Ilustrasi Habib Bin Zaid

Habib bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma lahir dan dibesarkan dalam sebuah rumah yang dipenuhi dengan keharuman iman, di tengah keluarga yang melambangkan pengorbanan sejati.

Cahaya iman menerangi hati Habib bin Zaid sejak usia dini, dan iman itu melekat kuat dalam dirinya. Allah telah menakdirkan dia, bersama dengan ibu, ayah, bibi, dan saudaranya, untuk melakukan perjalanan ke Makkah, bergabung dengan Kelompok 70 yang ingin bertemu dan berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menciptakan sejarah.

Habib bin Zaid, dengan tangan kecilnya, memberikan sumpah setia kepada Rasulullah pada malam Aqabah yang gelap gulita. Sejak saat itu, cintanya kepada Rasulullah melebihi cinta kepada orang tuanya sendiri, dan Islam menjadi lebih berharga baginya daripada nyawanya sendiri.

Meskipun Habib bin Zaid tidak berpartisipasi dalam Pertempuran Badar karena usianya yang masih muda, dan dia juga tidak bisa ikut dalam Pertempuran Uhud karena kekuatannya yang belum mencukupi untuk membawa senjata, namun setelah itu, dia selalu ada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia memegang tanggung jawab sebagai pemegang bendera perang yang dihormati.

Pada tahun kesembilan Hijriyah, Islam telah mengakar kuat di Jazirah Arab. Orang-orang dari berbagai wilayah Arab datang ke Yatsrib (Madinah) untuk bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memeluk Islam di hadapannya, dan berbaiat untuk taat dan setia.

Salah satu kelompok yang datang adalah rombongan Bani Hanifah dari Najd. Mereka meninggalkan unta-unta mereka di pinggir kota Madinah, yang dijaga oleh beberapa orang dari kelompok tersebut. Salah satu dari mereka yang bertugas menjaga unta-unta itu adalah Musailamah bin Habib Al-Hanafy. Sayangnya, setelah para utusan Bani Hanifah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memeluk Islam, Musailamah berpaling dari agama tersebut.

Dia mengumumkan dirinya sebagai seorang nabi dan rasul, mengklaim bahwa Allah telah mengutusnya untuk Bani Hanifah, sebagaimana Allah mengutus Muhammad bin Abdullah untuk kaum Quraisy. Meskipun kebenaran tetap ada dalam hati orang-orang Bani Hanifah, beberapa dari mereka, terutama karena fanatisme suku, memilih untuk mengikuti Musailamah.

Seorang pendukung Musailamah bahkan mengakui, “Muhammad benar, Musailamah salah. Tapi saya lebih suka kesalahan orang Rabi’ah (Musailamah) daripada kebenaran orang Mudhar (Muhammad).”

Ketika pengikut Musailamah semakin bertambah, dia mengirim surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengklaim dirinya sebagai sekutu dan membagi bumi menjadi dua bagian, satu bagian untuk Bani Hanifah dan satu bagian untuk kaum Quraisy, yang ia anggap telah melampaui batas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi surat tersebut dengan bijaksana.

Rasulullah membalas surat Musailamah sebagai berikut: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah pembohong. Keselamatan hanyalah bagi siapa yang mengikuti petunjuk (yang benar). Adapun sesudah itu… Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah, Dialah yang berhak mewariskannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendakinya. Kemenangan adalah bagi orang-orang yang takwa.”

Surat balasan Rasulullah dikirimkan kepada Musailamah melalui dua utusan. Namun, Musailamah semakin jahat dan berbahaya. Dia mengirim surat balasan yang mengancam Rasulullah, dan Rasulullah memutuskan untuk mengutus Habib bin Zaid untuk menyampaikan surat peringatan kepada Musailamah.

Habib, meskipun masih muda, penuh semangat dan tidak mengenal lelah saat membawa pesan dari Rasulullah. Dia akhirnya tiba di perkampungan Najd, dan dengan penuh keberanian, dia menyerahkan surat tersebut kepada Musailamah.

Saat membaca surat itu, Musailamah marah dan memerintahkan agar Habib ditangkap. Keesokan harinya, Habib dibawa ke hadapan Musailamah dalam keadaan terikat, dan dia berjalan tertatih-tatih karena beratnya belenggu yang dia kenakan.

Habib berdiri di tengah kerumunan orang-orang, dengan sikap kokoh dan tegas.

Musailamah bertanya padanya, “Apakah kamu mengakui Muhammad sebagai Rasulullah?”

Habib dengan tegas menjawab, “Ya, aku mengakui Muhammad adalah Rasulullah!”

Musailamah merasa marah dan bertanya lagi, “Apakah kamu mengakui bahwa aku adalah Rasulullah?”

Habib menjawab dengan tajam, “Sungguh, telingaku seperti tuli, aku tidak pernah mendengar yang seperti itu.”

Musailamah semakin marah dan memerintahkan algojo untuk memotong bagian tubuh Habib.

Setelah beberapa pertanyaan dan potongan tubuh, Habib tetap teguh dan mengakui Muhammad sebagai Rasulullah. Walaupun tubuhnya telah terpotong-potong, Habib tidak pernah menarik kembali pengakuannya.

Akhirnya, jiwa Habib bin Zaid pergi untuk bertemu dengan Tuhannya. Meskipun tubuhnya telah tercerai-berai, tetapi dia tetap setia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama Islam. Semoga Allah meridhai keteguhan hatinya dan memberikan tempat yang layak baginya di sisi-Nya.

Baca juga: Anas bin Nadhar, Kejujuran Janji Pahlawan Uhud