MAKIN BERILMU, MAKIN BAIK AKHLAK
Barangkali kita pernah menemukan ada orang yang sudah lama mengaji, sering menghadiri majelis taklim, penampilannya sunnah-able, tapi (maaf) akhlaknya bermasalah
Mungkin ada diantara kita yang pernah menjumpai seseorang yang mengaku memahami sunnah, yang mengaku berpaham salafush ash shalih, namun sikapnya terhadap yang berlainan tempat ngaji jauh berbeda
Tak lagi murah senyum. Kalau ngucap salam dan menggantung sudah untung, ini malah cuek dan tak melirik ke arah saudaranya yang sudah senyum
Barangkali, di antara kita yang sudah perrnah ikut kajian. Namun masih tanggung dalam berakhlak, dan tak ramah pada sesama. Coba deh periksa hati kita. Barangkai ada yang salah dengan pengkajian kita selama ini
Bukankah, akhlak para salaf adalah yang paling ramah?
Bukankah diantara akhlak para sahabat adalah mereka yang legowo dengan segala perbedaan selama masing-masing ada dalilnya?
Kita ini bersaudara. Kita ini satu agama. Jika ada yang berbeda, mari bijak dalam berdiskusi. Barangkali ada ilmu yang belum sampai. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)