Ilustrasi peran ulama jawi di mekkah

Artikel ini akan membahas tentang peran ulama Jawi di Mekkah pada abad 19. Ulama-ulama ini kemudian berkontribusi terhadap dunia intelektual dan antikolonialisme di Nusantara.

Siapa saja tokoh-tokoh ulama dan bagaimana perannya? Baca sejarahnya pada artikel berikut!

Pada awal abad ke-14 traveller muslim asal Maroko, Ibnu Bathuthah, singgah di sebuah negeri yang disebutnya Jawa. Negeri tersebut telah terdapat kesultanan Islam yaitu Kesultanan Samudera Pasai yang dipimpin oleh seorang sultan. 

Saat Ibnu Bathuthah berkunjung, sultan yang menjabat adalah Sultan Malik Azh-Zhahir. Dalam memoarnya, Ibnu Bathuthah menuturkan bahwa sang sultan bermadzhab Syafi’i, sering bertukar pendapat dengan para fuqaha (ulama) dan senang berjihad.(Ibnu Bathuthah, 2012: 601)

Negeri kita, Nusantara, dahulu dikenal oleh orang-orang Arab dengan sebutan Jawa. Dan penduduknya disebut Jawi (orang-orang Jawa) meski bukan berasal dari suku Jawa.

Kata “Jawa” ini, pada abad ke-19, juga disematkan kepada para penuntut ilmu (thalib al-‘ilm) dari Nusantara yang belajar di kota suci, Makkah Al-Mukarramah, untuk menyebut komunitas mereka: Ashhab Al-Jawiyyin, komunitas orang-orang Jawa.

Pada masa itu, minat umat Islam di Nusantara untuk menunaikan rukun Islam yang kelima mulai meningkat seiring pemahaman mereka yang sudah sangat baik tentang kewajiban berhaji ke Baitullah dan didukung pula oleh sarana transportasi laut yang maju. Di samping itu, orang yang berhaji akan mendapatkan status yang tinggi di mata masyarakat selepas pulang dari Tanah Suci.

Bagi sebagian orang, khususnya mereka yang menimba ilmu di pesantren, berhaji menjadi cara mereka untuk bisa mendalami ilmu agama (thalab al-‘ilm). Olehnya, sehabis melaksanakan haji, para thalib al-‘ilm tersebut tidak langsung kembali ke Nusantara, melainkan menetap dulu di Mekkah beberapa waktu untuk belajar dari ulama-ulama besar di Mekkah.

Seorang remaja kelahiran Banten berusia sekitar 15 tahun adalah salah satu santri yang belajar di Mekkah selepas menunaikan ibadah haji tahun 1830. Ia ikut berhaji bersama sang ayah yang merupakan ulama di kampungnya. Setelah melaksanakan haji, remaja tersebut memilih tinggal di Mekkah untuk mempelajari ilmu agama selama tiga tahun. Ia sempat pulang kampung, namun kembali lagi ke Mekkah dan menetap di sana sampai akhir hayat. Remaja Banten ini kemudian menjadi ulama besar di Mekkah, merupakan tokoh dan guru besar dalam Komunitas Jawa (Ashhab Al-Jawiyyin). Dia adalah Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Syaikh Nawawi Al-Bantani memiliki keilmuan yang luas sehingga diberi gelar Sayyid ‘Ulama Al-Hijaz. Kitab-kitab yang ditulisnya dalam bahasa Arab dipelajari oleh santri-santri pondok pesantren di Nusantara. Di antara yang masyhur adalah Tafsir Al-Munir, Kasyifah As-Saja dalam bidang fiqih, dan Nashaih Al-‘Ibad yang berisi ratusan hikmah. Karyanya yang lain, Tijan Ad-Darari, dicetak pertama kali di Kairo pada 1883 dan dicetak ulang beberapa kali. (Burhanuddin, 2012: 137)

Selain Syaikh Nawawi, ulama Nusantara lainnya yang paling dikenal di Mekkah saat itu adalah Ahmad Khatib dari Minangkabau. Sebagaimana Syaikh Nawawi, Ahmad Khatib juga belajar ke Mekkah setelah diajak sang ayah -yang juga seorang ulama- berhaji di usia 11 tahun. Setelah belajar lama dari para ulama Mekkah, Ahmad Khatib menjadi ulama besar di sana. Kelak ia dijadikan menantu oleh seorang saudagar Mekkah bernama Syaikh Shalih Al-Kurdi. (Burhanuddin: 38)

Kedua tokoh tersebut, meski menetap di Mekkah, memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi Nusantara yang kala itu masih berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda. Pemikiran-pemikiran dan karya tulis mereka memberi kontribusi yang besar terhadap dunia intelektual di Nusantara serta menumbuhkan semangat jihad  dan anti kolonialisme.

Para thalib al-‘ilm tidak jarang meminta fatwa kepada guru-guru mereka di Mekkah terkait persoalan agama dan sosial yang terjadi di Nusantara. Dengan begitu,para ulama Jawi di Mekkah tetap memiliki pengetahuan dan kontrol terhadap kondisi umat Islam di Nusantara. 

Mencetak Ulama dan Tokoh Kemerdekaan

Baik Syaikh Nawawi Al-Bantani maupun Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, menjadi rujukan para thalib al-‘ilm dari Nusantara yang belajar di Mekkah. Mereka memiliki halaqah di Masjidil Haram khusus untuk mengajarkan ilmu kepada para thalib al-‘ilm. Keduanya mengkader murid-murid yang kelak menjadi tokoh penting di Nusantara. 

Di antara murid-murid Syaikh Nawawi dan Syaikh Ahmad Khatib adalah Muhammad Khalil dari Bangkalan, Hasyim Asy’ari dari Jombang, Ahmad Dahlan dari Yogyakarta, dan Abdul Karim Amrullah dari Maninjau. Murid-murid dari dua ulama ini menjadi kiyai (ulama) yang mencetak banyak ulama dan tokoh pejuang Nusantara.    

KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan mungkin murid yang paling terkenal. Kedua tokoh ini tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan tapi juga mendirikan organisasi Islam yang menampung serta mampu menyatukan para tokoh intelektual Islam.

KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul ‘Ulama (NU) pada 31 Januari 1926. Sedangkan KH Ahmad Dahlan telah mendirikan Muhammadiyah jauh sebelum NU berdiri, yakni pada 18 November 1912. NU dan Muhammadiyah menjadi dua organisasi Islam tertua dan terbesar di Nusantara. 

Nama terakhir, Abdul Malik Karim Amrullah, merupakan pendiri Sekolah Sumatera Thawalib sekaligus ayah dari ulama besar yang menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, Buya Hamka. Salah satu alumni terkenal dari Sumatera Thawalib adalah Imam Zarkasyi pendiri Pondok Pesantren Gontor. (Djaelani, 2016: 109)

Pentingnya Ulama di Tengah Umat

Hadirnya para ulama di tengah umat bukan hanya mampu mencerdaskan umat, tapi juga mampu membangkitkan semangat jihad dan spirit nasionalisme. Hati umat menjadi tenang mendengar nasihat-nasihat ulama. Di sisi lain, umat juga bisa terbakar semangatnya jika diberi semangat oleh para ulama untuk berjihad.

Soekarno, presiden pertama Indonesia, memahami betul peran ulama di tengah umat. Tidak heran jika di tengah kesibukannya dalam bidang politik beliau menyempatkan mendekati para ulama. (Suryanegara, 2017: 143). Yang paling diingat mungkin ketika Soekarno mengirim utusan untuk menemui KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang, pada 22 Oktober 1945. 

Presiden Soekarno meminta nasihat kepada sang ulama sekaligus meminta fatwa jihad untuk menghadapi penjajah Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang menduduki Surabaya. Resolusi jihadi digemakan. Puncaknya pada 10 November 1945 pertempuran dahsyat pecah. Para ulama menggerakkan santri-santri memimpin pertempuran melawan penjajah. Peristiwa yang hari ini dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Demikianlah artikel tentang peran ulama Jawi di Mekkah pada abad 19. Anda juga dapat membaca artikel lainnya terkait sejarah islam.

Oleh: Mahardy Purnama