Ilustrasi tradisi ulama

Sering kita jumpai. Kalo lagi datang ke pengajian ustadz A, pembahasan ilmu haditsnya begitu dalam sampai kagum padanya, “Saya mau jadi seperti dia.” Kemudian mendapati lagi Ustadz B dengan ilmu fikih yang luas lantas mengatakan, “Saya juga mau kayak Ustadz B.” Sampai ortu juga kadang mendoktrin, “Nak, kalau besar nanti, jadi seperti Ustadz A, B saja yah.”

Ironis, kalo cuma mengimpikan seperti Ustadz A, B dan C. Kenapa nggak ada diantara kamu mau jadi seperti Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqolaniy, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam as-Syaafi’i dan ulama besar lainnya.

Kenapa nggak ada yang mau seperti Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah? Beliau itu kalo lagi jelasin about hadits, benar-benar mendalam. Kayak nggak tahu kecuali ilmu hadits saja. Sama kalau menerangkan tafsir al-Qur’an. Seakan nggak ada yang beliau tahu kecuali ilmu tafsir!

Nah gimana caranya seperti mereka, sementara telah tiada di dunia ini?     

Ketika kamu membaca tarjamah, menelaah biografi, saat itu pula seolah kamu sedang hidup bersama mereka. Imam Malik rahimahullah pernah bilang, “Membaca tarjamah para salaf lebih akui sukai daripada belajar satu bab ilmu fikih.” Lho kenapa lebih suka baca riwayat hidup orang sholeh daripada belajar ilmu fikih. Padahal beliau Imam madzhab, ahli fikih.

Yup, kalo kamu baca biografi orang-orang sholeh terdahulu, kamu tidak sekedar dapat ilmunya, pun akhlaknya, adabnya, juga bagaimana seharusnya menjalani hidup.

Banyak Membaca

Kamu nggak bisa disebut penuntut ilmu sejati, sampai bukumu lebih berharga daripada pakaianmu. Coba periksa dalam kamarmu, banyakin mana pakaian atau buku? Konon, ada seorang ditegur lantaran bukunya dijadikan sebagai pengalas duduk demi bajunya tidak kotor terkena debu. “Apakah bukumu tidak lebih berharga daripada pakaianmu!”

Abul Hasan Al-Qathfi Al-Halabi ketika masih jadi menteri, selalu berusaha beli buku dari berbagai penjuru negeri. Para penulis dan penjual kitab datang berbondong-bondong menawarkan padanya. Saking cintanya pada buku, tak peduli berapa biaya pengeluaran sampai memiliki perpustakaan tak tertandingi. 

Kitabnya diwariskan untuk An-Nashir, Raja Halb senilai 50.000 dinar. (perhitungannya lima juta riyal dikali  @Rp.2.500, maka harga kitabnya sekitar Rp 12.5 Milyar!). Juga, Al-Hafidz Abul ‘Alaa a-Hamadzaaniy menjual rumahnya seharga 60 dinar sekedar keperluan membeli kitab-kitab Ibnul Jawaaliiqy. 

Kita tuh kadang mikir-mikir dulu kalo mau beli buku, tapi nggak tanggung-tanggung belanja pakaian. Menurut Al-Jahidz, orang yang belanjanya buat beli buku tidak lebih nikmat daripada belanjanya pecinta biduan dan penggila bangunan, maka ia tidak akan sampai pada tingkat ilmu yang memuaskan.

Ibrahim Al-Harbi pernah ditanya, “Bagaimana Anda mampu mengumpulkan buku-buku ini?” Ia menjawab, “Aku mengumpulkan buku-buku ini dengan daging dan darahku! Dengan daging dan darahku!”  Jika saja buat ngumpulin buku dengan daging dan darah. Apakah ia rela dengan saran istrinya, “Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau kita gadaikan saja.”

Arti buku buat mereka layaknya saudara sekaligus penolong. Kala ditimpa kesempitan, mereka tetap bersabar dengan kelaparan, tidak memiliki pakaian dan kemiskinan. Namun, mereka akan bersedih jika terpaksa menjual dan berpisah dengan bukunya.

Tapi sobat sekalian, mereka tuh nggak hanya hoby numpukin buku di lemari. Toh apa gunanya rak lemari penuh buku tetapi nggak ada tamat dibaca. Bisa-bisa buku itu jadi hujjah buat pemiliknya. Ibarat unta memikul buku. Memberatkan tapi tidak memberi manfaat sedikitpun. 

Al-Hasan al-Lu’lu-i selama 40 tahun nggak tidur kecuali ada kitab di atas dadanya. Kalau kita HP yang stand by di tempat tidur, iya kan?. Al-Hafidz al-Khothib, dalam perjalanan selalu bersamanya kitab yang dibaca, demikian juga Abu Nu’aim al-Asbahaany (penulis kitab Hilyatul Awliyaa’). Ibnul Jauzy  sepanjang hidupnya udah baca lebih dari 20.000 jilid kitab. Kita? Buku pelajaran mungkin belum selesai dibaca, udah naik kelas.

Sebuah ungkapan hikmah mengatakan, “Membaca satu buku sebanyak tiga kali lebih baik daripada membaca tiga buku sekali.”

Al-Khothib al-Baghdady membaca Shahih al-Bukhari dalam 3 majelis ( 3 malam), setiap malam mulai ba’da Maghrib hingga Subuh. Shahih al-Bukhari terdiri dari 7008 hadits, sehingga rata-rata dalam satu kali majelis (satu malam) dibaca 2336 hadits. Kalo menurut Ibnu Basykuwal, Abu Bakr bin Athiyyah mengulang-ulang membaca kitab Shahih Bukhari sampai 700 kali.”

Setiap kali pengulangan selalu ada faidah. Al-Muzani berkata, “Aku telah membaca kitab ar-Risalah, karya asy-Syafi’i sejak 50 tahun lalu. Setiap kali membaca, aku menemukan faidah yang tidak ditemukan sebelumnya.” 

Kita juga nggak sesibuk Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Bani rahimahullah. Namun beliau masih sempat membaca minimal enam jam sehari di perpustakaan. Beliau ke Perpus azh-Zhahiriyyah di Damaskus sebelum pegawai datang, pulang setelah pegawainya pergi. Apa hasilnya? Dari membaca itulah ia mempunyai ilmu yang luas nan mendalam.  Pun saat kantuk menyerang justru melawan dengan membaca buku. Ibnul Jahm berkata, “Apabila kantuk menyerangku pada selain waktu tidur, maka saya segera mengambil kitab hikmah, lalu saya mendapati hatiku berbunga-bunga kegirangan ketika mendapatkan ilmu.” Subhanallah! Kita tuh justru milih membaca buat pengantar cepat tidur!

Bertukar Pikiran

Tradisi kedua adalah berdiskusi. Sebab bisa jadi apa yang kita baca dengan pemahaman orang lain berbeda. Atau nggak sesuai yang diinginkan penulisnya. 

“Barangsiapa yang gurunya adalah bukunya. Maka salahnya lebih banyak daripada benarnya.” #KataHikmah

Ketika kamu berdiskusi saat itu pula bertambah ilmu. Ada saja faedah yang kita dapat dari orang lain.  Mungkin ada yang kita tidak tahu tapi dipahami orang lain atau sebaliknya. Kita nggak mungkin mengetahui segala yang tidak diketahui orang lain. Tetapi kita bisa mengetahui yang kita nggak tahu lewat orang lain.

Seperti Syaikh Ihsan Ilahi Zhahi selalu membuntuti gurunya di luar kelas. Duduk bersamanya di pelataran kampus, lalu bertanya tentang permasalahan hadits, kaidah-kaidahnya, perawi-perawinya, dan berdiskusi bersama Syaikh al-Albani tentang masalah lainnya.

Yah kalo lagi ngumpul sama teman-teman jangan cuma cerita tak berujung. Usahakan apa yang kita diskusikan ada faedah, menanyakan hal pelajaran atau kondisi perkembangan kaum muslimin. Ibrahim An-Nakha’i pernah menceritakan, “Sungguh terkadang malam terasa sangat panjang bagiku, maka aku menemui teman-temanku kemudian aku ajak mereka mengulang pelajaran.”

Sama juga Qodhi Abu Yusuf, murid Abu Hanifah nggak mau menyia-nyiakan waktunya. Sekalipun beliau sakit beliau masih sempat berdiskusi tentang masalah agama dengan orang yang menjenguknya.

Hidup ini ibaratnya naik sepeda. Kalau kamu berhenti mengayuh, pasti akan jatuh. Gimana biar nggak jatuh? Bergerak! Kalau cuma tinggal diam tanpa melakukan perubahan, kamu pasti ketinggalan. Imam as-Syaafi’i mengatakan, “Air jika tidak mengalir akan membusuk.” Orang yang tidak pernah mengasah otak, pergerakan ototnya. Hanya akan menjadi susah bahkan berkarat.

Sepeda bergerak hanya dan jika ada pergerakan pula. Terkadang  gigi-gigi rantai harus saling bergesek untuk menghasilkan gerakan. Terkadang kita harus bergesekan pikiran untuk menghasilkan ide yang kreatif. Bertukar pendapat dan diskusi merupakan cara menggesek pikiran. Orang yang merasa cukup dengan ilmunya tanpa belajar dari orang lain tidak akan berkembang. Menerima dan membuka pikiran akan memacu seorang berkembang ke depan.

Mengikat Ilmu

Ayat terpanjang dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah nggak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” 

Kalo saja urusan mu’amalah jual-beli Allah perintah kita untuk menulis, gimana lagi dengan ilmu?

Al-Khatib al-Bagdadi dalam karyanya Sayyidul Khotir mengaku, “Orang yang mengambil manfaat dari bukuku lebih banyak daripada yang mendengarkan ceramahku.” Padahal jika beliau ceramah, orang yang kafir akan tergugah hatinya hingga mendapatkan hidayah. Berapa banyak sudah orang yang mendapatkan hidayah hanya gara-gara mendengarkan ceramahnya. 

Namun demikian beliau masih menganggap jauh lebih banyak yang mengambil faedah dari karya tulisannya. Hingga hari ini orang-orang masih terus membaca karyanya. 

Ibnul Jauzi menulis dalam sehari empat buah buku tulis. Setiap tahun karyanya dicetak sebanyak 50-60 jilid. Sepanjang hidupnya sudah ada 2000 jilid kitabnya.  Jika diperkirakan setiap jilidnya ada 100 lembar. Sehingga tulisannya kurang lebih 200.000 lembar atau 400.000 halaman. 

Pun saat tertimpa penyakit. Sehingga semua jari-jemarinya harus dipotong tidak mematahkan semangat menggoyangkan pena seraya memegangi dengan kakinya. Demikianlah hari-hari Imam al-Baihaqi masih bisa menulis  kurang lebih sepuluh lembar. “Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya,” kata as-Sam’ani.

Imam Bukhari dalam semalam setidaknya bangun sampai puluhan kali, buat apa? Menulis ilmu yang baru saja lewat dalam pikirannya. Jadi mereka kalo mau tidur nggak dilewatkan hanya buat menghayal. Bahkan menjelang ajal sekalipun mereka masih tetap meminta pena dan tinta sekedar menuliskan ilmu. 

Gimana jadinya sekiranya al-Qur’an nggak ditulis? 

Allah berkehendak menjaga ilmu dengan tulisan sebagaimana menjaga firmannya dengan tulisan (mushaf). “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Al Hakim dalam Al-Mustadrak).

Pekerjaan keabadian

Kamu kenal yang mana, Hasan al-Banna atau Abu Ya’la, Imam Abu Zur’ah atau Imam Bukhari? Imam Malik atau Al-Laitsi Ibnu Sa’ad? Kenapa Kartini lebih dikenang daripada Dewi Sartika `atau Rohana Kudus?

Hasan al-Banna, Imam Bukhari menulis. Mereka tidak hanya berjuang saja, tetapi pikiran ide mereka disalurkan lewat tulisan. Padahal masing dua tokoh tadi se-zaman. Tetapi ada saja yang lebih menonjol daripada yang lain. Kartini diangkat jadi Pahlawan wanita, padahal mungkin di sana masih banyak pejuang wanita lebih berdarah-darah di medan tempur. Kartini menulis.

Begitupun Imam Malik sama-sama ulama fiqh dengan Al-Laitsi Ibnu Sa’ad. Imam as- Syaafi’i pernah mengatakan, “Al-Laitsi lebih Faqih daripada Imam Malik, kecuali karena murid-muridnya telah menyia-nyiakannya (tidak menuliskan ilmunya, sebagaimana muridnya Imam Malik.” 

Bisa saja dua tokoh hidup se-zaman, tetapi yang lainnya tetap dikenang. Mereka mengerjakan apa yang tidak dikerjakan lainnya. Permikiran, ide, gagasan, cita-cita mereka senantiasa diwariskan melalui tulisan. Kalaupun mereka nggak pernah nulis buku langsung, muridnya yang nulis. 

Siapa diantara kamu yang pernah hadir ikut pengajiannya Imam Bukhari, Imam Muslim dan ulama lainnya? Trus darimana kenal mereka? Gimana yah sekiranya Imam Bukhari nggak menulis kitab Shahih-nya. Darimana kita bisa belajar membedakan hadits shahih maupun hadits palsu?

Imam Bukhari memang telah tiada di dunia ini. Namun saat kita membaca Kitabnya, “Berkata Imam Bukhari rahimuhullah…” saat itupula seolah beliau masih hidup di dunia ini.  

Ketika kamu menulis, saat itupula kamu sedang mengabadikan dirimu. Ada dua hal yang membuat seseorang tetap dikenang oleh zaman. Pertama ketika ia menulis. Kedua orang lain yang menuliskannya. Tetapi hal ini butuh perjuangan karena kamu harus memiliki karya yang cukup besar.

Harta yang kamu wariskan mungkin sampai keturunan ke tujuh udah habis. Tapi ilmu yang kamu wariskan melalui tulisan itulah yang abadi. Nggak ada warisan paling berharga selain ilmu. Sesuatu yang abadi dari seseorang adalah tulisannya.

Satu kata, satu kalimat dan satu tulisan bisa jadi menginspirasi orang lain. Kamu mungkin udah meninggal, pahala tetap mengalir. Alangkah beruntungnya, sekiranya seseorang setelah membaca tulisan kamu dia sadar untuk rajin shalat, berhijab dan menjalankan sunnah. Udah berapa pahala yang mengalir ke kantong amalmu.

Mengapa kamu nggak menyalurkan pemikiran-pemikiran itu jika memang bisa menginspirasi orang lain. As-Sya’bi  mengatakan, “Apabila kamu mendengar sesuatu (faedah ilmu yang bermanfaat), maka tulislah sekalipun di tembok.”

Kalo ada yang nanya sama kamu, “Dimana kuburannya orang-orang besar?” Bukan di taman makam Pahlawan. Kasi tau, “Dihati dan lisan para manusia!” Menulis adalah pekerjaan keabadian. Menulislah anda akan abadi. 

Tinta yang kau taburkan pada buku mungkin se-umuran kertas. Sungguh! Kata yang kau lekatkan pada hati se-usia dengan zaman.” 

Oleh Muhammad Scilta Riska