Konflik Israel-Palestina belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Konflik berkepanjangan ini telah menjadi salah satu konflik yang kompleks dan besar dalam sejarah manusia. Kekuatan yang tidak berimbang tentu menimbulkan lebih banyak korban di pihak Palestina. Kurang lebih 13 ribu warga Palestina wafat selama kecamuk perang tersebut. Ironinya, tak sedikit korban di antaranya adalah anak-anak dan perempuan sebagai warga sipil tak berdosa.
Tragedi kemanusiaan tersebut, tentu memantik simpati dan empati warga dunia, tak terkecuali Indonesia. Mengapa Indonesia? Setidaknya, karena secara historis, bangsa Indonesia pernah merasakan pahitnya hidup di bawah kolonialisme, membuat masyarakat Indonesia bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Palestina. Selain itu, adanya kesamaan latar akidah, yakni bahwa mayoritas warga Palestina adalah muslim, kemudian memunculkan spirit ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam Indonesia dan Palestina.
Solidaritas dan dukungan terhadap Palestina telah menjadi gerakan kolektif di tengah umat dan bangsa. Seruan bela Palestina bergema di dunia maya dan berlanjut dengan aksi konkret di dunia nyata. Aksi solidaritas termanifestasi dalam bentuk unjuk rasa, penggalangan dana, dan dukungan moral. Seruan boikot segala produk barang dan jasa buatan atau yang mendukung Israel menggema di tengah umat dan mendapat validasi dari sejumlah lembaga keagamaan, utamanya Majelis Ulama Indonesia (MUI), diikuti oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah, kalangan Nahdlatul Ulama, sejumlah ormas Islam lainnya, dan berbagai elemen masyarakat. Menariknya, solidaritas itu tidak hanya datang dari kalangan muslim saja, melainkan juga dari non-muslim, yang menunjukkan bahwa isu Palestina adalah isu kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat golongan dan keagamaan.
Namun, solidaritas saja tentu tidak cukup. Umat dan bangsa berhajat untuk mengambil pelajaran, renungan, dan refleksi dari isu ini. Lantas pertanyaannya, refleksi apa yang bisa dilakukan oleh umat dan bangsa ini dari Palestina?
Setidaknya, terdapat lima hal yang patut untuk direnungkan.
Pertama, penguatan solidaritas Palestina sebagaimana telah diuraikan di atas, idealnya dapat diikuti dengan penguatan soliditas keumatan dan kebangsaan. Konflik ini seyogianya menjadi refleksi dan momentum bagi seluruh entitas bangsa untuk bersatu dan melupakan sentimen perselisihan yang selama ini menghantui relasi keumatan dan kebangsaan kita. Jangan sampai, konflik Israel-Palestina justru menjadi arena pertempuran wacana baru yang menimbulkan polarisasi dan segregasi di tengah umat dan masyarakat.
Penguatan solidaritas kemanusiaaan untuk Palestina dan soliditas kebangsaan ini seharusnya dapat dilakukan dalam satu tarikan nafas. Maksudnya, membangun solidaritas kemanusiaan untuk Palestina, di satu sisi, adalah sebuah kewajiban kita sebagai wujud simpati dan empati. Namun di sisi lain, memperkuat soliditas keumatan dan kebangsaan juga merupakan kebutuhan untuk membangun kekuatan dan keutuhan bangsa dari unsur-unsur yang akan memecah-belah umat dan mengadu-domba elemen bangsa. Sebagaimana umat dan bangsa mampu bersatu dalam menggalang solidaritas, seyogianya juga mampu dalam membangun soliditas.
Kedua, mungkin dunia menyebut Palestina sebagai “penjara terbesar di dunia” karena kekejaman Zionis Israel yang berupaya untuk melakukan genosida dan blokade, meski sebagian besar masyarakat dunia mengecam dan mengutuknya. Namun demikian, bagaimana respon warga Palestina menghadapi situasi tersebut? Apakah mereka lari dan takut? Tidak, fakta yang ada justru memperlihatkan bahwa mereka tetap berdiri dan bertahan dengan kemuliaan. Mereka tidak takut mati, bahkan mencintai kematian sebagaimana orang-orang kafir dan munafik mencintai kehidupan.
Respon mereka dalam menghadapi konflik tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi kita tentang kekuatan mental, keteguhan, kemuliaan (izzah), dan tidak rendah di hadapan bangsa lain. Sikap warga Palestina menghadapi konflik yang telah berlangsung lama dan bertahun-tahun menunjukkan kesabaran yang teramat tinggi dalam menantikan kemerdekaan dan perubahan yang lebih baik. Hal ini mengajarkan kepada umat dan bangsa ini bahwa perubahan dan kejayaan sering kali merupakan proses yang memerlukan waktu, kesabaran, dan nafas yang panjang. Karenanya, umat dan bangsa ini harus terus teguh, bersabar, dan bermental baja menyongsong cita-cita luhur pendiri bangsa ini.
Dari Palestina kita juga bisa belajar bagaimana mereka mampu mendidik anak-anak dan generasi yang tangguh. Karenanya, patut bagi umat dan bangsa ini untuk mendidik generasi pelanjut menjadi generasi pemberani, tangguh, dan pembebas al-Aqṣa, menanamkan kecintaan pada tanah suci dan kesediaan berkorban untuk kebebasan dan kemerdekaannya. Tentu saja, kita berharap -dengan izin Allah Ta’ālā– dari bumi Nusantara akan lahir generasi pemenang yang akan memimpin kaum muslimin membebaskan tanah suci, Baitul Maqdis tercinta, nan penuh pesona, dan memahat semua cinta, juga membangun negeri ini menjadi damai dan sentosa.
Ketiga, apa yang terjadi pada bangsa Palestina hari ini, dengan berbagai bentuk kezaliman, pengusiran, dan pembantaian selama berpuluh-puluh tahun lamanya, mengingatkan dan menjadi refleksi bagi kita akan pentingnya persatuan dan ukhuwah. Banyaknya faksi dan elemen rakyat Palestina yang sejak dahulu terkesan berjalan sendiri-sendiri tanpa konsolidasi, bisa jadi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kekuatan Palestina menjadi belum “berisi”.
Umat Islam perlu mengambil pelajaran dari umat terdahulu yang telah berhasil mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam, yaitu generasi Ṣalāḥuddīn al-Ayyūbī. Generasi ini meyakini bahwa pengusiran penjajah dari bumi Palestina tidak akan terlaksana dengan baik kecuali dengan adanya penyatuan kekuatan negeri-negeri Islam. Untuk itulah, Ṣalāḥuddīn al-Ayyūbī terlebih dahulu menaklukkan Mesir, beberapa bagian Syam selain Palestina (Suriah, Lebanon, Yordania), dan Mosul (Irak), sebelum membebaskan Palestina. Dengan strategi ini, ukhuwah Islamiyah antarnegara dapat terjalin dan kekuatan negara-negara Islam dapat disatukan. Hal ini menyiratkan makna bahwa ketika seluruh elemen umat dan bangsa ini bersatu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan ikatan kebangsaan, Indonesia akan menjadi negara yang kuat, mandiri, maju, dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Dari apa yang terjadi di Palestina, kita bisa belajar bahwa menjaga kedaulatan negara, baik dalam konteks teritorial-geografis, sosiologis, maupun ideologis sangatlah penting, karena perpecahan merupakan sumber kelemahan bangsa dalam melawan ancaman asing.
Keempat, segala bentuk kesulitan yang terjadi pada bangsa Palestina seharusnya menjadi renungan bagi kita bahwa apa yang kita alami saat ini, di negeri yang aman ini, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang mereka alami di sana. Kita seharusnya merasa malu karena begitu banyak mengeluh, padahal sejatinya, hidup ini adalah sebuah peperangan. Salah satunya adalah melawan rasa putus asa, malas, dan keraguan yang ada dalam diri agar menjadi manusia yang tangguh, selalu optimis dalam menatap masa depan, dan senantiasa bersyukur dengan segala nikmat yang ada. Sungguh besar karunia Allah terhadap bangsa Indonesia ini, sehingga seringkali menutupi mata batin kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya.
Kelima, warga Palestina menunjukkan kepada kita bahwa harapan adalah elemen penting dan sumber kekuatan yang mampu memotivasi mereka untuk bertahan dalam situasi yang sulit. Meskipun menghadapi tantangan yang berat dan kondisi yang sulit, harapan dan keyakinan akan adanya perubahan positif dan kehidupan yang lebih baik di masa depan dapat menjadi pendorong utama untuk tetap berjuang. Warga Palestina menanamkan kepercayaan kuat pada pertolongan Allah. Mereka menjaga prasangka baik kepada Allah sebagai Pencipta yang dapat memberikan ketenangan bahwa segala sesuatu terjadi dengan rencana, hikmah, dan tujuan yang agung dari Pencipta. Artinya, umat dan bangsa ini wajib untuk senantiasa berharap dan memohon pertolongan kepada Allah, Sang Pencipta, dalam setiap langkah dan upaya mewujudkan cita-citanya.
Peristiwa demi peristiwa di bumi Palestina, hendaknya menjadi cambuk bagi umat untuk semakin mawas diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ālā karena sungguh kekuatan itu adalah saat kita dekat kepada Allah Yang Maha Kuat, dan kelemahan serta kekalahan itu adalah saat kita terjatuh dalam kubangan dosa dan jauh dari-Nya. Saat Ṣalāḥuddīn al-Ayyūbī memeriksa pasukan dan mendapati mereka tekun tilawah Al-Qur’an dan salat malam maka keyakinan akan membuncah pada hatinya karena ia yakin dengan penuh keyakinan bahwa kemenangan hanya dapat diraih dengan pertolongan Allah, dan pertolongan Allah akan turun saat kita teguh menjalankan agama-Nya.
Wallāhu a’lam.
Oleh: Azwar Iskandar, S.E., M.Si., M.A.P., CBPA. (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar)