tuntunan ringkas idul fitri dan idul adha


wiz.or.id 
– Hukum shalat ‘idul fitri dan ‘idul adha adalah wajib kifayah. Dalilnya Ayat yang artinya: “Maka dirikanlah shalat (‘idul adha/fitri) karena Rabb-mu dan berqurbanlah.” (QS Al Kautsar: 2).

Perintah dalam ayat ini bukan wajib ‘ain, karena shalat ‘idul fitri atau ‘idul adha tidak ada adzan untuknya, juga karena khutbahnya tidak wajib didengar seperti halnya shalat dan khutbah jum’at.

Awal waktu shalat ‘idul fitri/adha adalah awal waktu dhuha, yaitu ketika matahari naik setinggi tombak, sekitar 10 – 15 menit setelah terbitnya matahari. Adapun tempatnya maka disunatkan dilakukan di tanah lapang dengan dalil bahwa meskipun shalat dalam Masjid Nabawi sangat utama.

Namun Nabi shallallahu’alaihi wasallam tetap melaksanakan shalat ‘idul fitri/adha di tanah lapang sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyalllahu’anhu: “Adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam shalat ‘idul fitri dan adha keluar (melaksanakan shalat id) ditanah lapang, hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat (id)”. (HR. Bukhari & Muslim).

Takbir merupakan amalan paling utama dipenghujung Ramadhan (ketika matahari terbenam) dan malam hari raya, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata dalam hadits riwayat Ibnu Jarir, artinya: “Sudah merupakan keharusan bagi kaum muslimin bila mereka telah melihat hilal syawal untuk bertakbir hingga mereka selesai shalat ‘id (keesokan harinya)”. (Al-Tharifi).

Terdapat beberapa lafadz takbir dari para sahabat, dan yang populer adalah dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Allaahu akbaru 2x, Laailaahaillallaah, Wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahilhamdu”. (HR. Baihaqi, shahih).

Ada beberapa adab dan sunah menuju shalat ied yang telah dijelaskan di artikel terpisah.

Tidak ada shalat sunat sebelum shalat ‘id ataupun setelahnya. Ibnu Abbas berkata: “Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam shalat idul fitri 2 rakaat, beliau tidak shalat apapun sebelum dan setelahnya”. (HR. Bukhari). Namun bila shalat ‘idnya di dalam masjid, maka disunatkan untuk shalat tahiyatul masjid tatkala masuk masjid.

Shalat ‘idul fitri/adha tidak memiliki adzan dan iqamah, karena Rasulullah tidak pernah memerintahkannya sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: “Tidak ada adzan untuk shalat ‘idul fitri dan juga ‘idul adha”.

Hanya diharuskan adanya pengumuman dari imam atau naibnya untuk segera memulai pelaksanaan shalat ‘idul fitri.

Tata Cara Shalat Idul Fitri dan Idul Adha (2 Rakaat):

  1. Shalat ied dimulai dengan takbiratul ihram, kemudian membaca doa iftitah.
  2. Setelah itu bertakbir sebanyak 7 kali.
  3. Setelah takbir ke 7, imam mambaca Al-Fatihah dan satu surat.
    Disunatkan membaca surat Qaaf pada rakaat pertama, dan surat Al-Qamar pada rakaat kedua (HR. Muslim), kalau kepanjangan dan memang demikian, maka membaca surat Al-A’la pada rakaat pertama, dan Al-Ghasyiah pada rakaat kedua (HR. Muslim).
  4. Pada rakaat kedua setelah takbir untuk naik kerakaat kedua dan setelah berdiri tegak, hendaknya bertakbir sebanyak 5 kali dengan cara yang sama dengan tatacara takbir 7 kali pada rakaat pertama, bedanya takbir hanya 5 kali. Setelah itu membaca surat Al-Qamar atau Al-A’la sebagaimana telah lewat pembahasannya.
  5. Setelah shalat ‘id, disunatkan untuk tetap berada ditempat shalat untuk mendengar khutbah ‘idul fitri, jika ada hal yang darurat atau hajat penting maka boleh hukumnya meninggalkan tempat shalat

Khutbah Ied

Para ulama berbeda pendapat apakah khutbah ‘id ini satu kali khutbah atau dua kali.

JUMHUR ULAMA menyatakan harus dua khutbah sebagai bentuk qiyas / penyamaan dengan khutbah jumat.

Namun hadits riwayat Ibnu Majah yang menyatakan bahwa khutbah ‘id dua kali maka hadisnya dhaif. Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim tentang khutbah Nabi shallallahu’alaihi wasallam pada hari ‘id mengisyaratkan bahwa beliau cuma melakukan khutbah idul fitri satu kali, bukan dua kali, sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa khutbah ‘id adalah satu kali saja. Sebab itu kita dibebaskan: Mau mengambil pendapat yang manapun semuanya bisa insyaaAllah, tapi usahakan tidak menyelisihi kebiasaan khutbah yang dipraktekkan dimasyarakat kita agar tidak menimbulkan kegaduhan, kecuali bila mereka sudah paham dengan hal ini.

Ucapan Selamat di Hari Idul Fitri dan Idul Adha

Telah diriwayatkan dari Said bin Jubair dengan sanad hasan bahwa sebagian para sahabat mengucapkan selamat dan doa kepada orang-orang yang ditemui pada hari raya ‘id, semisal ucapan: Taqabbalallaahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal shalih kami dan kalian). Ucapan selamat ini merupakan hal yang baik dengan lafaz atau ucapan apapun asal merupakan ucapan yang baik-baik dan dalam bentuk doa. (lihat: Al-Fath: 2/517).

Al-Tharifi hafidzhahullah berkata: “Yang terdapat dalam hadits dan atsar bahwa ucapan selamat hari raya dilakukan pada hari raya, akan tetapi tidak ada larangan untuk mengucapkannya sebelum hari H-nya, bila ucapan selamat ini dimulai seseorang dari sejak malam hari raya, atau pagi harinya sebelum shalat, maka sangat baik.

Apakah harus mengangkat kedua tangan setiap takbir?

Mengangkat tangan atau tidak, keduanya adalah BOLEH, sebab meski tidak diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau mengangkat tangan setiap kali takbir, namun hal ini telah dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan kemungkinannya ia mencontoh amalan Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam. (lihat: Zaad Al-Ma’aad: 1/441).

Apakah ada zikir atau bacaan tertentu dalam jeda antara takbir yang satu dengan takbir berikutnya?

Tidak ada bacaan tertentu atau pasti, namun disunatkan untuk banyak mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) dan tasbih (subhanallaah), Ibnu Mas’ud berkata: “Antara dua takbir hendaknya membaca Alhamdulillah dan pujian kepada Allah”. (HR. Baihaqi, hasan).

✒ Oleh Ustadz Maulana La Eda, Lc -Hafidzahullahu Ta’ala-

Tinggalkan Balasan