Berbohong dalam candaan sama dengan celaka? Kok bisa? Simak penjelasan berikut ini!
Saat berkata, ada kalanya kita ingin agar lawan bicara kita menyimak dan antusias mengikuti arah pembicaraan kita. Salah satu caranya, mungkin kita ingin membuatnya tersenyum, atau bahkan tertawa. Namun celakanya, saat hendak membuatnya tertawa, seringkali kita membuat kata-kata yang lucu, padahal kata itu sebenarnya di dunia nyata tak ada.
Alias berbohong untuk membuat mereka tertawa. Ingat pesan Nabi kawan!
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)
Bercanda diperbolehkan, tapi jangan berbohong dalam candaan. Bercanda dan tetap berkata yang benar itu juga dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana hadis berikut ini:
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا
“Aku juga bercanda namun aku tetap berkata yang benar.” (HR. Thobroni dalam Al Kabir 12: 391. Syaikh Al Albani mengatakan hadits tersebut shahih dalam Shahih Al Jaami’ no. 2494).”
Dalam riwayat Ahmad, dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يُضْحِكُ بِهَا جُلَسَاءَهُ يَهْوِي بِهَا مِنْ أَبْعَدِ مِنْ الثُّرَيَّا
Artinya:
“Seorang laki-laki mengatakan suatu kalimat yang dengannya ia ingin menjadi bahan tertawaan orang-orang disekelilingnya, maka ia akan masuk ke dalam neraka sejauh bintang-bintang di langit.”
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga arah lidah kita, untuk selalu berkata-kata yang baik saja.
Demikian artikel tentang berbohong dalam candaan. Anda juga dapat membaca artikel tentang adab dan akhlak lainnya di sini. Semoga bermanfaat! []
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi