Ini Kurikulum Inti Pendidikan Generasi Qur’ani

Beberapa waktu lalu viral video seorang Qāri’ah disawer pada saat sedang membaca Al-Qur’an. Peristiwa ini menguatkan kita untuk kembali muhāsabah sejauh mana adab terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan tidak sekedar dibaca dan dinikmati lantunannya tetapi menjadi panduan hidup yang utama. Nah, bagaimana kita bisa memahami tema pokok kandungan Al-Qur’an dan apa pula perbedaan fungsinya dengan Sunnah.

Setidaknya ada tiga fungsi Al-Qur’an, yaitu menjadi huda’ (petunjuk), asās (prinsip) dan mukjizat. Agar kita mendapatkan manfaat yang lebih luas, perlu langkah serius mengkaji lebih sistematis isi kandungannya. Terutama untuk memahami gambaran besar (big picture) dari dien ini bermula dari cara belajar yang benar.

Coba Anda bayangkan jika ada dua orang yang baru hijrah dan mulai belajar Islam secara intensif. Orang pertama fokus memahami Al-Qur’an sedangkan orang kedua konsen mempelajari Sunnah. Setelah berlalu satu-dua tahun, apa yang akan terjadi? Bagaimana pandangan keduanya tentang Islam? Apakah kita menemukan kesamaan atau saling menyempurnakan?

Apakah masing-masing mendapat gambaran umum tentang Islam ataukah terkhusus pada permasalahan yang detail. Apa yang menjadi dāiratul ihtimāmāt atau pusat perhatian dari keduanya? Apa hasil kepribadian yang terbentuk diantara keduanya?

Setiap kita pernah membaca Al-Qur’an begitupula sunnah berupa hadits-hadits Nabi semisal adab sehari-hari. Namun ada satu pertanyaan penting, apakah (gaya) bahasa Al-Qur’an sama dengan Sunnah?

Misalnya kata ‘pemuda’, dalam Al-Qur’an digunakan kata fatā dan fityah. Kedua kata ini ditujukan kepada tokoh-tokoh seperti Nabi Ibrahim, murid Nabi Musa, ashābul kahfi dan Nabi Yusuf. Sedangkan dalam hadits memakai kata syāb dan syabāb

Tidak hanya bahasa, apakah tema yang dibahas Al-Qur’an sama dengan tema yang dibicarakan Sunnah? Misalnya tema sejarah, umat/kaum terdahulu apakah juga sama tema bahasannya dalam sunnah?

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber rujukan utama dalam memahami Islam. Lalu mengapa keduanya tidak membahas tema yang sama. Sangat mungkin keduanya memiliki gaya bahasa yang sama, metode (uslūb) yang sama, bahkan bahasan tema yang sama.

Jika kita bisa memahami, merenungi, mentadabburi rahasia dibalik ini, ada banyak pelajaran penting utamanya konsep pendidikan dalam Islam. Ada hikmah yang luar biasa khususnya berkaitan tahapan dan urutan dalam belajar. Bahkan kita bisa menyelesaikan banyak permasalahan kehidupan yang kompleks. 

Semisal kaidah-kaidah yang kelihatannya saling berlawanan (ta’āruḍ), dan bagaimana menyikapi perbedaan pendapat (ikhtilāf) diantara ulama. Bahkan ini sangat menentukan dalam pembentukan akhlak pribadi insān kāmil. Bagaimana seharusnya bersikap, mengambil keputusan di tengah perdebatan dan apa visi yang harus dibawa dalam setiap ruang kontribusi.

Perbedaan Fungsi Al-Qur’an dan Sunnah

Jika kita fokus mempelajari Al-Qur’an. Membaca secara tadabbur dari Surah Al-Fātihah sampai An-Nās. Berapa banyak ayat yang  berbicara kisah umat terdahulu, dakwah para Nabi, kisah para Nabi hingga peradaban? Apakah pembahasan ini juga kita temukan dalam Sunnah? Tema peradaban dalam Sunnah tidak sedetail pembahasan Al-Qur’an.

Lalu bandingkan dengan jumlah ayat yang menjelaskan ibadah mahḍah. Berapa banyak ayat yang membahas tentang ṭahārah, tata cara pelaksanaan shalat dan lainnya. Sebaliknya dalam sunnah bahasannya sangat luas.

Al-Qur’an sebagai ta’sīs (landasan) sedangkan Sunnah adalah bayān (penjelasan). Apa yang Al-Qur’an sudah bahas lengkap maka sebaliknya Sunnah tinggal menyempurnakan. Apa yang Al-Qur’an isyaratkan seperti perintah mendirikan shalat, maka sunnah yang menjelaskan tata cara, hukum, sampai jumlah rakaatnya secara detail. Kita tidak bisa shalat, berpuasa, berzakat dengan baik tanpa penjelasan lengkap Sunnah.

Al-Qur’an dan Sunnah saling menyempurnakan. Al-Qur’an lebih banyak berbicara tentang peradaban dan sedikit menjelaskan ibadah mahḍah. Sebaliknya Sunnah lebih banyak membahas ibadah mahḍah sementara tema peradaban tidak sedetail Al-Qur’an.

Mulailah Fokus Pelajari Al-Qur’an Lalu Sirah Nabawiyah

Pada awal pengutusan Rasulullah, para sahabat belajar Islam dan mendapatkan at-taṣawwur al-islāmī pertamakali dari Al-Qur’an kemudian Sunnah. Kandungan terpenting bagian dari sunnah adalah sirah nabawiyah. Tema sirah nabawiyah sangat erat dengan Al-Qur’an karena berkaitan asbābun nuzūl dan merupakan penjabaran cara kerja teknis Al-Qur’an. 

Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah merupakan jantung dari Islam. Jadi, kalau kita ingin memahami Islam secara utuh dan sempurna, mulailah fokus mempelajari Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah.

Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah seharusnya menjadi kurikulum inti dari pendidikan keluarga. Sangat penting bagi para orang tua/guru mengajarkan kurikulum ini sejak dini. Dengan memulai menanamkan iman sebelum Al-Qur’an. Kemudian menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an secara tadabbur seperti kisah-kisah para Nabi, para da’i, orang shalih dsb.

Lalu kita mengajarkan Sirah Nabawiyah. Kisah perjalanan hidup Rasulullah merupakan kurikulum inti dalam melahirkan generasi pemimpin sejak kecil. Tidak ada perjalanan hidup yang patut kita jadikan teladan seagung kehidupan Rasulullah. Setidaknya anak-anak kita memiliki uswah hasanah yang akan terus menginspirasi setiap langkahnya.

Inilah kunci dari pendidikan generasi terbaik dahulu, mereka memulai dari pondasi kurikulum yang sangat kuat. Sehingga bisa melahirkan ulama yang menguasai segala bidang ilmu. Mampu melahirkan ilmuan yang orientasi belajarnya menjadi penemu. Mereka mulai belajar dari yang inti tetapi bisa menguasai banyak hal. Bukan belajar banyak hal tetapi hanya menguasai yang sedikit.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening