Artikel ini akan membahas sebab-sebab penghalang rezeki. Setidaknya ada tujuh penghalang rezeki yang akan dibahas satu per satu. Apa saja penghalang rezeki tersebut? Baca artikel berikut selengkapnya!
Ragam rezeki yang Allah Ta’ala anugrahkan pada makhluknya adalah karunia yang Dia jadikan sebagai objek ujian bagi mereka. Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dalam Al-Quran: “Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku; apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (Terjemahan QS An-Naml: 40).
Siapa yang bersyukur di antara mereka, maka Allah Ta’ala akan tambahkan keberkahan harta dan berikan pahala untuknya. Sebaliknya, siapa yang malah kufur dan tidak mensyukurinya, maka karunia tersebut tidak akan berkah, bahkan akan menjadi sebab kebinasaannya di akhirat kelak: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (karunia) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (karunia-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Terjemahan QS Ibrahim: 7)
Jadi, berlimpahnya rezeki sama sekali tidak menunjukkan adanya keberkahan dan tidak pula mendatangkan kebahagiaan bila tidak menjadikan pemiliknya bersyukur dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.
Sebaliknya, kekurangan rezeki pula tidak menunjukkan adanya kesengsaraan dan kesempitan bagi pemiliknya bila hal itu tidak sampai menggoyahkan keimanan dan meruntuhkan kesabaran dirinya dalam menghadapinya.
Bahkan kekurangan hidup yang membuat seorang mukmin tetap berpegang teguh dengan keimanan dan ketaatan, lebih baik dari pada berlimpahnya rezeki yang malah membuat dirinya kufur dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala.
Kekurangan rezeki atau hidup secara pas-pasan adalah sebuah hal biasa dalam kehidupan ini. Hanya saja, di sisi lain, kita juga harus bersikap realistis bahwa kekurangan rezeki yang begitu parah atau kefakiran adalah bentuk kesengsaraan.
Sebab itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selalu memohon perlindungan dari hal ini sebagaimana dalam doanya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan, kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu dari menzhalimi atau dizhalimi.” (HR Abu Daud: 1544, sahih).
Beliau berlindung dari kefakiran karena ia adalah di antara faktor adanya bencana dan keputusasaan para makhluk. Karenanya, mereka bisa membunuh, merampok, mencuri, menyebarkan zina, berjual beli yang haram, bahkan mereka bisa kafir dan murtad dari agama Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha agar menjauhi faktor atau sebab-sebab penghalang rezeki bagi dirinya agar ia tetap hidup berkecukupan meski tidak kaya, karena tolok ukur kebahagiaan itu terletak pada keberkahan rezeki bukan kadar jumlahnya.
Di antara sebab-sebab penghalang rezeki tersebut adalah:
Melalaikan Shalat
Menjaga shalat merupakan faktor utama adanya rezeki dan keberkahannya. Hal ini diisyaratkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (Terjemahan QS Thaha: 132)
Makna ayat ini adalah perintahkan keluargamu untuk menunaikan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya, dan Allah Ta’ala tidak meminta rezeki padamu, akan tetapi ia hanya memerintahkan padamu agar beribadah pada-Nya, adapun jaminan rezekimu maka itu semua bersumber dari Allah Ta’ala.
Dahulu Bakr Al-Muzani rahimahullah, bila keluarganya ditimpa kekurangan dan kesempitan hidup, maka beliau membaca ayat ini dan memerintahkan mereka: “Berdirilah kalian, lalu shalatlah.” (Lihat: Zaad Al-Masiir: 3/183).
Ayat ini juga menunjukkan bahwa melalaikan shalat akan menjadi penghalang rezeki. Hal ini membuat Allah Ta’ala tidak menjamin adanya rezeki pada pelakunya, bahkan ia akan ditimpa kekurangan, dan bila diberikan rezeki maka itu hanyalah dari segi kuantitas, tapi kualitas dan keberkahannya sama sekali tidak ada.
Menzhalimi Orang Lain
Kemudahan rezeki sangat erat kaitannya dengan perbuatan baik terhadap orang lain, sebagaimana dalam hadis: “Siapa yang memberi kemudahan orang yang kesulitan (hutang), maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan Akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selagi dia menolong saudaranya.” (HR Muslim: 2699).
Dari hadis ini kita bisa memahami bahwa memberikan kesulitan atau berbuat zalim terhadap orang lain apalagi seorang muslim adalah di antara faktor adanya kesusahan hidup dan kesulitan rezeki seorang hamba.
Di antara kezaliman tersebut adalah melakukan penipuan, riba, pengurangan takaran atau rimbangan, pencurian dan kezaliman lainnya.
Kezaliman inilah yang menjadi sebab penghalang kaum Yahudi dari mendapatkan keberkahan dan rezeki dari Allah: “Karena kezhaliman orang-orang yahudi maka kami haramkan pada mereka apa-apa yang baik dan dulu dihalalkan bagi mereka dan karena mereka menghalangi dari jalan Allah. Dan karena mereka melakukan riba padahal Allah telah melarang darinya dan mereka memakan makanan manusia dengan cara bathil.” (Terjemahan QS. An-Nisa: 160-161)
Dalam ayat lain juga disebutkan: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Terjemahan QS Al-Baqarah: 276)
Suka Bermaksiat dan Tidak Bertobat
Maksiat adalah faktor terbesar terhalangnya seorang hamba dari rezeki yang berkah lagi baik. Dalam hadis yang bermakna sahih meski masih diperselisihkan ulama kesahihannya disebutkan: “Sesungguhnya seseorang akan dihalangi dari rezeki dengan sebab dosa yang ia lakukan.” (HR Ibnu Majah: 4022)
Imam Ibnul-Qayim rahimahullah menegaskan: “Di antara hukuman maksiat adalah hilangnya keberkahan umur, rezeki, ilmu, amal dan ketaatan. Secara umum ia menghilangkan keberkahan agama dan dunia.” (Al-Jawab Al-Kafi: 83)
Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala: “Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Terjemahan QS Ath-Thalaq: 2-3).
Memutuskan Tali Silaturrahim dan Durhaka terhadap Kedua Orang Tua
Silaturrahim adalah faktor terbesar adanya kemudahan rezeki seorang hamba. Sebaliknya memutuskannya akan menghalangi datangnya rezeki bahkan akan mendatangkan laknat Allah Ta’ala.
Dalam salah satu motivasinya, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari: 5985 dan Muslim: 2557).
Di antara dosa paling besar sekaligus penghalang rezeki tersebut adalah mendurhakai kedua orangtua. Ini terbukti secara nyata dalam realita kehidupan kita, betapa banyak yang meraih kesuksesan dunia akhirat lantaran kebaktiannya terhadap kedua orang tuanya.
Sebaliknya, betapa banyak yang disusahkan dan disengsarakan oleh Allah dunia akhirat dengan faktor kedurhakaannya kepada kedua orang tuanya.
Kufur Nikmat
Hal ini secara jelas terdapat dalam ayat: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (karunia) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (karunia-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: “Di antara bentuk azab Allah atas mereka adalah menghilangkan karunia atau rezeki yang dianugrahkan pada mereka.” (Lihat: Tafsir As-Sa’di: 422).
Kufur nikmat adalah faktor kebinasaan sekaligus ketiadaan rezeki yang berkah. Dalam ayat Allah Ta’ala memperingatkan: “Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya (lantaran kufur terhadap anugrah Allah).” (QS Al-Qashash: 58)
Kikir Terhadap Harta
Orang yang dermawan akan dilapangkan rezekinya oleh Allah Ta’ala. Adapun orang kikir, maka akan disusahkan oleh Allah Ta’ala.
Dalam satu hadis disebutkan: “Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir.” (HR Bukhari: 1442 dan Muslim: 1010)
Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata: “Sifat tamak adalah tanda kefakiran, dan sifat kikir adalah pakaian kemiskinan, dan kekikiran itu adalah benih sifat ketamakan,” (Raudhah Al-‘Uqalaa’: 131).
Kurang Tawakkal kepada Allah
Dalam hadis shahih disebutkan: “Siapa yang ditimpa kefakiran atau kesusahan, lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan siapa yang mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” (HR Abu Daud: 1645, dan Tirmidzi: 2479 , hasan).
Tentang makna hadis ini, Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata: “Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya, dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” (Tuhfatul Ahwadzi, 6/111)
Sebaliknya, mengadukan kesusahan ini kepada Allah Ta’ala adalah bentuk tawakal dan kepasrahan kepadanya yang akan mendatangkan kemudahan rezeki, sebagaimana dalam hadis: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah Ta’ala dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki, sebagaimana seekor burung diberi rezeki; di mana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi: 2344 dan Ibnu Majah: 4164).
Ahli Maksiat Tapi Kaya?
Sering kali kita menyaksikan banyak orang kafir atau ahli maksiat memiliki kekayaan dan rezeki yang luar biasa. Namun, harta orang-orang seperti ini sama sekali bukanlah harta yang bisa menyelematkan mereka karena:
[1] Tidak memiliki keberkahan apapun. Harta tersebut mungkin saja membuat mereka bahagia dari segi lahir, tapi dari segi batin hal itu tidak memberikan mereka kebahagiaan yang ingin mereka raih. Dalam ayat disebutkan: “Dan siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Terjemahan QS Thaha: 124).
[2] Harta tersebut hanyalah berfungsi sebagai istidraj atau penambahan karunia yang hanya akan menjadi pemberat dosa dan siksaan mereka di akhirat kelak. Dalam hadis, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian beliau membaca firman Allah: “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44). (HR. Ahmad: 17349, sahih).
Semoga Allah Ta’ala memudahkan rezeki kita semua, dan menjauhkan kita dari berbagai hal yang bisa menghalangi turunnya rahmat dan karunia-Nya. Aamiin.
Demikianlah artikel tentang sebab penghalang rezeki ini. Anda juga dapat membaca artikel lainnya terkait Al-Qur’an.
Oleh: Maulana La Eda, Lc., MA.
(Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)