Agus Ahmad Chaerudin (35) memang hanya seorang office boy (OB). Tapi soal kejujuran jangan ditanya. Mungkin kita harus belajar dari ayah 3 anak yang bekerja di sebuah Bank Syariah swasta ini.

Di tengah maraknya kasus korupsi yang dilakukan para petinggi negeri ini, kejujuran yang dimilikinya sungguh luar biasa.

Suatu hari, di bulan Ramadhan lalu, dia menemukan uang Rp 100 juta di tempat sampah dekat teller. Tanpa pikir panjang, ia pun mengembalikan seluruh uang tersebut.

Saat ditemui detikcom di tempat dia bekerja di Bank Syariah di Kantor Cabang Pembantu, Kalimalang di Plaza Duta Permai, Jakasampurna, Bekasi, Agus menceritakan kisahnya.

“Saya menemukan uang 10 bundel pecahan Rp 100.000 di tempat sampah bawah teller. Masya Allah, apa itu!” ujar Agus.

Melihat uang itu Agus tak silap mata. Dia pun sama sekali tak menyentuh uang itu. “Saya langsung teriak memanggil satpam,” jelas Agus yang sudah bekerja 3 tahun di bank itu.

Agus yang bekerja sebagai karyawan koperasi Bank Syariah itu mengaku seluruh tubuhnya bergetar. Ia pun berteriak memanggil satpam. “Ini pak ada uang,” tuturnya.

Sebenarnya bisa saja dia mengambil uang yang tergeletak begitu saja di tempat sampah. Di bank itu pun hanya tinggal dia dan satpam. Tak ada yang tahu soal uang yang sudah terbuang itu.

“Itu bukan rezeki saya Mas, itu hak kantor. Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui.” kata pria bergaji Rp 2,2 juta ini perbulannya.

“Yang menjadi rezeki saya, apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, apa yang saya hirup itu rezeki saya,” jelas Agus yang bercerita sambil gemetar ini.

Uang Rp 100 juta yang ditemukan Agus itu bukan uang nasabah. Uang itu ternyata milik Bank yang tergeletak karena kekhilafan teller. Beruntung ada Agus yang menyelamatkan uang itu.

Agus, ayah 3 anak yang masih tinggal bersama mertua ini mengaku, orang tuanya selalu mengajarinya untuk tak menjadi pencuri. Kejujuran harus diutamakan. Orang tua Agus juga seorang pegawai rendahan di salah satu bank.

“Kisah yang saya kagumi Umar bin Khaththab,” terang Agus.

Agus mengaku pernah membaca kisah Umar bin Khaththab kala menjadi khalifah. Sahabat Nabi itu amat mengutamakan kesederhanaan dan kejujuran.

“Khalifah Umar bahkan hanya mempunya dua helai pakaian,” cerita Agus sambil menitikkan air mata.

Yang dia kagumi, bahkan Umar tak mau memakai fasilitas negara kala berbicara dengan anaknya. Agus menukilkan kisah Umar yang memadamkan lampu ketika berbincang dengan anaknya. Lampu dimatikan karena menggunakan uang negara, sedang berbicara dengan anak urusan pribadi.

Karena kejujurannya, Agus pun diberi hadiah Rp 1,75 juta dan piagam. “Saya tak mengharap hadiah, bekerja saja sudah alhamdulillah,” kata Agus yang dahulu pernah bekerja serabutan sebagai tukang parkir dan asongan ini.

Kejujuran adalah Mata Uang?

Kita sering mendengar ungkapan, kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Meskipun demikian, pengamalan kejujuran tak semudah diucapkan. Realitas yang ada di masyarakat seringkali tidak mengamini pernyataan itu.

Yang disepakati adalah bahwa jujur merupakan sifat yang terpuji, karena ia mendatangkan manfaat yang lebih langgeng. kejujuran seorang saksi dalam persidangan misalnya, ia akan membantu mengungkap perkara dan menyelesaikan persoalan dengan adil! 

Dr. Adian Husaini dalam salah satu kuliahnya menjelaskan kepada penulis tentang kedudukan jujur dalam pandangan Islam. Ia menjelaskan bahwa yang penting direnungkan terkait akhlak jujur adalah hakikatnya.

Menurut Dosen Pascasarjana ini, kita berusaha jujur bukan hanya karena jujur itu mendatangkan manfaat dan sebaliknya dusta mendatangkan kerugian bagi pelaku dan korbannya. Akan tetapi, kita harus jujur karena Allah dan rasul-Nya memerintahkan kita untuk itu. Ya, karena jujur adalah ibadah yang diperintahkan Allah.

Memang tidaklah kita dapati seorang yang jujur, kecuali orang lain senang dengannya, bahkan sportif memujinya. Baik teman maupun lawan. Mereka akan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Dalam nurani setiap orangtua, demikian juga para guru yang ikhlas, umumnya tentu mengharapkan agar anak-anak atau para peserta muridnya akan selalu berusaha menjadi orang-orang yang jujur dalam keseharian mereka. Menjadi pribadi hebat tentu saja menjadi harapan ideal para orangtua di seluruh Indonesia.

Namun demikian, di masyarakat ketidakjujuran seolah sesuatu yang biasa saja terjadi.  atau banyaknya kunci jawaban ujian yang tersebar di siswa, hingga terungkapnya sejumlah kasus korupsi yang terjadi di lembaga pemerintahan sudah mengindikasikan bahwa jujur itu semakin langka dan tidak laku sebagai “mata uang’ dalam kegiatan keseharian.

Beberapa Nasehat Jujur

Dalam beberapa ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At Taubah: 119).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

“Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Mari kita simak nasehat dari seorang yang diberi gelar abadi sebagai al Amin. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).” (Terjemahan HR. al-Bukhari).

Ustadz Abdullah Gymnastiar mengungkapkan bahwa, seringkali kita senang menilai orang lain jujur, akan tetapi jarang mempertanyakan kepada diri kita sendiri sejauhmana kejujuran diri kita. Kita senang melihat orang lain jujur, kita senang diperlakukan sebagai orang yang jujur, walaupun sebenarnya kita belum tentu jujur. Kita pun senang berkumpul dan berinteraksi dengan orang yang jujur, namun apakah kita sendiri sudah menjadi orang yang jujur lagi dapat dipercaya?!

Baca juga: Kejujuran Membawa Kemujuran

By: Faisal Mursila

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi