Ilustrasi kewajiban shalat

Artikel ini akan menguraikan kewajiban shalat bagi orang setiap muslim. Hal-hal yang menyebabkan seorang muslim wajib/tidak wajib shalat juga akan dibahas kemudian.

Shalat secara bahasa berarti “doa untuk kebaikan”. Allah Ta’ala berfirman, 

(خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  ١٠٣)

Artinya:

“Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. at-Taubah: 103). 

Shalat secara istilah berarti perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat tertentu. Ibadah ini dinamakan “shalat” karena ia memuat doa. Penamaan tersebut masuk kategori majaz ithlaqul juz’ wa iradatul kul (menyebutkan sebagian namun yang dimaksud adalah keseluruhan). 

Lalu bagaimanakah kewajiban shalat? Apa dalil dan bagaimana penetapannya?

Kewajiban shalat ditetapkan pada malam Isra’, sekitar lima tahun sebelum hijrah. Demikian menurut pendapat masyhur dalam kitab sirah. Dalam hadis al-Sahihain dijelaskan bahwa “Allah telah mewajibkan umatku pada malam isra lima puluh Shalat, tapi aku terus menerus kembali dan memohon keringanan kepada Allah sehingga menjadi lima waktu dalam sehari.” 

Hukum shalat adalah fardu ‘ain bagi setiap muslim yang telah mukallaf (baligh dan berakal) dan suci, berdasarkan beberapa ayat, di antaranya, 

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ: ٤٣

Artinya:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. al-Baqarah: 43). Maksudnya, jagalah kewajiban shalat. 

Kewajiban shalat dijelaskan dalam beberapa hadis, diantaranya hadis Muttafaq ‘alaih dari Ibnu Umar, “Islam itu dibangun atas lima hal, yakni: tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya, mendirikan Shalat…” Ijma’ ulama juga menyatakan kefardhuan shalat. 

Ilustrasi kewajiban shalat
Ilustrasi kewajiban shalat. Sumber istockphoto.com

Orang kafir yang masuk Islam tidak wajib mengqada’ shalat, agar mencintai Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah, 

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِن يَنتَهُواْ يُغۡفَرۡ لَهُم مَّا قَدۡ سَلَفَ وَإِن يَعُودُواْ فَقَدۡ مَضَتۡ سُنَّتُ ٱلۡأَوَّلِينَ  ٣٨

Artinya:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”. (QS. al-Anfal: 38) 

Dalam sebuah hadis, “Islam melebur perbuatan yang dilakukan sebelumnya”, kecuali orang murtad. Orang murtad yang memeluk Islam wajib mengqada’ seluruh kewajiban yang ditinggalkan, sebagai pemberat baginya agar tidak murtad lagi. 

Anak kecil tidak wajib mengqada’ shalat yang ditinggalkan, karena tidak dikenai taklif, meskipun shalatnya sah. Demikian halnya wanita haid dan wanita yang sedang nifas, sebab dalam kondisi tersebut mereka justru diperintahkan untuk meninggalkan shalat. Orang gila yang tidak murtad dan orang yang kehilangan kesadarannya juga tidak wajib mengqada’ shalat kecuali orang yang mabuk secara sengaja. 

Wali (ayah, kakek, orang yang berwasiat, atau pihak tertentu) dan tuan (pemilik budak) wajib memerintahkan anak kecil yang sudah mumayyiz, telah genap berumur tujuh tahun untuk melaksanakan shalat.

Jika mereka meninggalkan shalat dan telah berumur sepuluh tahun, wali wajib memukulnya jika itu memberikan manfaat. Sebuah hadis sahih menyebutkan, “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat jika mereka berumur sepuluh tahun.” Perintah shalat kepada anak yang belum baligh bertujuan untuk berlatih sejak dini.

Ketika penghalang taklif tersebut hilang, misalnya anak laki-laki atau perempuan telah memasuki usia baligh, orang gila atau orang tidak sadar (sebab ayan) telah sembuh, orang kafir masuk Islam, wanita haid atau nifas telah suci sebelum habis waktu shalat (yang kira-kira cukup untuk melakukan takbiratul ihram), maka dia wajib mengqada’ shalat dengan syarat kondisi tersebut memiliki waktu minimal cukup untuk bersuci dan shalat. 

Orang tersebut juga wajib mengqada’ shalat sebelumnya yang dapat dijamak asalkan kondisi tersebut (hilangnya penghalang taklif) minimal cukup untuk mengerjakan dua shalat fardhu dan bersuci. Maksudnya, dia tetap dalam keadaan dikenai taklif yang cukup untuk mengerjakan shalat yang paling singkat seperti dua rakaat bagi musafir yang mengqashar shalat. 

Apabila orang yang telah baligh tiba-tiba menderita sakit jiwa, haid, nifas, atau terserang ayan pada permulaan waktu shalat, dia wajib menqada’ jika telah berlalu waktu yang cukup untuk shalat fardu berikut bersuci jika dia tidak mendahulukannya, seperti tayamum dan bersuci bagi orang beser. Karena dia mengalami waktu yang cukup untuk shalat, maka dia tidak digugurkan oleh sesuatu yang terjadi setelahnya. 

Tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengakhirkan shalat dari waktunya, kecuali karena tertidur, lupa, atau untuk menjama’ shalat dalam perjalanan. Shalat fardhu ada lima, yaitu: 1. Fajar (Subuh), dua rakaat 2. Zuhur, empat rakaat 3. Asar empat rakaat 4. Magrib, tiga rakaat; dan 5. Isya, empat rakaat. 

Shalat fardu dapat dilaksanakan sepanjang waktu yang telah ditentukan. Shalat pada akhir waktu hukumnya sah, karena Allah berfirman, 

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا  ١٠٣

Artinya: 

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Demikian artikel tentang kewajiban shalat ini. Anda juga dapat membaca artikel lainnya tentang fiqh shalat untuk meningkatkan kualitas shalat Anda.