RTSYTH2-layout-comp

LAZISWahdah.com – Jumlah remaja putri yang sangat sedikit di antara para pengungsi memperlihatkan bahwa pemerkosaan digunakan sebagai sebuah senjata perang di Rakhine.

Di kamp-kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh, kita hampir tidak menemukan remaja putri. Kebanyakan yang berhasil mengungsi adalah anak-anak perempuan di bawah usia 10 atau 12 tahun, atau wanita dewasa yang memiliki anak-anak.

Kesaksian dari beberapa orang yang selamat bisa memberikan beberapa petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi dengan para remaja putri tersebut.

“Mereka membunuh anak laki-laki ku, memotong-motongnya dihadapanku, dan memperkosa secara beramai-ramai anak perempuanku. Kemudian mereka membuangku keluar dari rumahku dan membakar anak perempuanku hidup-hidup,” kata Rahima Begum, seorang pengungsi di Nayapara, Cox’s Bazar Selatan.

Dia berbicara dengan raut wajah dingin. Dia memiliki anggota keluarga yang banyak, dan sembilan anggota keluarganya berhasil melarikan diri dari rumah mereka di Hajipara di wilayah Maungdaw, Rakhine.

“mereka memasuki rumahku di mana saya sedang berbicara dengan anak perempuanku Sabekunnahar dan anak laki-lakiku Rahmatullah,  dua anakku yang paling muda, “ kata Rahima, menceritakan serangan yang dilakukan tentara-tentara Myanmar dan beberapa penduduk laki-laki Rakhine di rumahnya 20 hari yang lalu.

Para tentara dan para penduduk laki-laki Rakhine mulai membakar rumah-rumah lainnya di sekeliling halaman.

“Mereka menendang anak saya Rahmatullah keluar dari rumahku. Salah satu anakku berhasil melarikan diri bersama suamiku yang sedang sakit, anak laki-lakiku yang lebih tua berhasil melarikan diri bersama istrinya, anak laki-lakinya, dan salah satu anak kembarnya, tapi kembarannya dibakar hidup-hidup. Mereka menembak mati anak laki-lakiku yang lain Hamid” kata Rahima.

“Saya memohon kepada mereka agar anak perempuanku yang 18 tahun tidak diapa-apakan. Dua di antara mereka menahan anak perempuanku, yang lainnya memukuliku. Saya menangis menahan kepedihan melihat anakku diperkosa beramai-ramai” kata Rahima.

“mereka menelanjanginya, memukulnya dan memperkosanya. Mereka berenam dan ketika salah satu dari mereka akan memperkosa putriku, yang lainnya menyemangatinya”.

Suara Rahima menjadi tidak karuan, dan rupanya air matanya mulai tak terbendung.

Setelah mengambil nafas yang dalam, dia mengatakan: “Mereka membuangku keluar dari rumah dan membakar putriku hidup-hidup di hadapanku.

“Anakku sangat cantik. Saya tidak bisa menyelamatkannya dari mereka, mereka membakarnya dalam kobaran api. Saya tidak mendengarnya berteriak, mungkin dia sudah pasrah” kata Rahima.

Perwakilan khusus PBB terkait Kejahatan Seksual dalam Konflik Pramila Patten mengatakan pekan ini dia “sangat prihatin” tentang operasi keamanan di wilayah Rakhine, Myanmar.

 

Kejahatan seksual dideskripsikan oleh orang-orang yang berhasil selamat sebagai “upaya yang disengaja untuk meneror dan memaksa populasi yang ditarget untuk melarikan diri”.

Desa Tulatoli, dekat perbatasan Bangladesh sebelah timur, salah satu tempat dengan korban pembunuhan masal terparah pada operasi militer di desa-desa Rohingya.

Nurul Hakim merupakan salah satu diantara sekitar 20 orang yang sangat beruntung telah selamat dari pembunuhan masal tersebut. Dia mengatakan bahwa para tentara telah memilih remaja-remaja yang cantik dan membunuh mereka.

“Mereka mengambil gadis-gadis cantik dari desa kami berusia sekitar 12 sampai 20 tahun, kemudian mereka disiksa dan diperkosa oleh para tentara dan orang-orang Rakhine” kata dia.

Seorang wartawan bertemu dengan seorang remaja putri 16 tahun di kamp kesehatan pengungsi di Kutupalong. Dia mengatakan dia berasal dari Buthidung. Ketika ditanya apakah ia juga telah diperkosa, awalnya dia menyangkal. Kemudian dia mulai menangis.

“Saya pernah diberitahukan bahwa jika ada orang tahu bahwa saya telah diperkosa beramai-ramai, tidak ada orang yang akan menikahiku dan hidupku akan hancur. Apa yang harus saya lakukan? Ini bukan salahku dan saya tidak melakukan kesalahan apapun,” ungkapnya.

Tentara-tentara memilihnya, bersama dengan gadis-gadis lain dan mereka dipaksa melucuti pakaiannya di ujung laras senapan.

Dia mengatakan : “Ketika saya mencoba kabur dengan perempuan lainnya di desaku, mereka menemukanku dan memilih sekitar 20 remaja putri. Mereka menyuruh kami untuk telanjang di depan semua orang saat mereka mengancam kami dengan senjata dan kami melakukannya.

“Mereka menyuruh kami berlutut dan memperkosa kami satu per satu. Mereka memperkosa kami di hadapan semua penduduk. Kemudian mereka mulai menembak. Saya berhasil kabur dan berlari menyelamatkan diri.

Setidaknya ada dua sampai tiga orang yang memperkosa para gadis tersebut, katanya.

Dia berjalan selama 12 hari menuju Bangladesh tanpa makanan.

Nur Ayesha, yang sedang hamil 6 bulan, menyaksikan kakak perempuannya diperkosa dan dibunuh. Dia dari Maungdaw.

“Sekelompok pria Rakhine datang ke rumah kami di sore hari. Kami sedang bersantai. Mereka meminta air. Ketika kakak perempuan saya berdiri untuk mengambil air mereka mengambil anaknya yang berusia satu tahun dan membuangnya ke kolam” katanya.

“Kemudian mereka menyuruhnya untuk membuka pakaiannya di hadapan semua orang dan masuk ke dalam rumah. Tujuh di antara mereka masuk ke dalam rumah dan memperkosanya dengan brutal. Tapi mereka tidak membunuhnya karena hari mulai gelap, jadi dia selamat”.

Sepupu Nur Ayesha, yang berusia 12 tahun, juga diperkosa dan dalam perawatan di Kutupalong.

Tim medis dari Doctors Without Borders (MSF) sejauh ini telah menangani 23 korban pemerkosaan, menurut Arun Jegan, coordinator proyek MSF tanggap darurat.

Rendahnya jumlah korban yang melakukan perawatan tidak menjadi indikasi berapa yang sebenarnya yang diperkosa. Pegawai klinik yang dijalankan oleh UNHCR di kamp pengungsian Leda, mengatakan bahwa ada korban pemerkosaan di antara pengungsi yang datang Oktober tahun lalu dan melapor beberapa bulan kemudian.

Mereka menyakini bahwa banyak perempuan yang belum mengaku.

Seorang Gadis 12 tahun ditemukan sedang mengantri makanan untuk pengungsi di Kutupalong. Gadis tersebut memiliki luka yang belum kering pada lehernya.

Dia mengatakan dia ditangkap oleh penduduk laki-laki Rakhine di Pansi, Buthidaung.

Sepertinya dia belum paham bagaimana pemerkosaan itu. Dia mengatakan mereka melukainya.

“Mereka menangkap saya waktu melarikan diri. Mereka melukaiku dan mengikat leherku dengan tali. Mereka memegang satu ujung talinya dan memutarku seperti kipas angin. Setelah itu saya tidak mengingat apa-apa.

Dia telah mengira dia mati. Ketika dia membuka matanya dia mulai berlari ke Bangladesh. Setelah delapan hari berlari, sendirian dan kelaparan, dia berenang menyeberangi sungai Naf untuk mencapai Bangladesh.[]

Tinggalkan Balasan