau sangat penyayang. Kami bersaudara empat orang; Armawati Tajang -rahimahallah- 76, Marwan Tajang 78, Tasyrawati Tajang 80, dan saya yang terakhir 82. Kami antri selang-seling dua tahun-dua tahun. Kakak yang pertama telah meninggal (nantikan kisah lengkapnya dalam judul : ‘firasat sang kakak’ serta berita ‘duka dari Indonesia’), yang kedua Marwan Tajang, mantan duta Bulukumba pada MHQ tingkat Provinsi Sul-Sel, sekarang beliau fokus dengan service karena memang beliau menjiwai bidang tersebut, sudah pernah mau diutus ke Jepang tapi ibu tidak mengizinkan, darinya saya banyak belajar kesederhanaan dan ketegasan. Tasyrawati Tajang juga pernah menjadi duta Bulukumba dalam event Musabaqahan, dikasi nama ‘Tasyrawati’ karena ia lahir dihari Tasyriq, bertepatan saat hewan-hewan qurban disembelih, mungkin itu salah satu rahasia diantara kami bersaudara, cuma beliau yang makan semua jenis daging. K’ Arma dan Marwan jangankan daging sapi, ayam juga gak bisa cium baunya, apalagi memakannya, dan usut punya usut ‘kelainan’ itu diwarisi dari ibu kami yang juga tidak makan daging, makanya kalo pergi pengajian atau majelis ta’lim ibu-ibu banyak yang suka berteman dengan ibuku karena di waktu istirahat ayam jatah ibu diembat temannya (Pertemanan palsu, heheheh)adapun saya masalah makanan, hm… Mirip-mirip Tasyarawati.
Ibu termasuk warga negara yang taat, beliau hafal UUD 45 beserta butir-butir Pancasila dan pasal-pasalnya, juga GBHN (mungkin efek sering ikut simulasi PKK). Beliau dan bapak juga pernah menjadi duta BKKBN, semua itu waktu saya masih kecil. Pernah saya tanya ibu : “Ma’, kenapa tidak ikut KB? Padahal kita’ duta BKKBN dulu”, beliau jawab : “andai saya ikut KB berarti kamu tidak lahir nak”. (Betul juga, karena saya anak ke empat). Adapun sekarang, ibu fokus memperbaiki bacaan Al-Qur’an, beliau sudah hafal juz 30, tinggal dimuraja’ah.
Saya dilahirkan ibu di sebuah kampung di Bulukumba, Kajang tepatnya, di Desa. Kalimporo, Jannayya. Ibu bilang, waktu saya dilahirkan gak terlalu sulit, bahkan tidak ada yang lihat waktu saya dilahirkan, nanti setelah keluar, saya menangis, orang-orang pun berlarian, mungkin waktu itu saya sudah tidak sabaran lagi, ingin segera masuk STIBA. Saya cuma numpang lahir dan kecil di Kajang, selebihnya Bapak bawa kami sekeluarga tinggal di kota Bulukumba, di Ela-Ela namanya, dekat pantai.
Panggilan kesayangan saya waktu kecil adalah ‘Capa’, ketika saya tanyakan pada bapak, ada dua riwayat jawabannya : 1. ‘Capa’ berarti nekat dan pemberani, atau 2. ‘Capa’ berarti segi empat, diambil dari kata ‘sulapa’ yang berarti segi empat dalam bahasa Kajang, konon waktu saya lahir kepala saya bentuknya agak segi empat (hm … dan riwayat yang pertama yang saya rajihkan dan kuatkan).
Ibuku dulu hampir terangkat jadi guru PNS, karena beliau terbilang cerdas dan berprestasi. Sejak masih sekolah dulu, guru Matematika beliau Pak Gani -almarhum- pernah cerita, beliau bilang : “Mama’mu itu di kelas belum selesai soal ditulis di papan, dia sudah jawab”, masya Allah, makanya dalam soal-soal berhitung beliau salah satu referensi saya, kalo ada yang bertanya tentang pembagian zakat dan warisan biasanya saya minta bantuan beliau, sampai sekarang. Beliau juga sering mewakili sekolahnya lomba cerdas cermat, itulah mungkin yang menjadi sebab mengapa Bapak yang notabene guru Ibu dulu nekat melamar Ibu dan masya Allah langsung diterima Kakek walaupun pada awalnya Ibu menolak, karena umur juga terpaut jauh, bapak kelahiran 42, ibu 56, konon lama setelah menikah baru bisa rukun (dan bukti kerukunannya adalah; lahirlah kami).
Oh, iya … Tadi saya bilang ibu pernah hampir jadi PNS tapi beliau batalkan, apa pasalnya? KARENA SAYA …
Waktu ibu sudah ikut prajabatan. Umur saya masih balita. SAYA HILANG … Sebenarnya yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah saudara saya Marwan Tajang, walau sampai sekarang ia belum mengakuinya, dia yang bawa saya pergi belanja, disuruh nunggu disatu tempat, pulangnya dia mengambil jalan lain, saya pulang sendiri, tersesat gak lihat jalan, saya jalan nggak tahu arah, dipungut oleh seorang bapak dan dibawa ke rumahnya, hampir dikasi minum tuak, waktu ibuku pulang ke rumah beliau melihat orang-orang berkerumun di depan rumah, mereka bilang saya hilang, ibuku menangis histeris, orang-orang berpencar cari saya, nanti jelang Maghrib baru ditemukan, dari situlah ibuku memutuskan gak lanjut PNSnya dan memilih lebih fokus jagain saya, makanya jadilah saya anak yang paling disayang (hehehehe.. Maaf kakak-kakakKu sekalian), tapi sebenarnya anak yang paling disayang itu ada tiga, bukan karena ia berstatus bungsu, anak yang disayang itu adalah : 1. Yang kecil sampai ia besar, 2. Yang sakit sampai ia sembuh, dan 3. Yang pergi sampai ia kembali. Mau sulung, bungsu atau tengah jika menyandang predikat salah satu diatas maka dialah yang paling di sayang. Coba lihat anak yang nakal, kalau ia sakit atau kecelakaan dan masuk rumah sakit, ibunya yang sabar dan telaten merawatnya, dia lupa kenakalan anaknya, kalau ada koruptor atau narapidana yang dipenjara ibunya yang tegar sering menjemguknya dan membawa makanan kesukaannya walau mungkin seluruh manusia mencibirnya.
Seingat saya, waktu kecil rambut saya dibiarkan panjang, sampai saya juga biasa dipanggil ‘Gondong’, cukuplah tiga nama yang saya miliki; Harman, Capa, dan Gondong. Saya tumbuh sehat Alhamdulillah, cuma ada langganan ‘kelainan’ yang selalu saya alami yaitu selalu ‘step’, tapi bukan ayan yah… Apalagi kalo demam tinggi, pasti saya step, mata terbelalak dan kejang, ada yang bilang diantara penyebabnya adalah alat pemotong tali pusar nggak steril, wallahu a’lam.., yang jelasnya karena keseringan step, ibuku sudah punya jurus jitu mengatasinya, bisa anda praktekkan jika terjadi pada anak anda, caranya ; buka semua baju sang anak, ambil minyak kayu putih atau minyak apa saja, yang penting bukan ‘bimoli’, gosokkan pada seluruh tubuhnya, pijat seluruh persendian, dimulai dari alis dan terus ke bawah sampai tubuhnya hangat, kemudian pegang kedua tulang pinggang bagian depan, tekan agak kuat benjolan tulang pinggang sampai sang anak menjerit, maka dia akan sadar dari stepnya insya Allah, jika masih gagal ulangi lagi, jika belum berhasil barulah pake ‘stesolit’ yang dimasukkan ke dubur, siapkan selalu tapi tentunya harus dengan resep dokter, begitulah cara sederhana menangani step. Selamat mencoba..!. Jika yang step orang dewasa penanganannya lebih gampang, bikinkan kopi Susu, jika belum sadar, siramkan!.
Kemungkinan kata orang, gara-gara saya sering step akhirnya saya sering kedip-kedip berlebihan.. (Namun, survey terakhir membuktikan bahwa rata-rata yang sering step waktu kecil, cerdas setelah dewasa.. Maaf yah).
Disamping sifat penyayang, dalam beberapa kondisi ibu saya bisa berubah menjadi sangat tegas, apalagi jika beliau yakin berada pada garis kebenaran, beliau selalu bilang pada kami : “kalau saatnya bertegas dan masih lembek berarti kalian bukan laki-laki”!, padahal ikut mendengar anak perempuannya juga, pernah saya ikut lomba menghafal Al-Quran di Masjid Babul Khaer, kelurahan Bentengnge namanya, saya masih kelas dua SD, saya tampil mempesona waktu itu, pas pengumuman saya tidak dapat juara, disabet tuan rumah padahal penampilannya sangat buruk, ibu saya protes diatas panggung bahkan menantang panitia untuk saya diduel kembali dengan yang juara, acara jadi kacau, saya cuma menangis waktu itu. Keesekon harinya pihak panitia datang meminta maaf seraya membawa hadiah dan menjadikan saya juara pavorit, dan disitulah awal saya berkiprah di dunia MTQ, setelah perkenalan keluarga kami dengan Pak Irwan AC Sinrang -jazahullahu khairan- yang setiap ada Musabaqah beliau memboyong saya mewakili kelurahannya, saya ingat setiap ada Musabaqah banyak official atau imam-imam kelurahan ke rumah cari peserta, kami berempat dibagi ke kelurahan-kelurahan yang berbeda dan saling menjadi lawan dan bersaing di arena, pernah disuatu MTQ Cabang MHQ juz 30 waktu pemenangnya masih dicampur juara satunya disabet Marwan, juara dua Tasyrawati dan juara tiga saya (kawan, dokumentasi photo penerimaan hadiah masih ada tersimpan dan penampilan saya waktu itu sangat comel). Pernah juga ibu saya membubarkan pentas Orkes di kampung yang penyanyinya setengah telanjang, kalo saya dulu cuma menasehati dan ikut menyumbang lagu ‘MIRASANTIKA’, ibu saya tidak, mereka disuruh bubar dan tidak ada yang berani melawan.
Masa-masa kecil, remaja, kami lalui begitu indah, penuh kenangan, ibu yang merawat penuh cinta, menjadi teladan dan tempat mengadu dan bercerita, sampai ketika tibalah saatnya saya pergi ke Makassar memulai petualangan hidup kulihat air mata ibu berderai, berat melepaskanku namun harus beliau relakan, demi masa depan yang cerah. Saya belum terlalu memahami arti tangisan beliau pada waktu itu, saya juga belum terlalu bisa merasakan kepedihan hati beliau, barulah kesemuanya itu saya fahami setelah Allah mengaruniakan kepada saya anak …
Seorang ahlu hikmah pernah ditanya ; bagaimana pendapat anda tentang kematian seorang ayah? Beliau menjawab : “mulkun jadiid” (kerajaan baru karena anaknya akan mewarisi segalanya), lalu bagaimana pendapat anda tentang kematian seorang suami atau istri? Beliau menjawab : “irsun jadiid” (pelaminan baru, karena ia akan mencari penggantinya), lalu bagaimana pendapat anda tentang kematian saudara? Beliau menjawab : “Qasshul Janaah” (sayap yang terpatahkan, semakin sedikit yang berbagi warisan sehingga bagiannya akan lebih banyak), dan ketika ia ditanya : bagaimana pendapat anda tentang kematian/kepergian seorang anak? Beliau menjawab : “Shad’un la yandamil” (luka yang tak akan pernah terobati). Betullah kata pepatah ; kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah.
Sebenarnya saya sudah biasa berpisah dengan ibu, kalo ada moment Musabaqah atau Perkemahan yang harus nginap sekitar satu pekan, namun walau demikian ibu saya selalu nyusul dan hampir tiap hari menjenguk, bahkan pernah berjalan kaki bersama bapak di malam hari karena tak ada mobil tumpangan setelah jenguk saya.
Waktu kuliah di Stiba, kiriman ikan teri campur tempe dan kacang tumis kecap gak pernah alpa, disimpan dalam toples bekas astor atau kaleng bekas Khong guang, tapi makanan-makanan itu gak bisa tahan lama, bukan karena bahannya namun, dikeroyok mahasiswa STIBA. Alhamdulillah.
Pernah ada kejadian yang menarik, sebagaimana pernah saya sampaikan pada kisah sebelumnya bahwa diawal masuk STIBA ada ospek semi militer, yang menyebabkan saya terkena typus dan harus dirawat di klinik Wihdah (terima kasih pada Almarhumah dr. Munirah Said yang telaten merawat saya waktu itu, Allahummaghfirlaha wa ‘aafiha wa’fu ‘anha, semoga Allah melapangkan kubur beliau, juga buat saudaraku yang keberadaannya sekarang entah dimana; Syamsuddin Conda, yang membantu saya selama perawatan, kebetulan beliau tinggal di asrama tadrib addu’aat depan klinik, beliau sering datang habis Dzuhur dan membantu saya menghabiskan makanan yang sebenarnya khusus untuk pasien), mendengar kabar itu, ibuku sangat khawatir, apalagi kabar yang sampai kepada beliau bahwa penyakit saya agak berat, diutuslah ipar saya ke Makassar untuk melihat langsung kondisi saya. Di suatu Sore, terlihat mobil ambulans masuk ke kompleks BTN 1, kediaman kami di Bulukumba setelah pindah dari Ela-Ela, ambulans itu semakin mendekat ke rumah, ibuku sudah histeris, mengira saya yang ada di mobil itu, seisi rumah berhamburan keluar, mobil ambulans tepat berhenti depan rumah, turunlah sopirnya yang ternyata … tetangga kami yang kerja di Rumah Sakit Umum Bulukumba, Bapak Agus Mahmud, beliau bawa ayam untuk minta tolong disembelih bapak, kebetulan waktu itu ada acara syukuran di rumah beliau … Alhamdulillah, ternyata bukan saya.
Waktu keberangkatan saya ke Sudan ibu gak kuasa mengantar ke bandara, beliau tidak kuasa melihat saya pergi, beberapa hari lamanya setelah keberangkatan saya, beliau gak ada nafsu makan, dan lebih parahnya lagi; selama saya berada di Sudan kurang lebih 4 tahun makanan-makanan kesukaan saya tidak diizinkan ibu dimasak di rumah karena beliau akan sangat sedih mengingat saya, jadilah kakak-kakak saya sebagai korban, untung mereka juga sayang adiknya.
Sebelum berangkat ke Sudan, saya transit dulu di Jakarta untuk mengurus kelengkapan berkas dan juga tes kesehatan. Alhamdulillah, semua lancar, kecuali teman saya Mukran, beliau gak lulus, nyaris gak bisa berangkat, tapi Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah kemudian loby tingkat tinggi terutama dibantu oleh Al-Akh Rustam Tinggi dari Sinjai, beliau bisa diloloskan (prosesnya? Biarlah itu menjadi rahasia kami). Sebelumnya juga telah saya sampaikan bahwa dana saya masih kurang 2,5juta, dan pihak Depag sudah menagih untuk pembelian tiket. Saya cuma bisa pasrah, namun sudah sejauh itu, saya yakin akan datang pertolongan dari Allah. Kata orang bijak ‘jika malam semakin kelam pertanda fajar akan segera menyingsing’, dimalam terakhir sebelum keberangkatan, saya ditelpon Pak Jusman, ketua DPD Wahdah Islamiyah Bulukumba dan beliau minta nomer rekening, Demi Allah kawan!, saya gak pernah minta, beliau ternyata kirim dana yang merupakan kumpulan para ikhwah sebagai tanda syukur dan bahagia, saya sebagai putra daerah mereka bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri, dan jumlahnya masya Allah melebihi target …3juta rupiah. Sisanya saya belikan jaket dan pelembab karena katanya disana cuacanya kering dan ekstrem ….
