3 Cara Menghindari Ghibah yang Ampuh!

Cara Menghindari Ghibah – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh salah satu  universitas di Amerika Serikat   menyebutkan bahwa jika seorang pria mampu mengucapkan hingga 7.000 kata maka perempuan akan mampu berbicara hingga 20.000 kata. Tak heran bila dengan  kemampuan itulah  kaum perempuan sangat suka berbicara. Kesukaan  inilah yang  terkadang disadari atau tidak membuatnya  terjatuh ke dalam pembicaraan yang dilarang yakni ghibah atau bergunjing/bergosip.  

Padahal sesungguhnya lisan termasuk salah satu nikmat terbesar yang diberikan  Allah kepada hamba-Nya. Nikmat yang merupakan anugerah tersebut sepatutnya dimanfaatkan untuk mendulang pahala sebagai bentuk kesyukuran dan ketaatan. Bukan malah menyia-nyiakannya dengan mengerjakan kemaksiatan, dengan berghibah misalnya.

Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan dalam kitab Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam bahwa  mayoritas perkara yang tidak bermanfaat disebabkan dari lisan yakni lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad ).

Ngobrol Berkah Tanpa Ghibah

Ngobrol berkah tanpa ghibah adalah obrolan yang membahas hal-hal yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.  Misalnya  membahas bagaimana meningkatkan keimanan kita, membahas permasalahan umat, membahas trending topik yang terkait Islam atau hal-hal bermanfaat lainnya. Ngobrol seperti ini tetap dapat dilakukan dengan seru dan tentu saja tanpa imbasan dosa di dalamnya.   

Agar topik obrolan tidak terjatuh ke dalam ghibah, berikut beberapa cara menghindari ghibah yang efektif:

Segera Mengingatkan Bahaya Ghibah bila Pembicaraan Mulai Menyimpang 

Terkadang tanpa sadar, obrolan yang mulai seru kemudian menyerempet ke arah ghibah. Tiba-tiba muncul nama si Fulanah, misalnya. Lalu beragam  komentar dilontarkan terkait si Fulanah tersebut. Sekiranya yang terlontar adalah komentar positif maka tentu saja hal tersebut tidak mengapa. Sayangnya, biasanya yang lebih banyak terlontar adalah komentar-komentar negatif  yang ujung-ujungnya adalah bergunjing.

Untuk itu segeralah mengingat akan bahaya ghibah dan tidak melanjutkan obrolan tentang si Fulanah. Agar mudah, bayangkan saja hidangan “lezat” berupa daging manusia yang sudah mati yang akan tersantap sekiranya majelis ghibah itu tetap dilanjutkan. Hayo, siapa yang mau menyantap mayat? 

Segera Membelokkan/Mengganti Topik Pembicaraan

Cara menghindari ghibah selanjutnya adalah segera mengganti atau mengalihkan topik pembicaraan. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar. Rasa ingin tahu atau istilahnya kepo inilah yang dapat menjadi salah satu pintu masuk ghibah. Ketika topik pembicaraan mulai mengulik satu pribadi maka segeralah beralih ke topik pembicaraan yang lain. Jangan terpancing untuk melanjutkan ghibah yang telah terlanjur dilontarkan. Alihkan ke topik yang lebih berguna yang bisa membawa manfaat bagi orang banyak. 

Segera Meninggalkan Majelis Ghibah

Jika nyatanya kedua usaha di atas telah dilakukan namun topik obrolan tetap saja menggibahi orang lain maka tak ada cara lain selain segera meninggalkan majelis tersebut. Bukankah Islam menyuruh kita untuk meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat. Dan bila  obrolan sudah berubah menjadi majelis ghibah maka yang tersisa hanya  kesia-siaan bahkan dosa yang akan diperoleh bila tetap mengambil bagian di sana.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dengan beranjak meninggalkan majelis ghibah tersebut secara tidak langsung juga menjadi ajang dakwah. Karena orang-orang yang berada dalam majelis itu tentu akan mempertanyakan sikap tersebut.  Maka mereka yang tadinya tidak tahu akan segera mencari tahu. Siapa tahu lewat cara itu Allah kemudian mengirimkan hidayahnya kepada mereka. 

