Ilustrasi Anas bin Nadhar Pahlawan Uhud

Anas bin Nadhar radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Anshar, paman dari Anas bin Malik. Beliau memeluk Islam setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Dan ia termasuk seorang yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Nadhar juga termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak meriwayatkan hadits.

Sumpah yang Diterima

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik, bahwasanya bibinya Rubai’ binti an-Nadhar (adik dari Anas bin Nadhar) mematahkan gigi seri seorang gadis. Dari keluarga Rubai’ meminta diyat dan maaf sedangkan keluarga gadis itu keberatan. Mereka pergi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi memerintahkan mereka untuk melaksanakan qishash. 

Anas bin an-Nadhar berkata, “Apakah harus dipatahkan gigi Rubai’ wahai Rasulullah? Tidak demi Allah yang telah mengutus Anda dengan benar, janganlah patahkan giginya.” 

Rasulullah bersabda, “Hai Anas, menurut kitabullah adalah qishash.” 

Akhirnya keluarga gadis merelakan dan memberi maaf. 

Maka Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba Allah ada orang yang jika bersumpah atas nama Allah, Allah menerimanya.”

Pahlawan Perang Uhud

Anas bin Nadhar tertinggal pada perang Badar, karena pada awalnya pasukan yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bermaksud mencegat kafilah dagang Quraisy. 

Anas sangat  menyesal dengan ketertinggalannya tersebut, sehingga ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya tidak ikut dalam permulaan perang melawan orang-orang musyrik. Sungguh, kalau Allah mengikutkan saya memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah akan mengetahui apa yang saya perbuat.”

Kemudian ia pun turut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud di tahun berikutnya (setelah Perang Badar). 

Dalam perang Uhud, ketika terjadi peristiwa genting, dimana kaum muslimin berbalik mengalami kekalahan, Anas bin Nadhar melewati beberapa orang sahabat yang kehilangan semangat karena mendengar kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat terbunuh. 

Mereka meletakkan senjatanya di tanah dengan wajah kelu penuh kesedihan. Melihat hal itu, Anas berkata, “Wahai kalian… Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah wafat terbunuh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhannya Muhammad tidak akan pernah mati, lalu apa yang bisa kalian kerjakan dalam hidup ini jika beliau telah wafat? Berperanglah kalian demi sesuatu yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang untuknya… dan matilah kalian demi sesuatu yang beliau wafat karenanya…”

Sesaat kemudian ia berdoa, “Ya Allah, aku memohonkan ampunan kepadaMu atas apa yang mereka (kaum muslimin) lakukan, dan aku berlepas diri dan berlindung kepadaMu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan!”

Setelah itu ia meloncat untuk meneruskan jihadnya. Ia sempat bertemu Sa’d bin Mu’adz yang bertanya kepadanya, “Mau kemana engkau, wahai Abu Umar?’

Anas berkata, “Wahai Sa’d, sungguh aku mencium bau surga di balik Bukit Uhud ini.”

 Anas bertempur dengan perkasa menerjang barisan musuh, jumlah mereka yang ratusan tidak membuatnya gentar, hingga akhirnya ia menemui syahidnya. Tak kurang dari delapan puluh luka mengkoyak-koyak tubuhnya, tusukan tombak, hunjaman anak panah dan luka sayatan pedang yang ada di wajah dan tubuhnya. Saking banyak luka di tubuhnya, jasadnya sulit dikenali. Hanya saudarinya, Rubai’, yang mengenalinya melalui ruas-ruas jarinya.

Dalam riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami memandang ayat ini turun tentang Anas bin an-Nadhar:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” [Quran Al-Ahzab: 23]

Semoga Allah meridhai beliau, sahabat yang mulia, Anas bin an-Nadhar radhiallahu ‘anhu.

Demikian artikel tentang Anas bin Nadhar ini. Anda juga dapat membaca artikel tentang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam lainnya di sini. Semoga bermanfaat!