Wiz.or.id, Gaza Utara — Di tengah kepungan blokade yang kian mencekik dan ancaman kelaparan yang menjadi senjata pemusnah senyap, secercah harapan muncul dari kepulan uap nasi di kamp-kamp pengungsian Gaza Utara. Di sana, lebih dari 1.800 warga Palestina yang sedang di ambang maut akibat krisis pangan, akhirnya bisa merasakan nikmatnya suapan makanan.
Bantuan ini datang dari jantung rakyat Indonesia, disalurkan melalui Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) dan KITA Palestina. Di saat akses terhadap air bersih, pakaian, dan bahan makanan pokok diputus secara sepihak, bantuan ini menembus batas-batas kemustahilan untuk sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan.
Kelaparan yang terstruktur Kondisi di Gaza Utara bukan sekadar kekurangan pangan biasa; ini adalah penderitaan yang dipaksakan. Anak-anak kecil dan lansia harus bertahan di tengah ketiadaan nutrisi di bawah tenda-tenda yang rapuh. Namun, hari ini, di titik-titik penampungan paling kritis, senyum getir berubah menjadi air mata syukur.
“Rakyat di sini terus menderita. Kami kekurangan segalanya—makanan, air, dan pakaian. Blokade ini menghancurkan martabat manusia,” ujar perwakilan relawan di lapangan.
Nafas bagi Gaza melalui tangan dingin mitra lokal, Syekh Mundzir, paket-paket makanan bergizi ini dibagikan secara merata. Setiap paket yang diterima bukan sekadar penghilang lapar, melainkan pesan politik dan kemanusiaan bahwa Indonesia tidak akan pernah membiarkan Palestina sendirian.
“Kami berterima kasih kepada rakyat Indonesia yang bersaudara. Kalian selalu berdiri di sisi kami, bahkan di saat dunia seolah menutup mata. Bantuan ini adalah nafas bagi kami untuk terus bertahan,” ungkap salah seorang penerima manfaat dengan suara parau.
WIZ dan KITA Palestina menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini tidak akan berhenti selama penindasan masih berlangsung. Selama rakyat Gaza masih dipaksa lapar, selama itu pula solidaritas rakyat Indonesia akan terus mengalir. []
Luaskan manfaat sedekah Anda!