Jadilah saya berangkat ke Sudan, saya dan Mukran bergabung dengan calon-calon mahasiswa dari daerah lain, ada Alfi Syahr, ada Abdul Azis Karammel (mengapa disebut ‘Karammel’, ada sejarahnya, nanti saya ceritakan juga), ada Aa Hubur (sekarang beliau kalo gak salah kerja di kedutaan Brunei), ada Asep Ami Azwar Fariid, Taufiqurrahman, Agus Aulia El-Lutfi, dll. Yang nama-nama tersebut akan menjadi tokoh-tokoh pada kisah-kisah keberadaan saya di Sudan, Insya Allah.
Selamat tinggal Indonesia ….
Selamat tinggal Ibuku sayang, do’akan selalu anakmu ….
Kawan, kuceritakan kisah diatas bukan untuk pamer diri, maafkan saya telah menyita waktumu. Saya cuma ingin menyampaikan dan mengingatkan agar kita selalu berbakti pada Ibu, dia adalah keramat hidup, sebab ridha Ilahi, dan sebab keberkahan di dunia dan di akhirat.
Ketahuilah…! Tiada dosa setelah kesyirikan yang lebih besar melebihi durhaka pada kedua orang tua terutama ibu, dan tiada dosa yang dipercepat hukumannya di dunia sebelum di akhirat dari durhaka pada Ibu ….
Aduhai … Sungguh miris hati ini mendengar ada yang menghardik ibunya, ada yang mengusirnya dari rumah gara-gara lebih mendengar kata istrinya, ada yang menuntut ibunya ke pengadilan karena ketamakan terhadap dunia, bahkan … Na’udzu billah … Ada yang sampai membunuh ibunya ….
Saudaraku …!
Bertobatlah jika engkau pernah durhaka pada ibumu, kembalilah peluk kedua kakinya, buatlah ia tertawa sebagaimana engkau pernah membuatnya menangis, mintalah keridhaannya, bersabarlah dalam menghadapinya jika ia keliru dan salah, nasehati dengan bijak namun jangan sampai engkau menghardiknya, ketika Asma bintu Abu Bakr bertanya pada Nabi : “Ya Rasulallah, ibuku musyrik datang ke rumah menginginkan sesuatu, bisakah saya menyambung silaturahmi dengannya?” Nabi menjawab : “Ya, Sambunglah silaturahmi dengan ibumu”!, coba bayangkan, ketika orang tua musyrik pun tidak menjatuhkan kewajiban anak berbakti kepadanya. Dan bakti yang paling mulia dan berpahala adalah ketika mereka sudah renta berusia lanjut, ketika mereka tidak mampu mengurus diri sendiri, ketika mulai pikun dan sakit-sakitan, hendaknya sang anak bersabar, karena sesungguhnya di kakinyalah pintu Syurga itu, seorang salaf menangis ketika ibunya meninggal, ketika ditanya : apakah engkau tidak rela dengan takdir Allah? Beliau menjawab : “bukan itu yang membuat aku sedih namun, dengan kematian ibuku salah satu pintu Syurga bagiku telah tertutup”. Subhanallah …
Dan yakinlah, barangsiapa yang berbakti pada orang tuanya maka, Allah akan memberi anak-anak dan keturunan yang juga akan berbakti kepadanya kelak.
Semoga Allah merahmati kita sekalian …
Bersambung ….