Artikel ini akan membahas tadabbur QS. Al-Fatihah ayat 5 tentang bersabar dalam meminta kepadanya.
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (QS. Al-Fatihah: 5)
Firman Allah Iyyaaka na’budu menunjukkan pelepasan diri dari segala bentuk kesyirikan, sedangkan firman Allah waiyyakan nasta’in menunjukkan bahwa kita berlepas dari mengandalkan kekuatan diri sendiri serta hendaklah kita menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah. (Tafsir Ibnu Katsir: 1/28)
Ayat ini menunjukkan ketauhidan yang sempurna, sebab ia mencakup seluruh makna tauhid. Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa al-Fatihah merupakan rahasia al-Qur’an, sedangkan rahasia itu terletak pada ayat ini (Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin). (Tafsir Ibnu Katsir: 1/28)
Ayat ini “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin” walau ia adalah ayat yang pendek, namun di dalamnya terkandung rahasia penciptaan, perintah, tentang kehidupan dunia dan akhirat. Ayat ini mengandung tujuan yang yang paling agung dan wasilah yang paling utama. Tujuan yang paling agung itu adalah beribadah kepada Allah, sedang wasail yang paling utama adalah mendapatkan inayahNya (pertolonganNya). Maka tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan tidak ada yang bisa memberi inayah dalam beribadah kecuali Ia. Beribadah kepadaNya merupakan tujuan yang paling tinggi dan inayahNya adalah wasilah yang paling agung. (Ash-Sholatu Wa Ahkaamu Taarikiha Karya Ibnu Qayyim: 144)
Ayat ini juga menjelaskan jalan yang menyampaikan seseorang pada Allah. Jalan itu tidak lain melainkan ibadah yang dilakukan semata-mata kepadaNya dengan cara yang dicintai dan diridhaiNya, serta memohon pertolongan untuk beribadah kepadaNya. (Al-Fawaid Karya Ibnu Qayyim: 19)
Melaksanakan ibadah kepada Allah dan memohon pertolongan kepadaNya untuk selalu berada di atas jalan ini merupakan sarana menuju kebahagiaan yang abadi dan selamat dari seluruh keburukan. Tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan melakukan amalan dua amalan ini. (Tafsir as-Sa’di: 27)
Kedudukan ayat ini juga memperlihatkan keindahan dan kemuliaan mentauhidkan Allah. Allah disembah dengan keuluhiuahanNya, dimintai pertolonganNya karena rububiyah (pengaturan). Dan seseorang mendapatkan hidayah pada jalan yang lurus karena rahmatNya. Oleh karenanya Allah menyebutkan nama-namaNya pada awal surat ini, “Allah, ar-Rabb dan ar-Rahman” sebagai bentuk penyesuaian bagi seseorang yang akan beribadah kepadaNya, memohon inayah dan hidayahNya. (Ash-Sholatu Wa Ahkaamu Taarikiha Karya Ibnu Qayyim: 144)
Allah Azza wa Jalla memulai ayat ini dengan penyebutan ibadah lalu isti’anah, padahal isti’anah merupakan bagian atau cabang dari ibadah. Hal ini disebabkan butuhnya seorang hamba dengan inayah Allah pada seluruh ibadahnya. Jika Allah tidak memeberi inayah, niscaya seseorang tidak akan sanggup untuk melakasanakan apa yang ia inginkan, berupa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. (Tafsir as-Sa’di: 27)
Selain itu, ada pesan lain yang Allah siratkan di balik ayat ini dengan mendahulukan ibadah sebelum isti’anah, yaitu hendaklah manusia tidak tergesa-gesa dalam memohon pertolongan kepadaNya. Sehingga, ketika ada sesuatu yang ia pinta kepada Allah, namun Allah belum juga mengabulkan permintaannya, ia tetap bersabar dan terus meminta hanya kepadaNya serta tidak berpaling dengan meminta kepada selainNya. Allah memulai ayat ini dengan bentuk penegasan kepada manusia bahwa ibadah hanya boleh dilakukan kepadaNya semata, ini merupakan inti dan tujuan penciptaan manusia. Kemudian Allah melanjutkan dengan salah satu bagian atau cabang dari ibadah yaitu isti’anah (memohon pertolongan/doa).
Banyak manusia hari ini yang sangat tergesa-gesa dalam meminta kepada Allah. Tatkala mereka meminta kepadaNya, namun Allah belum mengabulkan apa yang mereka minta, mereka mendatangi dukun, paranormal, kuburan, pohon-pohon atau tempat-tempat yang dikeramatkan seperti rumah-rumah jin dan makhluk halus, untuk meminta pertolongan kepada mereka dengan klaim hal itu dapat mempercepat dan mempermudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ayat ini memberi penegasan agar manusia jangan sekali-kali memohon pada selainNya, sebab meminta pertolongan dengan meminta kepada selainNya adalah bentuk ibadah kepada mereka. Hal ini merupakan bentuk kesyirikan dan kekufuran yang merupakan dosa yang paling besar, dimana ia dapat mengeluarkan seseorang dari agama islam.
Allah Azza wajalla berfirman:
وَمَن يَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ١١٧
“Dan barangsiapa berdoa pada tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada mendapat keberuntungan”. (QS. Al-Mu’minun: 117)
Ini menjadi salah satu hikmah mengapa surat ini dibaca berulang-ulang setiap raka’at dalam shalat. Dengan pengulangan membaca ayat ini, Allah selalu menjaga hambaNya dari godaan-godaan setan yang membujuk rayu mereka untuk menyekutukanNya dalam hal doa dan memohon pertolongan, yaitu dengan cara menguatkan hati dan keyakinan hambaNya bahwa permintaan pertolongan hanya dilakukan kepada Allah saja.
Sayangnya, surat ini kurang dipahami kandungannya oleh sebagian besar manusia. Akhirnya, mereka tidak mampu merasakan besarnya cinta Allah dan dalamnya kasih sayangNya dalam setiap untaian ayat yang Dia firmankan.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu sampai pada derajat yang paling tinggi hanya atas dasar keinginannya saja, melainkan ia harus memohon inayah kepadaNya dan merasa sangat faqir di hadapanNya.(Liyaddabbaru Aayaatihi: 44)
Firman Allah “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin” pada kata na’budu (نعبد) menggunakan nun al-istitba’ yang merupakan syiar bahwa sholat itu hukum asalnya dilaksanakan secara berjama’ah. (Nizhamud Durar Fi Tanaasubil Aayati Wassuwar: 1/17)
Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi