Sikap Cemburu dalam Rumah Tangga: Antara Kewajaran dan Kecemburuan yang Berlebihan

Sang suami seketika marah melihat isterinya tengah asyik dengan smartphonenya, bercanda dengan seorang lelaki lain di sosial media. Di lain waktu, ia begitu marah ketika sang isteri bersolek sebelum keluar rumah. Sang suami meminta kepada sang istri agar betah di rumah dan tidak banyak keluar. Sang isteri pun bergumam, “suamiku sangat posesif!”

Salahkah Sikap Cemburu?

Cemburu, biasanya menjadi salah satu bumbu dalam bahtera rumah tangga. Cemburu dalam bahasa Arab dinamakan ghirah, dianggap gejala yang wajar dan merupakan gejala fitrah dan alamiah sebagai wujud proteksi diri dan melindungi.

Cemburu adalah hal yang lumrah. Ia terjadi karena adanya rasa cinta. Semakin kuat rasa cinta maka semakin kuat pun potensi rasa cemburu yang dimiliki pasangan.

Bahkan sikap cemburu harus dimiliki oleh suami. Dalam riwayat hadits terdapat ancaman bagi  seorang suami atau kepala keluarga yang tidak mempunyai rasa cemburu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts.” (HR. Nasa’i, Hakim, Baihaqi dan Ahmad).

Salah satu makna dayyuts adalah orang yang tidak cemburu terhadap istrinya, membiarkan kemungkaran terjadi dalam keluarganya.

Rasa cemburu bukanlah hal yang buruk selagi berdasar kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at. Dalam sebuah riwayat menyebutkan, Sa’ad bin ‘Ubadah mengatakan:

“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan sisi pedangku yang tajam.”

Mendengar penuturan Sa‘ad yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bahkan beliau bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (HR. Bukhari No.5220)

Sikap cemburu selagi tidak berlebihan, adalah sikap terpuji. Menjadi tercela ketika seorang suami cemburu di atas dugaan dan prasangka yang tidak berdasar. Sehingga dengannya dapat menyebabkan pertengkaran, keretakan, bahkan perceraian rumahtangga.

Suami Bagai Seorang Nahkoda

Seorang suami adalah kepala keluarga. Bagai seorang nahkoda, ia bisa membawa keluarganya ke mana saja dalam pengendaliannya; ke syurga ataupun ke neraka. Wajib atas seorang suami untuk mengarahkan kebaikan dan mencegah keburukan pada keluarganya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.” (Terjemahan QS. An Nisa’: 34)

Makna “pemimpin bagi kaum perempuan” adalah penegak (urusan) mereka dengan mewajibkan bagi mereka untuk menunaikan hak-hak Allah, dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban (yang) Allah (tetapkan), dan melarang mereka dari perbuatan-perbuatan yang merusak (maksiat), serta mendidik mereka untuk meluruskan kebengkokan mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/653 dan Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 100)

 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka.” (HR. Bukhari no. 2278 dan Muslim no. 1829)

Sang istri harus menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati tidak cukup hanya diwujudkan dengan kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup keluarga belaka, tapi lebih penting dari itu, pemenuhan kebutuhan rohani terhadap pengajaran alquran dan sunnah, itulah bukti cinta yang sebenarnya. Karena diwujudkan dengan sesuatu yang kekal bermanfaat; di dunia dan akhirat.

Ketika Bara Cemburu Itu Padam

Dewasa ini, Telah banyak kita jumpai seorang suami yang telah hilang rasa cemburunya. Membiarkan saja istrinya keluar rumah tanpa mengenakan hijab, berpakaian terbuka, dan bersolek indah. Sang suami tidak berat hati melihat istrinya keluar rumah kemana saja, berboncengan dengan siapa saja dan bertemu siapa saja. 

Hasilnya, pintu perselingkuhan pun terbuka lebar, pertengkaran terjadi hingga berujung pada berakhirnya rumah tangga. Parahnya lagi, jika suami tersebut memandang sikapnya sudah benar. Ia menganggap sikapnya moderat, modernis dan dengan berbagai alasan aneh lainnya.

Hati suami seakan mati melihat semua itu. Justru ia merasa bangga bila istrinya menjadi pujaan sejuta lelaki. Ia merasa bangga bila semua orang mengetahui betapa cantik istrinya. Ia tidak marah bila istrinya menjadi tontonan lelaki lain.

Kebobrokan akhlak yang sangat parah menimpa tatkala bara cemburu itu padam. Dimana seorang suami tidak lagi memiliki ghirah terhadap istrinya, tidak ada rasa cemburu di hatinya yang dapat mendorong untuk menjaga istrinya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Hingga ia menjatuhkan diri dan keluarganya terjerembab ke dalam kehinaan.

Karena Dia Begitu Mencintaiku, Maka Hati ini Akan Senantiasa Kujaga

Cemburu bisa menunjukkan kesungguhan seseorang dalam mencintai pasangannya. Dan rasa cemburu juga menunjukkan kesehatan hubungan dengan pasangannya. Karena tanpa rasa cemburu apakah dia benar-benar cinta?

Sepatutnya para wanita harus memahami bahwa dia (suami) memiliki pertanggungjawaban yang berat kelak di hari kiamat atas keluarga yang dipimpinnya.

Seorang isteri yang baik, tidak akan menyulut api cemburu suaminya dengan menyebut-nyebut lelaki lain di hadapan suaminya, apalagi ngobrol haha hihi dan bertemu dengan lelaki lain. Isteri yang bijak tidak keluar rumah tanpa seizin suaminya, tidak bersolek untuk lelaki lain, tidak membuka celah datangnya lelaki lain untuk mengganggu rumahtangganya baik di alam maya mau pun alam nyata.

Jika mendapati suamimu seorang yang pencemburu maka berbahagialah. Ketahuilah wahai para isteri, bahwa yang menjadi keinginan suamimu di lubuk hatinya adalah jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwamu. Tanamkan dalam diri bahwa tidak ada lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.

Suamimu mencintaimu, bekerja untukmu, hidup senantiasa bersamamu, bukan dengan yang lainnya. Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ikutilah petunjuk-Nya dan percayalah sepenuhnya kepada suamimu setelah percaya kepada Allah yang senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya, Lalu tunaikanlah yang menjadi kewajibanmu. Karena dia begitu mencintaimu, maka cintailah dia dan jagalah selalu hatimu.Wallahu a’lam bish shawab.[]

Oleh: Ria Mardiah

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening