Dari Kampung ke Mimbar Bangsa: Da’i Bukan Profesi, Tapi Jalan Pulang Menuju Surga 

“Saya bukan anak pesantren sejak kecil. Tapi dari orang tua saya, saya belajar iman. Belajar salat, puasa, dan takut kepada Allah. Itu jadi bara kecil yang terus saya jaga hingga kini, di jalan dakwah.”

Di sebuah kampung kecil di Berau, Kalimantan Timur, seorang anak lelaki tumbuh sederhana. Tapi tiap pagi ia bangun lebih dulu dari matahari, berwudhu, dan menunaikan salat. Tak pernah menyangka, langkah kecil di atas sajadah itu kelak membawanya ke panggung dakwah nasional.

Dialah Dwi Fathurrahman, S.H.—anak dari pasangan Wahab Syahrani, S.E. dan Ani Erianti. Meski lahir dari keluarga biasa, Allah menuntunnya bertemu para guru dari Wahdah Islamiyah yang menyalakan semangat perjuangan Islam dalam dirinya. Ia pun memilih jalan dakwah, meski telah menempuh pendidikan di kampus ternama di Malang, namun ia memantapkan diri menuju Makassar untuk menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar.

Setelah lulus di STIBA Makassar tahun 2023, ia kemudian menuju ibu kota untuk berkhidmah di kantor DPP Wahdah Islamiyah. Hingga akhirnya lolos sertifikasi da’i nasional dari MUI Pusat—sebuah amanah besar untuk anak kampung yang dulu hanya mengisi kultum Ramadan di masjid kecil.

Kini, dakwahnya menjangkau sekolah, kampus, masjid, bahkan kafe-kafe anak muda. Di pedalaman pun ia hadir dengan akhlak, bukan amarah. “Dakwah bukan soal ceramah, tapi soal hadir dan menyentuh hati,” ujarnya.

Tak jarang ia dijemput warga kampung dengan haru, disambut dengan peluk dan doa. Karena mereka tahu, da’i muda ini membawa Islam dengan kasih sayang, bukan dengan caci maki.

“Kalau bukan kita yang memperbaiki, siapa lagi?” ucapnya lirih. “Dan bagi saya, da’i bukan profesi. Tapi jalan pulang menuju surga.”

Luaskan manfaat sedekah Anda!

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening