Kalau cara membaca Al-Qur’an seseorang benar, dia akan semangat mengkaji ilmu pengetahuan. Semangat menghafal Al-Qur’an seharusnya sama semangatnya membangun peradaban.
Inilah yang terjadi dalam sejarah peradaban Islam yang gemilang, disaat orang-orang rajin mengkaji Al-Qur’an menjadi inspirasi mengembangkan berbagai disiplin ilmu. Mereka berlomba-lomba melakukan kontribusi unggulan di berbagai bidang kehidupan.
Imam Syafi’i melalui kitabnya ‘Ar-Risalah’ melahirkan revolusi keilmuan dalam Islam. Adapula Al-Khawarizmi berkontribusi dalam revolusi science dan masih banyak tokoh lainnya. Kata kuncinya, mereka expert di bidangnya.
Tetapi jika sebaliknya, hanya sekedar membaca Al-Qur’an dan tidak melakukan perubahan. Hanya menjadi penonton, follower, tidak melakukan penemuan dan tidak punya kontribusi sama sekali berarti ada yang keliru dalam penerapan visi Qur’an dalam kehidupan.
Di zaman ini, akses terhadap ilmu pengetahuan sangat mudah. Kontribusi kita seharusnya lebih luas dan berdampak. Terbuka lebar kesempatan menyampaikan narasi Islam dan membawa visi Qur’an di setiap bidang yang kita kuasai.
Salah satu bidang yang perlu menjadi perhatian dalam peradaban adalah bidang lingkungan. Ini tidak lepas dari perhatian visi Qur’an menjaga, melestarikan dan memakmurkan bumi. Bumi yang kita huni hanya satu, apa yang dialami bumi akan kita rasakan pengaruhnya.
Suka atau tidak suka, dampak dari kerusakan di bumi ini akan dirasakan seluruh penduduknya. Sekarang mungkin kita merasakan di beberapa daerah cuaca lebih panas dari tahun sebelumnya. Begitupula kalau kita membaca data soal pencemaran lingkungan hingga polusi udara sangat memprihatinkan. Disaat yang sama, yang merusak lebih banyak daripada yang punya perhatian memperbaiki.
Seperti penebangan liar di hutan, jika terus dibiarkan suatu saat hutan sebagai paru-paru dunia sudah gundul. Akibatnya kita akan kesulitan mendapatkan air bersih, bahan baku obat-obatan, tanah tidak lagi subur, rusaknya ekosistem maupun rantai makanan. Pada saat itulah sebagian manusia akan sadar dan mulai berfikir bagaimana mengelola bumi dengan baik. Padahal kita masih punya kesempatan saat ini sebelum terlambat untuk melakukan perubahan.
Bagi seorang Muslim, kerja kita di muka bumi adalah cara mendapatkan rahmat dari Allah. Jika kondisi alam seimbang, seluruh penduduk bumi ikut merasakan dan begitupula sebaliknya. Isu lingkungan seperti climate change, global warming, air bersih, sampah kian menumpuk hingga udara yang tercemar seharusnya disuarakan oleh orang yang mengkaji al-Qur’an.
Visi Qur’an Menjaga Alam dan Lingkungan
Sunnatullah, perubahan dimulai dari bawah (bottom up), membangun diri-diri pribadi. Menyiapkan generasi dimulai dari mengubah alam pikiran. Sekalipun ini butuh waktu yang lama tetapi hasilnya jauh lebih kuat dan berdampak. Ibarat antara menanam jagung dan pohon jati.
Perubahan menurut Malik bin Nabi dimulai dari dimensi alam pikiran. Bagaimanapun segala perangkat telah dilakukan, tetapi kalau mindset masyarakatnya belum berubah, tidak memahami pentingnya menjaga lingkungan untuk masa depan dan keberlangsungan kehidupan manusia maka perubahan tidak signifikan.
Perubahan dimulai dari menyiapkan generasi yang punya mindset Qur’ani. Nah, ada beberapa visi Qur’ani kaitannya dengan lingkungan dan menjaga semesta alam.
- Istikhlāf
Istiklāf maksudnya sebagai pengatur atau pengelola di muka bumi. “Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam penggunaannya…” (QS. Al-Hadid: 7). Seperti juga yang tercantum dalam Surah Luqman ayat 20.
Posisi kita sebagai manusia di muka bumi sebagai pengelola bukan pemilik. Tugas kita sebagai pengelola harus mengelola sesuai aturan pemilik, sesuai aturan syariatNya. Berbeda dengan pemilik yang punya kuasa penuh. Maka perlu ada upaya mengetahui dan memahami bagaimana visi Qur’an dalam mengelola bumi, tanah, air dan udara.
Kita butuh karya nyata dari membangun kesadaran melalui pendidikan adab. Orang yang beradab tidak akan mungkin melakukan kezhaliman. Begitupula orang yang beriman, tauhid akan selalu menjiwai setiap tindakannya. Dia tidak akan mau merusak alam dan lingkungan demi kepentingan materi semata.
- Menganalisa dan Mentadabburi Semesta Alam
“(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama… (QS. Fathir: 28).
Diantara makhluk ciptaan Allah, ada banyak jenis dan macamnya. Ini merupakan pintu bagi manusia untuk berfikir dan menganalisa ciptaan Allah. Orang yang meneliti tentang alam semesta hakikatnya akan melahirkan al-khasyah atau rasa takut. Semakin dalam dia memahami ilmu tentang lingkungan dia semakin memahami keagungan Allah Azza wa Jalla.
Visi Al-Qur’an mendorong orang beriman untuk berfikir menganalisa lingkungan dan semesta alam. (Lihat QS. Ali Imran: 151). Orang yang tidak memahami ilmu tentang lingkungan, bagaimana mungkin punya semangat menjaga semesta alam. Perlu ada juga upaya berkontribusi dalam tema lingkungan ini. Setidaknya ada kesadaran dalam mengelola dan menjaga lingkungan agar tidak serampangan, serakah mengeksploitasi tanpa menjaga keseimbangan alam.
- Visi Pengembangan dan Pembangunan
“Siapa yang menghidupkan sebuah lahan mati maka ia memilikinya” kata Rasulullah. Prinsipnya, kita punya peran untuk mengembangkan dan memakmurkan tanah di muka bumi.
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya,” sabda Nabi. “Dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut menjadi sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seseorang dikurangi (diambil) orang lain melainkan menjadi sedekah baginya” terang Nabi. Betapa sedekah punya makna yang luas.
Kalau ada diantara kita punya kelapangan rezeki, selain bersedekah membantu orang lain, membeli lahan yang luas lalu menanam pohon dan dijadikan hutan termasuk bagian kontribusi menjaga alam dan lingkungan. Ini visi Qur’an melestarikan alam untuk kebaikan manusia di masa mendatang. Apa yang kita tanam memang belum tentu segera dipanen, tetapi hasilnya akan menjadi amal jariyah.
“Jika datang hari kiamat dan di tanganmu ada benih, jikalau kamu mampu untuk menanamnya maka tanamlah” kata Nabi di kesempatan lain. Ini visi Rasulullah, sekiranya besok akan terjadi kiamat tetap berkontribusi membangun peradaban. Kalau ada kajian khusus membahas akhir zaman lantas membuat tidak produktif, tidak ada semangat menanam pohon dan menjaga alam berarti ada yang keliru dalam memahami visi Qur’an.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi