Dalam kisah Nabi Musa, terdapat pelajaran berharga tentang keberkahan dalam ketaatan. Kisah ini mengajarkan tentang kuatnya iman dan kebijaksanaan dalam menghadapi ujian hidup. Yuk, mari kita telaah bersama-sama kisah inspiratif ini.
Setelah Fir’aun mengadakan muktamar bersama pengikutnya, status Nabi Musa menjadi tersangka. Berkat nasehat seseorang, keluarlah Nabi Musa meninggalkan Mesir. Dengan rasa takut menunggu-nunggu juga perasaan khawatir. Sampailah di sebuah batas kota antara Mesir dan Afrika. Sambil memasuki negeri itu ia berdo’a, “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”.
Dan benar, Nabi Musa dibimbing ke sebuah tempat yang kelak menjadi sebab ia menemukan satu dari sekian kebahagiaannya. Tempat yang berdesakan penuh kerumunan manusia. Ada yang mengambil air, ada meminumkan ternaknya. Tak jauh dari tempat itu, ada dua sosok wanita berdiri menunggu hingga kerumunan usai. Tanpa basa-basi, Nabi Musa mengendalikan perkataannya to the point.
قَالَ مَا خَطْبُكُمَا
“Apa maksud kalian (berbuat demikian)?”
Beradab ketika berbicara dengan orang non-mahram. Tidak perlu berbicara tentang yang tidak terlalu penting. Yang sesungguhnya bisa disingkat langsung ke intinya. Betapa banyak percakapan yang nampaknya sederhana dapat membawa petaka. Menjaga kesucian diri agar fitnah itu tidak terjadi dimulai dari adab kita berbicara. Apalagi percakapan media sosial hari ini yang sangat terbuka
Begitupun tatkala Musa memberi minum ternak kedua wanita tersebut, kemudian dia langsung berpaling kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a, “Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.
Dalam ayat ini tidak digunakan kata pergi. Akan tetapi berpaling. Jika Anda melakukannya dengan niat yang baik, segeralah berpaling, jangan memaksanya untuk berterima kasih, agar rasa malunya tetap mewah di depan mata Anda.
Nabi Musa selalu berdo’a disetiap kesempatan. Adakalanya waktu itu akan menjawab segala pertanyaan kita masa silam. Seolah semuanya selesai dengan sendirinya. Berkat do’a-do’a yang kita panjatkan, hari ini kita melihat jawabannya.
Nabi Musa tetap membantu orang lain. Padahal ini dalam keadaan mencekam, nyawa terancam. Takut, sebab dalam status buronan tentara Fir’aun. Dalam keadaan apapun, kondisi bagaimana pun kita, tidak menjadi penghalang kebaikan kita kepada orang lain. Sebab boleh jadi dari kebaikan yang sederhana itulah terbuka jalan keluar dari masalah kita.
Terkadang kita malas membantu, berbuat kebaikan kepada orang lain dengan alasan kita juga punya segudang masalah. Padahal sekecil apapun bantuan kita kepada orang lain bisa menjadi pintu kebaikan kita yang lain.
Pada dasarnya kita akan menemukan bahwa semua tentang keikhlasan. Ada hal-hal yang tidak bisa ditutupi oleh sekedar berjuang untuk menyenangkan pendapat orang lain. Ada orang-orang yang bekerja tidak mengenal lelah, sebab kerja mereka bukan untuk pencitraan, basa-basi dan manipulasi. Perih keringat mereka bukan untuk menuntut pengakuan dan penghormatan. Aktivitas sehari-hari tidak hanya menjalankan rencana dan meraih mimpi. Murni mendapatkan keberkahan di setiap ketaatan.
Kuat dan Amanah
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja , karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
Memilih pasangan sama dengan memilih pemimpin. Faktor agama yang utama. Nabi Musa adalah pekerja keras dan bertanggung jawab. Kekuatan yang dimilikinya digunakan membantu kedua gadis dalam mengambil air. Begitupun bentuk tanggung jawabnya ketika berjalan berduaan dengan salah seorang gadis untuk bertemu Ayahnya. Nabi Musa berjalan posisi di depan agar menjaga pandangan dan wanita tepat di belakang. Tidak ada obrolan, apalagi gombalan, sebagaimana pemandangan orang pdkt hari ini.
Didikan yang baik dari orang tua yang shaleh tampak pertama kali pada sifat malu putrinya. Ketika dua putrinya tidak serta merta ikut ikhtilat berbaur diantara kerumunan laki-wanita di tempat mengambil air. Sampai kemudian datang memanggil Nabi Musa sambil berjalan malu-malu. Disebutkan pula dalam riwayat, dia menggunakan penutup wajah.
Tidak hanya sifat malu, saran yang disampaikan kepada Bapaknya pertanda kecerdasannya. Kriteria utama dalam memilih pekerja adalah al-qawiyy baik itu kemampuan atau keterampilan dan juga amanah.
“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah dari kamu, …”
Keputusan yang penuh bijaksana dan berani. Seorang Ayah menikahkan salah seorang putrinya dengan seorang pemuda asing yang tidak memiliki apa-apa selain kebaikan dien dan kesucian akhlak. Sebab pernikahan bukan lagi urusan kekayaan, tapi ketaqwaan.
Motivasi ini pulalah yang seharusnya menjadi alasan utama bagi setiap orang tua syariah dalam memilih menantu. Bukan dengan cara-cara konvensional mencarikan jodoh untuk anaknya. Mengedepankan kemapanan materi, status sosial, tingkat elektabilitas lalu mengabaikan agama dan akhlak.
Tali perjanjian suami istri adalah hubungan sakral yang paling kuat. Memilihkan calon pasangan yang terbaik untuk anak-anak adalah faktor utama memperoleh kehidupan rumah tangga yang bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah.[]
Baca juga: Doa Nabi Musa dalam Meminta Jodoh, Pekerjaan dan Doa lainnya
Oleh: Muhammad Scilta Riska, SH.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi