Visi Peradaban Islam

Zaman boleh berubah tetapi qiyam atau nilai Islam inilah tetap abadi. Berkaitan dengan nilai, ada tiga visi peradaban Islam yang senantiasa harus kita bawa dalam semua bidang kehidupan.

Visi Ibadah

Tentu sudah sangat mafhum bahwa tujuan manusia diciptakan untuk beribadah. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Surat Adz-Dzariyat: 56). Lalu apa definisi ibadah?

Sebagian akan menjawab shalat, puasa, zakat dsb, singkatnya lima rukun Islam. Jika makna ibadah hanya berkaitan pada lima rukun Islam, lalu sebagaian besar waktu kita lainnya dipakai untuk apa? 

Seperti shalat wajib lima kali sehari yang membutuhkan waktu satu dua jam, lalu bagaimana dengan 22 jam lainnya? Seperti puasa wajib di bulan ramadhan, lalu bagaimana 11 bulan lainnya?

Ibadah terbagi dua, ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Mahdhah berarti sempit atau sudah ditentukan, tidak dapat diubah. Singkatnya, ibadah mahdhah berkaitan dengan ibadah yang tata cara pelaksanaannya tidak boleh menyelisihi ketetapan yang sudah dicontohkan Rasulullah. Seperti shalat subuh dua rakaat tidak boleh ditambah maupun dikurangi rakaatnya.

Adapun ibadah ghairu mahdhah cakupannya lebih luas. Seperti makan, bekerja, berjalan, disiplin, belajar, berkata jujur, membantu orang lain dsb. Singkatnya, adalah ibadah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan, perbuatan yang zhahir maupun batin.

Kita bekerja dengan tekun, teratur menunggu antrian, seorang istri memasak buat keluarga sampai datang janjian ontime semuanya bisa bernilai ibadah jika syaratnya terpenuhi. Bahkan dalam olahraga sepatutnya membawa visi ibadah. Menjaga kesehatan, mempersiapkan kekuatan fisik, menjaga adab-adab, berdo’a dan tetap menyandarkan kepada Allah saat menang maupun kalah merupakan nilai Islam.

Jika kita siap diatur Islam kala berada di masjid, siap mengikuti ajaran Islam ketika akad nikah. Seharunya kita juga siap diatur Islam saat berdagang, bekerja, merancang arsitek rumah, kesehatan sampai pendidikan. Inilah makna visi ibadah, bahwa Islam seharusnya menjadi panduan seluruh kehidupan kita.

Jika visi ibadah menjadi visi seorang pemimpin niscaya kebijakannya bermanfaat untuk orang banyak. Jika visi ibadah menjadi panduan seseorang niscaya ia akan terhindar dari (berniat) melakukan keburukan. Jika seseorang menjalankan visi ibadah maka senantiasa yang membersamai adalah berkah dan kebaikan.

Visi Khalifah

Visi khalifah fil ardh merupakan misi manusia di muka bumi. “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (QS. Al-Baqarah: 30). Khalifah fil ardh maksudnya sebagai perwakilan Allah di muka bumi, pemimpin dan pengatur. 

Ketika dalam kondisi terhimpit di Makkah, Nabi membangun mentalitas para sahabatnya. “Kalian adalah umat yang terbaik”. Kemudian diberi gambaran strategi, “Betapa banyak kelompok yang kecil bisa mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah”. Lalu diajak untuk bervisi masa depan, “Akan dibebaskan, Yaman, Persia, Konstantionopel dan Roma”. Alhasil, Nabi mengubah sahabat pengecut jadi pemberani, mental budak menjadi pemimpin, pemimpin level kampung menjadi pemimpin level dunia. 

Rasulullah tidak mewariskan bangunan mewah maupun masjid megah. Tetapi melahirkan generasi yang bervisi global. Generasi yang siap memimpin peradaban. Punya mentalitas ‘khalifah’, memberi pengaruh, karya dan kontribusi ke seluruh dunia. 

Para sahabat Nabi mengimplementasikan visi ini, pada zaman Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali tidak melewatkan sehari pun kecuali membuat kebijakan mengambil kendali peran dalam peradaban. Agar manusia tetap pada fitrahnya, menyembah Allah semata. Mental ‘khalifah’ bisa juga berarti kita berusaha expert di bidang tertentu, menjadi penemu, teladan dan terunggul. 

Hari ini yang menjadi ‘khalifah’, yang menguasai bumi tidak membawa misi tauhid. Mengkampanyekan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti perbuatan kaum Nabi Luth yang sama sekali menyalahi fitrah manusia, merusak konsep kehidupan. Termasuk eksplorasi sumber daya alam tanpa memikirkan keseimbangan kehidupan.

Visi Rahmah

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Surat Al-Anbiya’: 107). Adalah Rasulullah diutus ke muka bumi menjadi rahmat bagi semesta alam. Begitupula umatnya penerus risalah agung ini juga harus berusaha menjaga alam agar tetap seimbang. Membawa visi rahmah dalam setiap langkah perubahan. 

Jika visi ini dibawa oleh setiap pemimpin, niscaya alam semesta akan terjaga.  “Jika ada keledai kakinya tergelincir di Shan’a (Yaman)” kata khalifah Umar. “Maka Umar yang akan bertanggung jawab di akhirat kelak” sebutnya.

Pemimpin yang membawa visi rahmah akan berusaha membuat jalan yang terbaik untuk manusia bahkan safety untuk hewan. Memastikan fasilitas publik yang aman dan tidak menimbulkan bahaya. Bukan sebaliknya, asal membuat fasilitas umum tanpa memikirkan keselamatan maupun kebermanfaatan.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga demikian. Pemimpin yang memikirkan kesejahteraan bagi semesta alam, hewan di hutan pun dapat jatah makan dari Baitul Mal. Tiga visi peradaban Islam seharusnya senantiasa kita bawa di semua bidang kehidupan: visi ibadah, khalifah dan rahmah.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening