وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

‘Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik baginya. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat dan kepunyaan Allahlah segala warisan di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan’.” (Ali-’Imrân: 180)

Kisah berikut ini terdapat dalam sebuah riwayat Muhammad bin Yusuf Al-Farabi yang menceritakan, ”Suatu ketika aku bersama sekelompok temanku pergi mengunjungi Syekh Sinan—rahimahullâh. Ketika kami telah bertemu dan duduk bersamanya, tiba-tiba ia berkata, ’Mari kita mengunjungi tetanggaku yang saudaranya meninggal.’

Kami pun ikut pergi mengunjungi tetangganya itu. Ketika bertemu dengannya, kami dapatkan ia sedang menangis dan meratapi kematian saudaranya. Kami pun duduk dan berbicara kepadanya, ’Kematian itu sebuah jalan yang harus ditempuh.’

Ia berkata, ’Ya, aku bukan menangisi kematiannya tapi aku menangisi azab yang menimpa saudaraku pagi dan sore.’

Kami bertanya kepadanya, ’Apa Allah telah memperlihatkan yang ghaib kepadamu?’

Dia menjawab, ’Tidak, tapi setelah aku menguburkan saudaraku dan meratakan tanah atasnya, dan setelah orang-orang meninggalkan kuburannya, aku duduk di dekat kuburannya, dan tiba-tiba ada suara dari dalam kuburannya, ’Aduh…mereka meninggalkanku sendirian menanggung azab, dulu aku shalat dan puasa.’

Ia berkata lagi, ’Suaranya itu membuatku menangis. Aku pun menggali kuburannya untuk melihat keadaannya. Tiba-tiba dalam kuburannya itu ada nyala api dan di lehernya ada kalung dari api. Sebagai saudara saya pun merasa kasihan, hingga kujulurkan tanganku untuk melepaskan kalung api dari lehernya, sampai tangan dan jari-jemariku terbakar.’ Kemudian ia memperlihatkan tangannya pada kami, dan ternyata berwarna hitam bekas terbakar.

Dia berkata, ’Aku pun segera menimbun kembali tanah kuburannya dan pulang ke rumah. Bagaimana aku tidak menangis dan bersedih atas kondisi yang menimpanya?’

Kami lantas bertanya, ’Apa yang dikerjakan saudaramu sewaktu di dunia?’ Dia menjawab, ’Sewaktu hidup, ia tidak mau mengeluarkan zakat dari hartanya.’ Lalu kami mengatakan, ’Inilah bukti dari firman Allah, seperti disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 180 di atas.

Kisah di atas hanyalah satu satu bentuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan langsung kepada manusia. Harapannya bisa membawa pengaruh kepada kaum muslimin agar tidak bermain-main dalam urusan zakat. Wallahu a’lam bisshawab!.[]

 

Dikutip dari buku “Wanita Di Ambang Pintu Neraka” Penulis DR. Mustafa Murad, Penerbit Aqwam, Solo

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 54

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *