Aku Ingin Hamil
LAZISWahdah.com 
– Sudah masuk tahun ke- 4 setelah pernikahan, ada asa yang  belum juga bersambut. Datang bulan seolah menjadi momok yang menakutkan. Perasaan cemas dan sedih berkecamuk ketika belum tanggalnya, eh, sudah datang bulan lagi. Seiring itupun sejumlah tuntutan dalam bentuk pertanyaanpun hadir.”belum telat nih…” .“ ka’, udah ngisi, ya? Bagaimana sudah hamil? Sudah ngisi, belum? Kapan, nih nyusul? Sudah ada calon generasikah? Kok belum hamil hamil?. Sebagai wanita yang pernah mengalami masa penantian seperti ini, saya akui bahwa pertanyaan pertanyaan seperti inilah yang sering membuat diri ini sangat tidak nyaman, tidak kuat, kadang bikin sewot, dan menohok di hati. Sering juga bikin nangis. “Coba diusahakan lagi… lah…” sejumlah statemen yang tentunya membuat para perempuan tidak nyaman, tidak kuat, kadang buat sewot bin menyedihkan akhirnya harus tertunduk dan bergumam dalam hati “ Ya Rabb….

Yah… siapa pun perempuan, ketika mengalami masa penantian yang panjang seperti ini, pasti memiliki sensitifitas tinggi terhadap pertanyaan pertanyaan di atas. Memang hanya pertanyaan, tapi itu sebenarnya tidaklah menyenangkan. Pun dengan dengan dia/adikku/teman-temanku yang telah merasakan betapa tidak nyamannya menantikan masa-masa indah itu. Setelah menikah, sepertinya setiap pasangan tidak akan menunda untuk segera mempunyai momongan. Sebab kehadiran buah cinta bagi pasangan suami istri dianggap sebagai prestise di mata orang. Ia adalah pelengkap kebahagiaan setelah mengarungi bahtera rumah tangga. Demikian halnya juga menjadi kebahagiaan  untuk sanak saudara dan family kita.

Tak terelakkan, prasangka orang memang selalu macam-macam bahkan terkadang negatif ketika melihat pasangan yang tidak juga mendapat momongan. Yang mengalaminya pun akan memikirkan hal yang serupa tentang bagaimana pandangan orang terhadapnya. Banyak pasangan hari ini yang mungkin sedang resah, gundah gulana, lagi cemas berkepanjangan, menunggu datangnya kehamilan. Di saat menunggu inilah pasangan suami istri selalu dihinggapi rasa was-was, apalagi jika mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti disebutkan di atas dari orang-orang sekitar.

 

Bukankah Allah Maha Berkehendak?

Allah Maha Tahu atas segala keinginan dan kebutuhan kita. Apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan di mata Allah. Yang harus dipahami bahwa keinginan kita sangatlah banyak dan tidak ada batasnya, sedangkan apa yang kita butuhkan sebenarnya hanya Allah-lah yang tahu. Jika Allah belum mengaruniakan anak barangkali memang karena Allah melihat kita belum dilihat butuh dengan itu. Semua telah diatur oleh-Nya. Kita cukup berusaha sebaik-baiknya sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya.

Mungkin kita akan merasa Allah tidak adil pada kita, kita sedih, kecewa. Bahkan tak jarang kita protes. Pernyataan orang kepada kita tentang keadaan kita itu memang terkadang menyindir atau menyakitkan. Tapi jangan terbawa dengan omongan orang di sekitar kita. Yakin saja, toh datang bulan yang teratur setiap bulan menandakan bahwa kesempatan untuk hamil masih sangatlah besar. Tanamkan percaya diri dan haqqul yakin bahwa saatnya nanti pasti hamil juga.

Dan keundahan ini tentunya tidak hanya akan dialami oleh perempuan Bagi seorang lelaki (suami), tidak bisa dipungkiri, keadaan yang demikian itu bisa saja membuat diri menjadi tidak percaya diri, merasa akan dipandang orang lain, -maaf-, tidak jantan. Maka… yakin saja bahwa belum saatnya saja untuk memiliki momongan. Allah masih menunda untuk menguji kesabaran kita sebelum kita benar benar mempunyai anak yang juga adalah sebagai ujian. Nikmati saja… Nikmati saat-saat berdua dengan pasangan, Allah memberikan kita kesempatan untuk bisa menikmati saat-saat berdua tersebut. Apatah lagi jika sebelum menikah kita tidak pernah pacaran atau belum kenal sekali dengan pasangan kita. Ingat  “Proses yang panjang dan lama biasanya hasilnya akan berkualitas, Insya Allah”,

Ingat keluarga Nabi Zakaria ‘alaihi salam di usia tuanya itu Nabi Zakaria menjadi semakin khawatir. Sebab belum ada satupun generasi yang bisa diharapkan akan melanjutkan risalah suci yang ia emban. Zakaria selalu berdo’a agar dikaruniai seorang anak laki-laki yang dapat mewarisi ilmunya dan menjadi pelanjut risalah Tauhid. Dalam usahanya itu, Zakaria tidak menyampaikan keinginannya tersebut kepada orang banyak, bahkan kepada istrinya, tetapi ia hanya mengadukannya kepada Allah. Hingga pada akhirnya Allah azza wa jalla pun mendengar do’a panjang yang dilafazkan Nabi Zakaria. Atas jawaban Allah itu, Zakaria semakin takjub atas kehendak Allah bagaimana dirinya punya anak sementara ia sendiri sudah tua dan istrinya pun wanita yang mandul. Zakaria pun menangis hebat karena begitu gembiranya dengan kehadiran seorang anak lelaki yang kelak melanjutkan perjuangannya membawa risalah ketauhidan ini. Ia tersungkur di hadapan Allah sebagai tanda syukur atas terkabulnya do’a dan kelahiran Yahya.

Maka menanti kehamilan bukanlah sebuah keniscayaan. Allah kadang tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi sesungguhnya Dia memberi apa yang kita butuhkan. Mungkin di saat menunggu kehamilan kita merasa sedih, kecewa dan terluka dan merasa betapa tidak adilnya Allah kepada kita –kita berlindung dari prasangka buruk tersebut. Yakinlah bahwa Dia sedang merajut yang terbaik untuk kita. Kita harus yakin, tak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah berkehendak. Bahkan wanita yang telah divonis mandul pun ternyata bisa melahirkan anak.

Berdo’a dan terus berusaha

Mungkin banyak diantara kita yang merasa sudah berdoa siang dan malam, ataupun berusaha maksimal. Namun sejauh ini semua usaha dan doa agar punya anak itu belum juga dikabulkan oleh-Nya. Sesungguhnya tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana doa seorang hamba akan dikabulkan, kecuali hanya Allah Ta’ala sendiri. Yang jelas ada yang dikabulkan segera, ada pula yang dikabulkan kemudian. Ada yang cepat, dan ada yang diakhirkan. Yang sepatutnya kita lakukan adalah selalu berprasangka baik pada Allah dalam setiap keadaan.

Seperti yang ditunjukkan dalam surat al Fatihah (yang artinya) : “ Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu jualah kami meminta pertolongan”. Pada bagian lain di dalam al-Qur’an, Allah berfirman (yang artinya) : “Berdoalah kalian kepada-Ku (Allah), niscaya akan Aku kabulkan”.

Diramu Dari berbagai sumber ( ZA )

—————————————————–
Sumber : Majalah Sedekah Plus edisi 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *