441880

LAZISWahdah.com  -Hari ini -dengan begitu banyak fitnah akhir zaman- hati-hati yang murni semakin sulit dikenali. Hati yang tulus dari tujuan dunia dan segala kepentingannya. Kerendahan hati semakin sulit terlihat, ditutupi popularitas. Manusia sibuk mencari perhatian, sibuk menggandakan kekayaan benda yang melekat. Membuatnya lalai dengan urusan kebaikan hatinya sendiri.

Dan sesungguhnya seseorang yang mengerjakan amalan penduduk surga –menurut pandangan manusia- namun dia menjadi penduduk  neraka” kata Nabi. Sebaliknya pula, ada seseorang mengerjakan amalan penduduk neraka –menurut pandangan manusia- namun dia menjadi penghuni surga. Imam Bukhari menambahkan lafadz, dan sesungguhnya amalan-amalan bergantung akhir penutupnya. Bergantung dari kebaikan hatinya, rahasia bathiniiyah-nya. Tidak sebatas apa-apa yang nampak saja.

Manusia tidak dibekali kemampuan membaca isi dalam setiap hati. Orang bisa saja terlihat baik di hadapan manusia, tapi kita tidak tahu bagaimana dalam hatinya. Setiap kita adalah ruangan, dimana sisi luar paling mudah dilihat. Orang lain tidak tahu rahasia terdalamnya. Kita yang lebih tahu tentang diri sendiri, sekalipun punya alasan-alasan menutupinya. Agar tidak terlihat.

Kita yang lebih tahu terhadap rahasia-rahasia hati yang tersimpan rapi. Rahasia-rahasia yang kelak akan menjadi saksi. “Pada hari dinampakkan segala rahasia”. Hari dimana segala rahasia akan diperlihatkan. Amalan setiap hamba bertingkat-tingkat. Dua orang melakukan ibadah yang sama. Shalat pada shaf yang sama, pada waktu yang sama. Namun nilai dan keutamaan di sisi Rabbnya antara langit dan bumi. Sebagaimana kebaikan hatinya. Bergantung dari keikhlasan niatnya, kedalaman cinta dan pengagungan kepadaNya.

Pada hari dimana segala rahasia akan terungkap. Perbedaan dari segala perpecahan ummat adalah kembali pada keadaan masing-masing qolbu-nya. Terhadap apa yang disembunyikannya. Dari kerusakan niat, kematian hati.

Seseorang bisa saja berlindung di balik kopiahnya, di balik kata-katanya, pembelaannya. Disangka mengusung kebenaran, kenyataannya tidak. Hanya pembelaan-pembelaan yang menjual agamanya. Hanya ceramah-ceramah dramatis yang akan menjadi corong kemunafikan.

Pada hari dimana segala rahasia akan dipertanggungjawabkan. Dari apa-apa yang disembunyikan dalam hati. Muara dimana keimanan, kekufuran dan sifat munafiq ditancapkan. Hari dimana harta dan anak-anak tidaklah bermanfaat. Kecuali yang menemui Rabbnya dengan qolbun salim.

Menjadi kenyataan

Ketika kebaikan hanya dinilai dari apa-apa yang terlihat oleh kasat mata. Entah karena sibuk membangun branding di mata manusia, membuat lupa terhadap brand equity di sisi Sang Pencipta. Ketika status sosial, kekayaan materi, tingkat pendidikan, menjadi pencetak nama sementara adab dan akhlak terhenti di kertas ujian.

Al-Qosim Ibnu Muhammad berbagi pengalaman bersafar bersama Abdullah Ibnu Mubarak. “Apa gerangan yang membuat orang ini begitu disegani di tengah-tengah manusia, membuatnya lebih utama. Jika dengan jumlah rakaat shalatnya, kami juga shalat. Jika dengan panjang hari puasanya, kami juga berpuasa. Berjihad, berhaji, kami juga melakukan yang sama?” dalam hati dia bertanya-tanya.

Pertanyaan itu terjawab di suatu malam. “Waktu itu kami singgah makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu penerangan padam seketika. Gelap gulita, kami tidak bisa melihat dengan terang. Salah satu diantara kami segera mencari penerangan beberapa saat”. Ada kejadian langka, sederhana tapi bermakna setelah lampu menyala.

“Ketika kami sudah bisa melihat satu sama lain. Aku melihat wajah Abdullah Ibnu Mubarak, matanya berkaca-kaca, turun membasahi jenggotnya” lanjutnya. Dalam keadaan seperti ini, saat-saat manusia –kebanyakan- sibuk mencari penerangan, ada pula sampai mencela keadaan. Adalah waktu bagi Abdullah Ibnu Mubarak lebih merenungi hari kemudian.

Inilah rahasia akan keutamaan orang ini. Boleh jadi pada saat gelap tadi, dia teringat akan gelapnya hari kiamat.” Keutamaan diantara manusia dengan lainnya hanyalah alkhasyah, rasa takutnya kepada Rabbnya. Kebaikan hatinya.

Jangan menjadi wali Allah di tengah keramaian namun menjadi musuh di saat kesepian” kata Bilal Ibnu Sa’ad. Urusan hati adalah sesuatu yang tidak terlihat. Jalan yang sunyi, sebab hanya mengharapkan balasan dari Allah semata.

Keutamaan setiap manusia terbuat dari kebaikan hatinya. Fudhail Ibnu ‘Iyadh mengatakan, “Keutamaan Abu Bakar As-shiddiq bukanlah sebab shalatnya, puasanya. Namun sesuatu yang tertancap dalam hatinya, dalam jiwanya. Dari keyakinan dan keimanan yang paling jujur”. Kebaikan hatinya. Dia yang pertamakali ‘membenarkan’ Nabi disaat orang-orang tidak percaya.

Segala kebaikan lahir dari niat yang suci. Hanya mengharap ridha ilahi. Aqidah yang lurus, bersih dari kesyirikan, riya, ujub dan berbagai penyakit hati. Menyatakan tindakan sesuai niatnya. Kemudian membangun ruang-ruang bagi tumbuhnya segala kebaikan. Semua itu tidak akan tegak kecuali dengan iman. Kebaikan hati.

Seseorang akan diuji dengan niatnya sampai dia mengamalkan. Kehidupan tidak semudah alur cerita dalam novel-novel. Tidak seindah yang dibicarakan dalam buku-buku roman. Bersyukur terhadap yang kita jalani, menjadi kenyataan hari ini.

Segala niat baik akan menumbuhkan kebaikan lainnya. Membangun kebaikan hati tidak dilakukan dalam sehari semalam. Berlangsung dari tempaan ujian waktu. Mungkin akan menguras air mata, banjir keringat, terasing di mata kaum sendiri.

Setiap kita adalah kekosongan. Kekosongan yang saling mengisi dengan yang lain. Saling berbagi, saling menyempurnakan, saling menasehati, memotivasi, berpadu pencapaian visi. Surga.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *