Artikel ini akan membahas terkait apakah boleh berqurban dalam keadaan berutang menurut syaikhul islam Ibnu Taimiyyah. Baca artikel berikut selengkapnya!

Pada zaman modern ini, perayaan Idul Adha merupakan momen yang dinanti-nanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Idul Adha adalah waktu di mana umat Islam merayakan kisah nabi Ibrahim dan Ishak serta berqurban sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Namun, terkadang dalam keadaan tertentu, seseorang mungkin mengalami kesulitan keuangan dan terpaksa harus mencari cara alternatif untuk bisa berqurban.

Dalam hal ini, muncul pertanyaan apakah seseorang boleh berqurban dalam keadaan berutang? Pertanyaan ini pernah diajukan kepada ulama besar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang menjawab dengan bijaksana dan penuh pemahaman.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya mengenai masalah ini, dan beliau menjawab dengan kalimat yang singkat namun penuh makna:

“الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالميْنَ إِنْ كَانَ لَهُ وَفَاءٌ فَاسْتَدَانَ مَا يُضَحِّي بِهِ فَحَسَنٌ وَلاَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ” “Alhamdulillah rabbil ‘alamin. Jika orang tersebut punya kemampuan untuk melunasi, maka ia bisa mencari utang untuk bisa berqurban, itu baik. Namun hal ini tidaklah wajib baginya untuk melakukan seperti itu. Wallahu a’lam.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 26:305)

Dalam jawabannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa jika seseorang memiliki kemampuan untuk melunasi utang, maka boleh saja mencari utang untuk berqurban. Artinya, jika seseorang yakin utangnya akan bisa dibayar lunas dari gaji atau pendapatan yang akan diterima di akhir bulan, maka boleh untuk mengambil utang guna berqurban.

Namun, sangat penting untuk diingat bahwa berqurban dengan berutang bukanlah suatu keharusan menurut pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Berqurban adalah ibadah yang memiliki hubungan erat dengan kemampuan finansial seseorang. Jika seseorang tidak mampu secara finansial untuk berqurban tanpa berutang, maka hal tersebut tidak wajib baginya.

Pandangan ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan kestabilan finansial umatnya. Islam mengajarkan untuk bertanggung jawab dalam menjalankan ibadah, termasuk dalam berqurban. Jangan sampai berqurban menjadi beban finansial yang berlebihan dan mengorbankan kestabilan keuangan seseorang.

Selain itu, jika seseorang ingin berqurban namun merasa keuangan sedang tidak mencukupi, ada baiknya untuk berupaya menabung atau menyisihkan sebagian uang dari pengeluaran rutin untuk persiapan berqurban di masa mendatang. Ini akan membantu menghindari beban utang dan membuat proses berqurban menjadi lebih bermakna dan ikhlas.

Dalam melakukan berqurban, penting juga untuk tetap mengedepankan niat yang tulus dan ikhlas karena Allah semata. Qurban merupakan bentuk ibadah yang mendalamkan rasa syukur dan ketaqwaan kepada Allah. Oleh karena itu, niat yang tulus dalam berqurban akan membawa keberkahan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan demikian, pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang berqurban dalam keadaan berutang mengajarkan pentingnya bijaksana dalam mengatur keuangan dan menjalankan ibadah. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua untuk lebih memahami hukum berqurban dan menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan dan kondisi keuangan yang dimiliki. Wallahu a’lam.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi