Beberapa saat lalu kita menyaksikan berita tentang anak-anak yang hamil di luar nikah menghiasi media massa. Jumlah kasus hamil diluar nikah tidak sedikit, rata-rata mereka berusia 16-18 tahun. Ini menunjukkan bahwa pergaulan bebas di kalangan anak-anak sangat memprihatinkan. Dan ini seharusnya menjadi perhatian kita terutama pemangku kebijakan maupun orang tua, perlu ada langkah serius mencegah merebaknya perzinahan.
Zina yang begitu besar dosanya dan berat hukumannya dalam Islam seolah dianggap biasa. Apalagi di era digital baik media online dan media sosial sangat massif perusakan nilai-nilai moral. Menghadapi kondisi seperti ini kita perlu membentengi diri dan keluarga akan bahaya dari pergaulan bebas. Seluruh pihak terutama orang tua perlu memberikan perhatian besar guna mencegah dampak yang lebih meluas.
Syaikh Syakib Arslan dalam bukunya, Mengapa Umat Islam Tertinggal menyebutkan sebab kemunduran yang ketiga, kerusakan akhlak. Ini ditandai dengan hilangnya nilai-nilai yang diajarkan al-Qur’an. Karena peran akhlak lebih besar daripada peranan intelektual.
Ketahanan Keluarga
Ketahanan keluarga menjadi benteng pertama dari peradaban. Jika peran keluarga hilang maka ini menjadi salah satu sebab terjadinya kerusakan. Peran keluarga harus kita optimalkan, jika ketahanan keluarga runtuh peradaban juga akan rapuh.
Tidak hanya pergaulan bebas, munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak adil merupakan potret gagalnya peran keluarga menanamkan visi kepemimpinan kepada anak-anaknya. Bukankah kita membaca do’a kebaikan untuk keluarga terdapat visi kepemimpinan. “Jadikanlah kami bagi orang-orang bertaqwa sebagai pemimpin”.
Peran Ayah sebagai pemimpin keluarga harus memastikan syariat menjadi panduan membina keluarganya. Disinilah pentingnya Sirah Nabawiyah menjadi inspirasi menanamkan visi kepemimpinan. Kemudian istri sebagai ‘pemimpin’ dalam menjaga rumah suaminya. Dengan makna merawat, menjaga dan memperhatikan agar rumah dalam kondisi aman nyaman.
Dalam Al-Qur’an kata ‘wanita’ banyak disebut baik sebagai individu, istri, ibu maupun peran sosial lainnya. Tetapi peran wanita yang paling banyak disebut adalah sebagai istri. Artinya dalam keluarga, meskipun wanita sudah punya anak maka tetaplah ia menjalankan peran terbaiknya sebagai istri. Ini kelak menjadi kunci keberhasilan dia menjadi ibu dalam mendidik anak-anaknya. Perempuan harus bangga menjadi ibu, bukan sebaliknya tidak mau punya anak justru menyelisihi maqāṣidu as-syarīah, menjaga keturunan.
Menguatkan Sistem Pendidikan
Pendidikan merupakan kunci melahirkan generasi terbaik. Konsep pendidikan kita harus membawa nilai Islam. Pendidikan jangan disempitkan hanya dengan sekolah atau kuliah. Tetapi mencari guru dan dimanapun asal belajar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Pendidikan sesungguhnya bermula dari rumah. Dengan membacakan Al-Qur’an, mensucikan jiwa anak-anak, mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan sunnah. Tetapi semua ini kembali kepada orang tua yang lebih dulu menjadi teladan yang shalih. Keluarga yang baik, terutama anak-anak yang shalih bermula dari orang tua yang memiliki kebaikan yang banyak. Kelak inilah yang akan dibagi dan diberi kepada anak-anaknya.
Orang yang kehilangan sesuatu tidak mungkin bisa memberi. Orang yang kehilangan keikhlasan, bagaimana bisa menasihati orang utnuk ikhlas. Orang yang tidak memiliki kesabaran, bagaimana bisa mengajari kesabaran. Orang yang tidak pandai bersyukur bagaimana bisa membimbing orang lain untuk bersyukur. Mendidik sesungguhnya seni membagi kebaikan dan kebahagiaan pada orang lain.
Andaikata ada seseorang ingin ahli dalam membangun rumah, tentu ia akan serius belajar. Mengikuti pelatihan, sekalipun dengan bayaran mahal agar bisa membuat rumah yang berkualitas. Lalu bagaimana kalau kita ingin membangun peradaban? Membina rumah tangga, persiapannya harus lebih matang lagi. Maka sebaiknya harus ada kurikulum yang mempersiapkan peserta didik membangun keluarga.
Berbicara pendidikan, maka rujukan terbaik kita adalah metode Nabi mendidik sahabatnya menjadi generasi terbaik. Target dari pendidikan ini, mengeluarkan manusia dari alam gelap gulita (kesesatan) menuju alam terang menderang (Islam). Mendidik bukan sekedar melahirkan orang cerdas, tetapi mendapatkan hidayah jauh lebih penting. Dan lebih penting lagi, menghormati dan memuliakan para guru. Menghargai jasa para guru, karena dari merekalah lahir para pemimpin peradaban.
Muliakan Para Tokoh dan Ulama
Kedudukan ilmu dan ahli ilmu dalam Islam sangat agung. Adalah menuntut ilmu amalan yang paling afdhal setelah kewajiban-kewajiban. Memuliakan ilmu dan kedudukan ulama dalam peradaban Islam sangat tinggi. Jika kedudukan mereka dijatuhkan, lalu dari mana lagi kita mendapatkan keberkahan ilmu. Dari ilmu para ulama-lah kita bisa mendapatkan panduan terbaik menghadapi berbagai persoalan.
Kedudukan ulama sangat mulia, para orang tua harus mencontohkan bagaimana murid memuliakan pewaris para Nabi. Jika orang tua membiarkan anaknya tidak beradab kepada ulama, maka keberkahan ilmu sulit didapatkan. “Penuntut ilmu tidak bisa meraih ilmu dan mendapatkan manfaat ilmu” sebut Imam Az-Zarnuji. “Kecuali dengan memuliakan ilmu dan ahlinya, memuliakan guru dan menghormatinya”.
Tiga hal ini merupakan tiang peradaban, ketahanan keluarga, pendidikan dan tokoh ulama. Tiada peradaban kecuali disertai perjuangan. Menurut Syaikh Syakib Arslan, banyak dari kaum muslimin menganggap diri mereka sebagai Muslim hanya cukup dengan mengerjakan shalat, puasa dan segala amalan yang tanpa harus mengorbankan jiwa dan harta. Lalu dengan amalan tersebut berharap kemenangan dan kejayaan dari Allah. Tentu ini tidak mungkin, visi peradaban Islam harus dibawa dalam bidang kehidupan.
Kalau kaum Muslim menganggap Islam hanya terbatas pada shalat, puasa, do’a, istigfar dsb lantas turun kemenangan. Tentu Rasulullah akan tetap di Makkah dan bisa beribadah dengan baik tanpa perlu hijrah ke Madinah membangun peradaban. Bagaimana Allah Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada kaum yang tidak berjuang, tidak berusaha mengambil kendali peradaban sementara mereka punya kelapangan untuk bangkit.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi