Ilustrasi tata cara tayammum untuk orang yang diperban

Artikel ini akan membahas tentang cara shalat dan tayammum orang yang diperban.

Kain perban biasanya digunakan karena ada luka, bagian tubuh yang patah, atau anggota tubuh yang terluka yang sulit untuk dibalut. Jika kain perban dapat dilepaskan ketika bersuci tanpa menimbulkan bahaya, maka wajiblah melepaskan kain perban tersebut dan membasuh anggota yang sakit bila hal itu memungkinkan.

Akan tetapi bila hal itu tidak memungkinkan, maka solusinya adalah tayammum bila anggota tubuh yang terluka itu ada pada sekitar wajah atau kedua tangan serta tetap membasuh sisa anggota tubuh yang masih sehat.

Bila tidak memungkinkan melepas kain perban karena akan menimbulkan bahaya, maka tidak dapat dipaksa untuk melepaskannya. Orang tersebut wajib membasuh anggota tubuh yang sehat dan mengusap kain perban yang membalut anggota tubuh yang sakit dengan air.

Gambar tangan yang diperban
Gambar tangan yang diperban. Sumber: umma.id

Dapat juga bertayammum dengan membasuh atau mengusap bagian yang sakit, menurut pendapat yang ashah, seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Jika orang yang menggunakan kain perban itu bertayamum untuk satu kali shalat, dua atau tiga kali shalat, dan setelah itu belum berhadas, maka tidak perlu mengulangi basuhan anggota tubuh yang dibasuh atau mengusap anggota tubuh yang diusap.

Selain itu, bagi orang yang berhadats tidak perlu mengulangi basuhan anggota tubuh yang dibasuh selain anggota tubuh yang diperban. Menurut pendapat yang ashah, orang junub atau orang yang hadats hanya perlu mengulangi tayammumnya saja.

Kesimpulannya, orang yang mengenakan kain perban, maka boleh mengusap anggota tubuh yang dibalut dengan perban, bertayammum dan shalat serta tidak wajib mengqada’ shalat bila ketika meletakkan perban dalam keadaan suci, dan wajib mengqada’ shalat jika meletakkan perban dalam keadaan berhadas.

Demikianlah artikel tentang tata cara tayammum bagi orang yang diperban. Anda juga dapat membaca artikel lainnya yang berkaitan dengan fiqh.