7 Ruangan Rusak Akibat Gempa, Santri Al-Ma’arif Islami Butuh Tenda dan Logistik

Sore itu, bumi Nagekeo bergetar. Tidak lama. Tapi cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding Pondok Pesantren Al-Ma’arif Islami di Maba, Kelurahan Basa 1, Aesesa, Nusa Tenggara Timur.

Masjid yang biasanya bising oleh selawat, mendadak senyap. Lalu berubah jadi kepulan debu. Ruang kelas, asrama, tempat tidur para santri—semua retak. Sebagian roboh.

Tiba-tiba, 7 ruangan tak bisa lagi dipakai.

Bisa dibayangkan para santri itu. Anak-anak kecil yang biasanya tidur berselimut sarung di dalam kamar, kini harus tidur beratap langit. Dibungkus angin malam Aesesa yang dingin. Menggigil di bawah tenda darurat seadanya.

Bukan cuma santri. Warga sekitar juga sama. Lansia, ibu hamil, bayi. Mereka menumpuk di bawah lembaran terpal.

“Apa yang paling dibutuhkan sekarang?” tanya seorang relawan di lapangan.

Jawabannya sederhana. Tapi mendesak:

  • Tenda dan terpal. Agar bayi dan lansia tidak langsung dihantam angin malam.
  • Makanan dan logistik. Dapur umum harus terus ngebul.
  • Obat-obatan. Batuk, demam, dan trauma mulai datang.
  • Bahan bangunan. Untuk membuat 7 ruangan darurat. Agar santri bisa kembali belajar dan beribadah.

Bencana memang tidak pernah memberi tahu kapan akan datang. Tapi empati selalu punya cara untuk hadir tepat waktu.

Maba terlalu jauh dari Jakarta. Tapi jarak tidak pernah bisa menghentikan niat baik. Bagi yang ingin berbagi sarung hangat atau sekadar sepiring nasi untuk santri di sana, ruang itu selalu terbuka:

Mari ulurkan tangan. Sekarang.

Luaskan manfaat sedekah Anda!

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening