Bagaimana Menjadikan Ramadhan Kita Berkualitas Ibarat Ramadhan Terakhir Kita

Setiap orang yang merindukan perjumpaan dengan kekasihnya atau orang yang dicintainya akan berusaha menyiapkan segala hal yang istimewa untuk bertemu dengan kekasihnya tersebut, ibarat seorang musafir yang berkelana bertahun-tahun meninggalkan istri dan anaknya, maka ia akan berusaha menyiapkan hal yang istimewa untuk istri dan buah hatinya tersebut. 

Maka begitulah pula para perindu Ramadhan yang hakiki, para salaf/ orang shaleh terdahulu sejak 6 bulan menjelang Ramadhan  ia terlah berdoa kepada Raab Nya untuk dipertemukan dengan bulan nan mulia itu, iapun mengawali hari-harinya dengan penuh semangat, dengan menghidupkan sunnah seperti memperbanyak puasa, memperbanyak membaca qur’an, bersedekah dan lain sebagainya, karena itulah versi sya’ban ‘ala Rasulillah, sebagaimana hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam shahih Bukhari.

Maka bagaimana lagi hari-hari awal hingga pertengahan dari Ramadhan  tersebut, tentu seharusnya kita lebih bersemangat walau disaat itu pula kebanyakan dari perindu mahkota ketaqwaan telah berguguruan dalam perlombaan mendapatkan kemuliaan dari Allah Jalla Jalaluh.

Nah, bagaimanakah sebab perbedaaan diantara hamba-hamba Allah tersebut dalam mendapatkan mahkota ketaqwaan tersebut?

Orang terbaik diantara mereka dalam mengisi Ramadhan tersebut adalah hamba yang menjadikan Ramadhannya ibarat Ramadhan Terakhir dalam kehidupannya, seperti seseorang yang melaksanakan shalat dan setelahnya ia mengetahui  bahwa tidak ada lagi shalat setelah ini, dimana kematian yang pasti akan memutuskan segala kenikmatan, kebahagiaan, canda dan tawa dalam hidupnya tersebut, maka bayangkanlah bagaimana kekhusyu’an orang tersebut dalam shalatnya, hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada seorang laki-laki meminta nasihat kepada beliau, Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”

(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah(1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401))

Maka bagaimana langkah menjadikan Ramadhan kita berkualitas ibarat Ramadhan terakhir dalam hidup seseorang:

Menjadikan Kematian Begitu Dekat

 Kematian adalah pemutus segala nikmat kehidupan, dia adalah sesuatu yang pasti yang ada seorangpun yang bias berlari darinya, sebagaimana pengabaran dari Allah dalam Qs. Al Jum’ah:

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ   

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Maka seorang yang menjadikan hari-hari Ramadhannya seperti Ramadhan yang terakhir ia lakukan di dunia dimana kematian sebentar lagi akan menemuinya, maka iakan pasti bersungguh-sungguh dengan ibadahnya, dengan puasanya, dengan shalatnya dan dengan segala yang ia persembahkan kepada Allah, karena ia tahu tiada lagi perjumpaan dengan bulan nan mulia ini dan yang ada hanya penyesalan atas segala waktu yang terlewatkan dalam kelalaian. 

Memahami Bahwa Setiap Perjumpaan Akan Pasti Ada Perpisahan

Seorang yang memahami akan perjalanan waktu dari hari-hari Ramadhan akan  terus berlalu  sedangkan bersama waktu tersebut ada keutamaan yang sangat besar, maka ia akan memahami bahwa hari demi harinya akan berlalu dan berkurang hingga tidaklah tersisanya baginya kecuali satu atau dua hari saja dari hari-hari yang mulia tersebut, Rasulullah pernah berwasiat kepada Abdullah bin Umar sambil memegang pundaknya, beliau bersabda:

 “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari)

Dan berkata ibnu Umar: jika kalian disore hari maka janganlah tunggu pagi hari, dan jika kalian di pagi hari maka janganlah tunggu sore hari (untuk beramal), dan beramallah di waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di kehidupanmu sebelum datang kematianmu. “

Maka bekal Ramadhan adalah adalah bekal yang semestinya seorang mukmin bawa dalam perjalanan  panjang setelah kematian menuju pertanggungjawaban kepada Rabb Nya, sebagaimana seorang musafir mesti tepat menyiapkan bekal untuk pengembaraannya.

Jadilah Hamba-Hamba Rabbani

Diantara wasiat para salafu ash shaleh adalah memerintahkan kita untuk menjadi hamba-hamba yang Rabbani dan bukan hamba Ramadhan,

كن ربانيا ولا تكن رمضانيا

Hamba Ramadhan adalah hamba yang menyembah Allah hanya dibulan Ramadhan dan diselain bulan itu pula ia kembali bermaksiat dan menjauhi ketaatan yang lakukan sebagaimana di bulan Ramadhan. 

Maka sejatinya seorang mukmin itu berusaha menjadi hamba Allah yang jujur dalam penyembahannya, dan dengan kejujuran itulah ia dicintai oleh Allah dan mendapatkan rahmatNya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Niat Ikhlas menjadi Hamba Sejati

Seorang hamba yang ikhlas akan setia dengan segala ibadahnya kepada Allah, ibadahnya tak ada bedanya ketika manusia melihatnya ataupun disaat ia bersendirian.

Maka hamba yang ikhlas dengan ibadah Ramadhannya maka iakan berusaha untuk tetap istiqamah dengan ibadah yang ia lakukan saat Ramadhan bersamanya dan juga ketika Ramadhan telah meninggalkannya, maka iapun tetap berusaha menjaga kontinuitas ibadahnya dengan  puasa sunnah, dengan qiyamullailnya dan dengan ibadah-ibadah lainnya seperti mebaca quran dan bersedekah.

Memperbanyak Do’a

Do’a adalah perisai orang beriman, baik dari segala problema kehidupan termasuk juga dalam mendampingi amalan-amalan ibadah yang kita lakukan, dan do’a yang terpenting kita panjatkan diakhir Ramadhan ini adalah do’a memohon keisitiqamahan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah berikut ini: 

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

 [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!]

 Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dan kembali memberi kita kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan penuh kemuliaan ini pada tahun-tahun berikutnya. 

Oleh: Ustadz Askar Fatahuddin, S.Si.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening