Artikel ini akan membahas tentang apakah berbohong demi kebaikan diperbolehkan dalam islam?. Baca artikel berikut selengkapnya!

Berbohong atau berdusta adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam. Kejujuran dan kebenaran menjadi nilai-nilai penting dalam Islam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk selalu berpegang teguh pada kejujuran dalam setiap aspek kehidupan.

Namun, ada beberapa kondisi tertentu di mana kebohongan diizinkan atau diberi keringanan untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. Hal ini terdapat dalam beberapa hadits yang diwariskan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, kebohongan bisa dianggap sebagai keringanan atau toleransi sebatas untuk mencapai kebaikan yang lebih besar atau mencegah kerugian yang lebih besar pula.

Salah satu kondisi di mana bohong diizinkan adalah dalam situasi peperangan. Ketika berada di medan perang, strategi dan taktik yang cerdas dapat menentukan kemenangan atau kekalahan. Dalam situasi seperti itu, kebohongan demi menyelamatkan pasukan atau membingungkan musuh bisa dianggap sebagai bentuk keringanan untuk mencapai kemenangan.

Selain itu, bohong juga bisa diwajibkan dalam upaya untuk mendamaikan pihak yang berselisih. Kadang-kadang, kejujuran mutlak bisa memperkeruh situasi dan membuat konflik semakin rumit. Dalam hal ini, kebohongan yang bertujuan untuk menyatukan hati dan membawa perdamaian dapat diterima sebagai bentuk keringanan untuk mencapai tujuan tersebut.

Tidak hanya itu, dalam hubungan suami-istri, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa dalam beberapa situasi tertentu, kebohongan bisa diizinkan untuk membawa kebaikan dalam rumah tangga. Misalnya, ketika ada hal-hal yang sensitif atau menyakitkan yang lebih baik disampaikan dengan lembut dan bijaksana, demi menjaga keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.

Namun, perlu diingat bahwa keringanan dalam kebohongan ini hanya berlaku dalam kondisi-kondisi khusus dan terbatas. Kejujuran tetap merupakan prinsip utama dalam Islam, dan berbohong demi kebaikan tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan kebohongan dalam situasi-situasi yang tidak mendesak atau tidak berhubungan dengan maslahat yang besar.

Sebagai umat Muslim, penting bagi kita untuk selalu berpegang pada nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Jika kita menemui situasi yang membutuhkan pertimbangan antara kebohongan demi kebaikan, sebaiknya berkonsultasi dengan orang yang lebih ahli atau seorang ulama agar keputusan yang diambil tetap sesuai dengan ajaran Islam dan mendekati ridha Allah SWT.

Dalam akhir tulisan ini, kita diajak untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang jujur dan berlaku jujur dalam setiap aspek kehidupan. Semoga dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kejujuran, kita dapat memperoleh keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup ini serta mendapatkan ridha Allah SWT. Wallahu a’lam.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi