LAZISWahdah.org, Makassar – LAZIS Wahdah tetap konsisten memberikan dukungannya kepada etnis pengungsi Rohingya yang berada di Makassar. Dalam pertemuan yang berlangsung di lantai VII Gedung Tower DPRD Sulsel, Jalan Urip Sumohardjo, Kota Makassar, Senin (25/2/2019), LAZIS Wahdah berharap Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk segera memberangkatkan imigran etnis Rohingya, Myanmar, ke negara tujuan pencari suaka. Perwakilan PBB dalam hal ini yang dimaksudkan adalah United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), sebuah badan yang dibentuk PBB untuk mengurusi para pengungsi kemanusiaan.

Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah yang hadir pada pertemuan tersebut membeberkan sejumlah fakta temuan atas kondisi etnis Rohingya di Rakhine. Ia menceritakan bahwa apa yang selama ini kita lihat di media massa benar adanya. Apalagi, selama ini, LAZIS Wahdah bersama sejumlah lembaga kemanusiaan dan ormas lainnya di Indonesia tetap memberikan dukungannya kepada etnis Rohingya.

“Jadi benar apa yang kita lihat itu. Saya pernah berkunjung langsung kesana dan Wahdah datang menyuplai sejumlah bantuan. Disana terjadi kejahatan genosida yang sangat keji. Sudah tidak manusiawi lagi. Dan mereka datang ke Makassar juga bukan atas kemauan mereka, akan tetapi karena adanya keterpaksaan. Ini soal nyawa manusia,” papar Syahruddin.

Syahruddin membandingkan, kondisi pengungsi rohingya di Indonesia dan di Malaysia. Katanya, di Malaysia para pengungsi diberi ruang khusus. Mereka bisa membangun sekolah sendiri, dimana dananya berasal dari lembaga-lembaga kemanusiaan. Bahkan diberi kesempatan kerja yang sama dengan pribumi, meskipun dibatasi dan sesuai dengan serapan tenaga kerja di negara tersebut.

Sementara itu, Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Kadir Halid, mengatakan adanya aspirasi pengungsi Rohingya yang sudah berkali-kali dibahas dan sekarang tidak pernah ada solusi konkret.

“Jadi, kami ingin mendengar langsung dari UNHCR kepastian para pengungsi Rohingya ini mendesak diberangkatkan segera ,” ujarnya.

Hadir sebagai pendamping Rohingya dalam audiens itu, di antaranya Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB), Forum Peduli Rohingya, Lazis Wahdah, serta Perkumpulan Persaudaraan Muslim Internasional.

Berdasarkan Forum Peduli Rohingya, jumlah imigran Rohingya di Makassar sebanyak 213 orang, 22 orang di antaranya telah menikah dengan warga lokal tanpa kejelasan hukum dari status pernikahan mereka. Mereka sudah ada yang tinggal sampai 11 tahun di Makassar.

Yance Tamaela selaku penanggungjawab UNHCR Makassar mengaku pihaknya terus melakukan lobi kepada negara pihak ketiga yang dapat menerima imigran Rohingya. Namun memang sampai sekarang belum ada konfirmasi kepastian.

Nurislam, perwakilan warga Rohingya Makassar memberi kesaksian bahwa selama ini mereka diperlakukan seperti tidak adil. Bahkan menurutnya, setiap ada agenda pemberangkatan, pihak Rohingya seperti sengaja tidak diberi tahu.

Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar, Boedi Prayitno, juga menyatakan keprihatinannya ketidakpastian agenda pemberangkatan imigran Rohingya.

Kendati ia memastikan akan terus menegakkan aturan kepada setiap imigran yang melakukan pelanggaran berdasarkan acuan Peratutan Presiden. (Perpres) Nomor 125.

“Saya lebih senang kalau mereka diberangkatkan, karena kalau di Makassar (tinggal), juga tentu ada dampak sosial,” tutur Boedi. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *