Pujian manis rasanya. Dalam kadar berlebih, ia bisa bikin diabetes jiwa. Bisa mengamputasi rasa ikhlas dalam dada. Jika sayatan ikhlas itu meneteskan nanah berbau busuk, maka organ tubuh akan mengalami indikasi penyakit parah.
Amal saleh jadi busuk, semua kebaikan akan melepuh tak sempurna, dan menjadikan kita cacat tanpa sisa, na’udzubillah.
Maka, ucapan “alhamdulillah” atas pujian yang kita terima bukan bermakna syukur nikmat semata. Namun, juga dzikir bagi jiwa. Mengingatkan diri bahwa kita selamanya tak pernah bisa berdaya. Tanpa adanya campur tangan dari Allah Ta’ala.
Jika kebaikan yang kita lakukan adalah kemudahan dan karunia Allah Ta’ala; jika segala puji adalah milik-Nya; lantas, atas dasar apa kita sombong lagi jumawa?
Jangan sampai kita seperti iblis yang angkuh. Disuruh bersujud tak mau. Sebab mengira diri lebih saleh daripada yang lainnya.