 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Terjemahan QS. Ali Imran: 104)

Baca juga: Jangan Jadi Tukang Gosip

Sekilas Tentang Ghibah

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat. “Tahukah kalian apa itu ghibah?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Ghibah adalah  engkau membicarakan saudaramu dengan apa yang dia benci”. Kemudian ada yang bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, bagaimana jika yang disebutkan itu memang benar ada padanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Jika hal itu benar ada padanya maka sungguh engkau telah menggibahinya dan apabila hal itu tidak benar maka sungguh engkau telah memfitnah dirinya” (HR. Muslim)

Hadits  di atas  menyebutkan bahwa ghibah  adalah membicarakan keburukan atau apa-apa yang  tidak disukai sekiranya orang yang dibicarakan itu mengetahuinya. Jadi mungkin saja keburukan itu memang ada. Namun hal itu tidak lantas melegitimasi siapapun untuk kemudian mengumbar keburukan atau aib tersebut. Terlebih jika ternyata apa yang dibicarakan tersebut tidak benar. Maka terjatuhlah si pembawa cerita itu kepada fitnah. 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam  mengingatkan dalam hadits yang lain, “Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Mereka melukai (mencakari) wajah-wajah dan dada-dada mereka. Aku bertanya:”Siapakah mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia (mengumpat) dan mereka menginjak-injak kehormatan manusia.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud ).

Dalam al-Quran juga disebutkan ancaman bagi mereka yang suka berghibah “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggibah (menggunjing)  sebagian yang  lain. Sukakah salah seorang diantara kamu  memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al-Hujurat: 12)

  Ghibah biasanya dimulai dengan prasangka buruk. Prasangka-prasangka inilah yang kemudian mendorong orang untuk mencari-cari celah, kelemahan atau hal-hal buruk lainnya pada diri seseorang. Setelah melewati semua tahap itu maka mulailah ia berghibah. Membicarakan apa yang tidak disukai saudaranya dan menyebarkannya kepada orang lain.

Berghibah juga berarti menginjak-injak harga diri saudara kita sesama muslim. Padahal Islam mengajarkan untuk saling menutupi aib dan menjaga kehormatan sesama muslim. Tak heran bila kemudian para ulama memasukkan ghibah ke dalam  dosa-dosa besar.  

Wahai sekalian orang yang hanya berislam dengan lisannya namun keimanan belum tertancap di dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan pula kalian memperolok mereka, dan jangan pula kalian menelusuri mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya, dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah niscaya Allah akan mempermalukan dia meskipun dia berada di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Sebagai pengingat, sekiranya ghibah telah telanjur dilakukan sementara orang yang dighibahi belum memaafkan maka semua ini akan menjadi beban yang sangat berat di akhirat nantinya. Di hari perhitungan itu manusia hanya membutuhkan pahala untuk menambah berat timbangan amal kebaikannya selama hidup di dunia. Namun penggibah akan dikejutkan oleh orang-orang yang menuntut haknya. Hak kemuliaan yang telah direnggut ketika di dunia dan di akhirat kini mereka meminta balasannya. Maka diambillah pahala para penggibah itu. Sekiranya belum cukup maka amalan buruk orang-orang yang telah dighibah akan dibebankan kepada para penggibahnya. Na’udzu billah min dzaalik.

Siapa yang pernah menzalimi saudaranya yakni menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukuran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudian dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Seharusnya dalam setiap tindakan maupun ucapan kita semuanya bernilai ibadah yang pada akhirnya menjadi ajang untuk mendulang pahala. Bukankah islam mengajarkan bahwa pahala tak hanya bisa diperoleh lewat ibadah maddah saja. Bahkan sambil ngobrol pun, ladang pahala tetap terbentang luas. Tentu saja, semua tergantung kita. Mau mendulang pahala lewat obrolan atau malah asyik menikmati santapan mayat? Na’udzubillah. Wallahu a’lam.[]

Demikianlah artikel tentang cara menghindari ghibah ini. Semoga bermanfaat!

OLEH: HAERIAH SYAMSUDDIN

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening