Suatu waktu Abdullah bin Abbas atas perintah Khalifah Utsman bin Affan memimpin rombongan haji dari Medinah ke Makkah. Di tengah perjalanan, rombongan ini mendapat masalah kekurangan makanan. Bekal makanan yang mereka bawa tidak mencukupi apabila perjalanan mereka teruskan. Terpaksa kafilah ini berhenti di tengah perjalanan untuk mencari bahan makanan.

Pemimpin rombongan, Abdullah bin Abbas, memerintahkan agar segera mendirikan kemah, sementara beberapa orang disuruh pergi mencari bahan makanan apa saja yang dapat dimakan di desa itu. Mereka yang ditugaskan mencari bahan makanan menjumpai sebauh gubuk yang dihuni seorang perempuan tua yang saat itu kebetulan sedang duduk di depan rumahnya.

Sambil mendekati perempuan tua itu dan mereka bertanya, “Ibu, dapatkah ibu menolong kami yang sedang kesulitan bahan makanan? Kami benar-benar sangat membutuhkan bantuan ibu agar mau menjual bahan makanan kepada kami dan kami akan membayar seperti yang ibu kehendaki.”

“Maaf, saya tidak dapat menjual bahan makanan apa pun kepada Tuan-Tuan, sebab yang ada pada saya sekarang ini hanya cukup untuk kami bertiga, saya dan kedua anak laki-laki saya.”

Mendengar jawaban perempuan tua itu, petugas yang diutus Abdullah bin Abbas itu langsung bertanya, “Di manakah anak-anak Ibu?”

Perempuan tua itu menerangkan, bahwa anaknya sedang pergi ke hutan.

“Apakah yang ibu masak untuk mereka makan sekembalinya dari hutan?”

“Saya membuatkan untuk mereka sepotong roti yang besar.”

“Selain itu, ibu memasak apa lagi untuk mereka?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, juallah roti itu separuhnya kepada kami, kami akan membayar kepada ibu dengan harga yang tinggi.”

Mendengar ucapan utusan itu, perempuan tua itu langsung berdiri dari duduknya dan mengambil roti itu seraya berkata, “Jangan Tuan-Tuan mengira bahwa saya perempuan tua yang begitu hina untuk menjual sebagian roti ini dengan harga yang tinggi. Padahal roti ini hanya cukup untuk kami bertiga. Tetapi kalau Tuan-Tuan benar-benar dalam kesusahan, baiklah, ambil saja roti ini dan tak perlu Tuan-Tuan bayar harganya.”

Akhirnya, si perempuan tua memberikan seluruh roti itu kepada utusan Abdullah bin Abbas yang sedang membutuhkan bahan makanan. Setelah mengucapkan terima kasih, pulang-lah para utusan itu dengan perasaan puas karena mendapat hasil yang baik.

Sesampainya di perkemahan, para utusan tadi langsung menemui pimpinan rombongan dan menceritakan tentang perempuan tua dengan rotinya yang baru saja mereka temui. Mendengar cerita utusan itu, Abdullah bin Abbas sangat kagum dan langsung memerintahkan utusan tadi untuk pergi kembali ke gubuk perempuan tua itu dan memanggilnya. Abdullah bin Abbas ingin berkenalan dengan perempuan tua yang baik hati itu.

Para utusan itu pun segera melaksanakan perintah pimpinan mereka. Sesampainya para utusan Abdullah bin Abbas di gubuk perempuan tua itu, mereka memberi salam dan menyampaikan keinginan pimpinan mereka untuk dapat bertemu dengan ibu yang telah menyerahkan roti itu.

Awalnya perempuan tua itu menolak, tapi Karena terus didesak akhirnya ia pun ikut untuk menemui Abdullah bin Abbas.

Terjadilah dialog antara Abdullah bin Abbas dengan perempuan tua itu.

“Bagaimana keadaan ibu sekarang.”

“Alhamdulillah, baik-baik saja. Untuk makan, kami setiap hari dapat membakar roti. Dan untuk minum, ada air yang bersih mengalir di sungai dekat hutan tempat tinggal kami. Kami senantiasa menjaga agar daerah kami terlepas dari mara bahaya. Kami selalu bersyukur dapat hidup tenang dan damai.”

Mendengar uraian perempuan tua itu, Abdullah bin Abbas merasa kagum dalam hatinya. “Bukankah ibu yang telah berbaik hati menolong kami dengan memberikan roti itu?”

Mendengar ucapan pimpinan rombongan yang memujinya, perempuan tua itu langsung menjawab, “Kalau itu yang hendak Tuan katakan, kiranya tak perlu tuan memanggil saya datang kemari. Saya tidak memerlukan suatu pujian apa pun!”

Abdullah bin Abbas kembali melanjutkan, “Kebaikan ibu sungguh tak terbalas. Bukankah dengan ibu menolong kami, anak-anak ibu harus menanggung lapar?”

“Rupanya soal itu juga yang Tuan ulangi, malu saya mendengar soal sepotong roti yang terus-menerus dibicarakan. Tuan adalah pemimpin agung. Saya ingin Tuan berbicara sesuatu yang lebih berarti untuk didengar.”

Abdullah bin Abbas mohon maaf kepada ibu itu dengan mengatakan, “Baiklah, saya tidak akan mengulanginya lagi. Tetapi dengan apakah saya dapat membalas budi baik ibu se-bagai tanda terima kasih kami?”

“Cukuplah kiranya keperluan saya telah terpenuhi!” jawab wanita tua itu dengan tegas.

Abdullah bin Abbas akhirnya mendesak perempuan tua ini agar mau menerima hadiahnya sambil mengucapkan, “Izinkanlah saya memberikan suatu tanda mata sebagai rasa terima kasih kami kepada Ibu. Apakah yang sangat Ibu perlukan?”

“Tuan, masih banyak orang yang lebih miskin dan melarat dari saya. Merekalah yang lebih patut dan sangat memerlukan bantuan dan pemberian Tuan. Sedang kami sendiri kiranya sudah cukup,” jawab perempuan tua itu.

“Ibu, mereka saya pikirkan juga. Dan terhadap Ibu sendiri, rasanya hati saya belum puas jika Ibu menolak menerima tanda terima kasih dari kami atas perlakuan budi baik Ibu kepada kami yang musafir ini,” kata Abdullah bin Abbas.

Perempuan tua itu enggan dan berkeras hati untuk tidak menerima pemberian dari Abdullah bin Abbas yang menyerahkan empat puluh ekor unta dan sepuluh ribu dirham kepadanya. Namun karena didesak terus-menerus, akhirnya perempuan tua itu mau juga menerima pemberian pemimpin rombongan dengan terharu.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 48

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *