Penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang harus menjadi perhatian dunia. Sebab bencana yang menimpa warga Palestina bukan hanya masalah bagi umat Islam saja.
Masalah yang menimpa warga Palestina bukan hanya masalah bagi umat Islam saja. Sebab, yang sebenarnya terjadi di Palestina adalah masalah kemanusiaan.
“Tak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina. Cukup kau menjadi manusia!” adalah salah satu ucapan Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan.
Selain itu, Ir. Soekarno juga pernah mengatakan, selama kemerdekaan Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itu pula bangsa Indonesia berdiri menentang penjajah Israel.
Sesuai dengan pembukaan UUD 1945, alenia pertama bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Konflik yang berkecamuk antara Israel dan Palestina, telah menjadi sorotan dunia internasional selama beberapa dekade terakhir. Meskipun konflik ini sering kali diidentikkan dengan dimensi agama, khususnya Islam, namun penting untuk diingat bahwa mempertahankan hak-hak manusia dan keadilan, sesungguhnya tak mesti terkait dengan agama tertentu.
Banyak kelompok dan individu dari berbagai latar belakang, telah menyuarakan dukungan mereka untuk rakyat Palestina. Pada tanggal 5 November 2023 lalu, jutaan masyarakat dari berbagai daerah dan kalangan, termasuk jajaran petinggi negara dan tokoh masyarakat, menghadiri Aksi Akbar Bela Palestina di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Mereka menyerukan dukungan untuk kemerdekaan Palestina dan menyuarakan harapan agar pemerintah Indonesia semakin menunjukkan langkah konkret untuk mendorong perdamaian.
Meski tak dapat dimungkiri bahwa sebagian besar masyarakat berpikir bahwa Aksi Bela Palestina berlandaskan pada kesamaan identitas agama, yaitu Islam, namun faktanya, Aksi Bela Palestina di Indonesia ini tidak hanya melibatkan umat Islam dan organisasi Muslim, tetapi juga berbagai organisasi dan masyarakat lintas agama.
Aksi serupa juga terjadi di berbagai kota di negara yang mayoritas masyarakatnya adalah non-Muslim, seperti London, Berlin, Paris, Roma, Washington, dan lainnya. Aksi solidaritas ini mencerminkan pemahaman bersama bahwa hak hidup, kebebasan, keadilan, dan perdamaian adalah hak setiap individu, tidak peduli apa agamanya. Aksi-aksi tersebut menunjukkan adanya fenomena solidaritas kolektif, yang menjadi bukti bahwa membela Palestina kini tidak hanya dilandasi oleh kesamaan identitas atau agama semata.
Dalam perspektif psikologi sosial, meski dipisahkan oleh berbagai identitas, manusia telah lama beradaptasi dengan saling membantu satu sama lain. Mereka yang memiliki kelebihan dapat membantu mereka yang kesulitan, tertinggal, atau mengalami penderitaan. Aksi ini tidak hanya didorong oleh empati, tetapi juga oleh keyakinan dari kelompok-kelompok yang ada mengenai kewajiban mereka terhadap yang lemah. Inilah yang terjadi pada mereka yang berada jauh dari Palestina dan tidak merasakan langsung penderitaan warga di sana, tetapi lantang dalam bersuara membela Palestina.
Biasanya, orang-orang yang termasuk kelompok ini akan merasa bersalah atau malu jika mereka tidak ikut bersuara secara moral. Secara psikologis, banyak masyarakat dari seluruh dunia merasa memiliki kewajiban moral dalam melindungi anak-anak atau warga sipil yang tidak berdaya di wilayah perang. Jika tidak bersuara, artinya mereka pasif dan tidak berperan sebagaimana mestinya. Inilah juga mungkin yang bisa menjelaskan mengapa orang-orang bisa marah terhadap mereka yang tidak mau bersuara–atau memilih diam–dalam mendukung Palestina.
Begitu pula, aspek kesamaan pengalaman menghadapi ketidakadilan turut berkontribusi membentuk rasa solidaritas. Banyak komunitas global, terlepas apapun agamanya, menilai Israel telah memperlakukan masyarakat Palestina di Gaza secara semena-mena, termasuk penjajahan selama puluhan tahun. Rasa solidaritas akan lebih mungkin dirasakan oleh mereka yang pernah merasakan atau mengalami perlakuan tidak adil terhadap diri mereka sendiri atau kelompoknya.
Riset juga menunjukkan bahwa kelompok yang memiliki sejarah diperlakukan tidak adil, seperti kelompok minoritas, dapat lebih merasakan solidaritas terhadap kelompok-kelompok lain yang mengalami hal sama. Misalnya, kelompok minoritas cenderung mendukung hak-hak minoritas karena mereka memiliki kesamaan dalam pengalaman diskriminatif. Kondisi emosi tersebut menjadi kunci bagi seseorang untuk bertindak dalam mengubah keadaan, seperti melakukan atau menginisiasi aksi kolektif dalam membela Palestina.
Lebih jauh, di negara demokrasi, penyampaian opini politik adalah hal yang wajar dan positif. Masyarakat di era demokrasi dan keterbukaan dapat memperoleh informasi yang lebih luas dengan mudah, sehingga bisa lebih memahami isu yang terjadi.
Ditambah lagi, di negara demokrasi, umumnya tidak ada larangan bersuara, sehingga rakyatnya bisa lebih mendapatkan ruang untuk melakukan aksi solidaritas. Mereka merasa mampu untuk bebas berekspresi dan berkoalisi dalam menyuarakan ketidakadilan, sehingga mampu pula mendorong individu lainnya untuk saling mendukung dalam menyuarakan isu-isu masyarakat. Inilah mengapa aksi-aksi solidaritas biasanya dilakukan terutama di negara-negara dengan kecenderungan demokrasi yang baik.
Sebaliknya, pada negara-negara yang membatasi aktivitas, suara, atau ekspresi politik, warganya mungkin kesulitan menyuarakan dukungan atau solidaritasnya. Dengan kata lain, aksi bisa tercipta bukan hanya ketika ada persepsi ketidakadilan, kewajiban moral, dan tujuan (identitas terpolitisasi), melainkan juga karena adanya kesempatan dan ruang.
Pada akhirnya, aksi solidaritas kolektif terhadap Palestina menunjukkan sisi positif dari kemanusiaan. Membela Palestina sesungguhnya adalah panggilan kemanusiaan yang bisa disuarakan oleh siapa pun, tanpa memandang agama. Ketika kita memandang masalah ini melalui lensa kemanusiaan dan hati nurani, kita dapat menciptakan ruang untuk dialog yang inklusif, membangun jembatan antargolongan, dan merangkul keragaman sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Membela Palestina tidak hanya tugas Muslim, tetapi merupakan tanggung jawab bersama sebagai manusia. Membela Palestina tidak mesti berarti menjadi Muslim, karena panggilan kemanusiaan melampaui batas-batas keagamaan. Dengan begitu, seharusnya tidak ada lagi suara-suara ketidakpedulian terhadap kondisi di Palestina. Selama identitas kemanusiaan masih melekat padanya, maka seharusnya apatisme dan masa bodoh tidak lagi muncul dalam sikap dan suara. Semoga kemerdekaan dan kebebasan lekas hadir di bumi Palestina seiring dengan pembelaan kita -sesama manusia- dalam empati dan doa kepada mereka. Amin. Wallāhu a’lam.
Baca juga: Tokoh Palestina Ini Dukung RI Lepas dari Penjajahan
Penulis: Azwar Iskandar, S.E., M.Si., M.A.P., CBPA. (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar)
_______________________
Sahabat, ayo kirimkan salam hangat untuk mereka. Kirim doamu untuk masyarakat Palestina di kolom komentar yukkk
Jangan lupa, sisihkan sebagian rezeki kita berapa pun itu untuk perjuangan di sana
▶️ Rekening Donasi Kemanusiaan Peduli Palestina
Bank Syariah Indonesia (BSI) 799 900 9004
BNI Syariah 4900 709 004
Bank Muamalat 801 004 8367
an. Wahdah Inspirasi Zakat
▶️ Donasi Online
https://sedekahplus.com/Peduli-Palestina
▶️ Tlp/WA Center Wahdah Inspirasi Zakat : 085315900900
(Untuk amanah pencatatan harap menambahkan 940 setiap transferan)