Si Pahit Lidah

Di bawah bayang-bayang patron, Si Pahit Lidah merasa aman memuntahkan caci dan cela lewat tarian jemari di layar gadget-nya. Ia ludahi siapa saja yang tak ia suka. Ia rusak kehormatan siapa saja yang ia anggap kontra. Tidak pandang buluh, bahkan kepada ustaznya yang selama ini mendidiknya, ia berulah

Seperti ia saja yang pandai. Si pahit lidah sudah melukai banyak orang. Lewat tulisannya di media sosial, lewat ucapannya di dunia nyata, air liurnya seperti bisa yang tak berperi kemanusiaan

Si pahit lidah sudah menorehkan sejuta luka menganga. Tak bisa diambil kembali, sudah terlanjur basah dan didengar oleh banyak orang. “Jangan dengar orang ini, sesat kau adanya!” begitulah titahnya saat menjalankan aksinya

Saudaraku, bisa jadi benih caci dan cela yang disebar akan ia panen buahnya di dunia. Atau, bisa jadi, Allah sengaja umbar Si Pahit Lidah dengan gincu jumawanya, agar kelak bisa setimpal adzab yang ditimpakan padanya di hari perhitungan yang tak satu patron pun bisa melindunginya.

Na’udzubillah, si pahit lidah kini bersiap menunggu hisabnya

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Tinggalkan komentar

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening