Artikel ini akan membahas tadabbur QS. Al-Fatihah ayat 6 tentang bukti cinta Allah.
Allah Azza wajalla berfirman:
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (QS. Al-Fatihah: 6)
Dalam satu hadits disebutkan bahwa apabila seorang abd (hamba) membaca surat ini, maka akan Allah akan membalas setiap ayat yang dibaca dalam surat ini. Disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman:
“Aku membagi ash-Shalah (al-Fatihah) untukKu dan untuk Abd (hamba)-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hambaKu apa yang ia minta. Apabila hamba itu berkata: “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin”, maka Allah akan berfirman, “Hamidani Abdi” (Hamba itu telah memujiKu). Apabila dia berkata: “Arrahmanirrahim”, maka Allah akan berkata, “Atsnaa ‘Alayya Abdi” (HambaKu telah menyanjungKu). Apabila dia berkata: “Maaliki Yaumiddin” Maka Allah akan berkata, “Majjadani Abdi” (HambaKu telah mengagungkanKu) –dalam kesempatan lain Allah berkata, “HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu”-. Jika hamba tersebut berkata, “Iyyaakana’budu waiyyaaka nasta’iin”, maka Allah akan berkata, “Inilah pembatas antara diriKu dengan hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang dia minta”. Apabila hamba tersebut berkata: “Ihdinashshiraathal mustaqiim, shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin”, maka Allah akan berkata, “Inilah untuk hambaKu, dan baginya apa yang dia pinta”. (HR. Muslim No. 904)
Abd adalah kedudukan yang tinggi di sisi Allah Azza wajalla, sebab ia menunjukkan sifat ubudiyah (penghambaan). Oleh karena tingginya derajat ini, Allah selalu menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam al-Qur’an dengan gelar abd dan tidak pernah menyebut namanya secara langsung kecuali hanya untuk memperkenalkannya. Hal ini membedakan beliau dengan nabi-nabi yang lain, dimana mereka disebut secara langsung dengan nama-nama mereka dan tidak dengan gelar abd.
Dengan memahami makna abd dan kaitannya terhadap firman Allah “Ihdinashshiraathal mustaqiim” maka dapat diambil beberapa faidah yang mulia:
- Sejatinya seorang manusia yang menghambakan dirinya kepada Allah, selalu berharap agar selalu berada di atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang diridhai Allah Azza wajalla.
- Seorang yang mencapai sifat ubudiyah selalu merasa khawatir dapat tergelincir pada jalan yang sesat. Oleh karenanya, ia selalu meminta petunjuk kepada Allah, agar jalan orang-orang yang selamat dihidayahkan kepadanya.
- Seorang hamba yang benar-benar menghambakan diri kepada Allah sangat butuh terhadap pembaharuan hidayah. Sebab ia mengetahui bahwa setan selalu berupaya untuk menyesatkannya, dan iapun menyadari bahwa kadang kala ia terjatuh dalam tipu daya setan itu. Ini menjadi satu hikmah mengapa surah al-Fatihah dibaca berulang-ulang setiap raka’at, yaitu sebagai wujud permohonan kepada Allah, agar Allah memperbaharui dan menguatkan hidayah itu.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Jikalau bukan karena hajat seorang hamba pada permohonan hidayah sepanjang siang dan malam hari, niscaya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada hamba untuk selalu memohon hidayah kepadaNya. Sesungguhnya seorang hamba itu sangat butuh kepada Allah untuk mengokohkan hidayah, menambahnya dan menetapkannya pada dirinya setiap saat dan setiap keadaan. Sebab seorang hamba tidak dapat memberi manfaat atau mudharat kecuali atas kehendak Allah. Oleh karenanya, Allah memberi petunjuk kepada hamba agar ia selalu meminta hidayah kepadaNya setiap saat dan agar Allah memberikan padanya ma’unah (pertolongan), kekokohan dan taufik. Sesungguhnya seorang yang bahagia itu adalah seorang yang Allah berikan padanya karunia untuk selalu memohon kepadaNya, sebab Allah telah menjamin adanya ijabah bagi seorang yang berdoa kepadaNya. Terlebih lagi bagi seseorang yang dalam terdesak, merasa butuh dan merasa fakir padaNya sepanjang siang dan malam”. (Tafsir Ibnu Katsir: 1/31)
- Melalui sepenggal ayat ini, lagi-lagi Allah memperlihatkan kebesaran cinta dan luasnya kasih sayangNya pada hambaNya. Karena besarnya rasa cinta dan luasnya kasih sayang itu, Ia memberikan petunjuk kepada hambaNya untuk selalu meminta padaNya sepanjang siang dan malam atas hajat yang bisa menyelamatkan mereka.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya kecintaan Allah terhadap hambaNya mendahului rasa cinta seorang hamba terhadap diriNya, Subhanallah. Karena sesungguhnya, jika bukan karena kecintaan Allah terhadap dirinya, niscaya Allah tidak akan memberikan rasa cinta di dalam hatinya. Sebab Allah semata yang mengilhamkan rasa cinta untuk mencintai-Nya, lalu Allah pula yang membuatnya tersentuh dengannya. Sehingga, ketika seorang hamba telah mencintaiNya, Allah membalas kecintaan hamba itu dengan kecintaan yang lebih besar dan lebih tinggi. Maka, siapa yang mendekatkan diri padaNya satu jengkal, Allah akan mendekatinya dengan satu hasta, siapa yang mendekati Allah dengan satu hasta, Allah akan mendekatinya dengan satu depa dan siapa yang mendatanginya dalam keadaan berjalan niscaya Allah akan mendatanginya dengan berlari. Ini merupakan dalil bahwa cinta Allah terhadap hamba-Nya jauh di atas rasa cinta yang dimiliki hamba-Nya kepada-Nya.” (Thariqul Hijratain Wa Babus Sa’adatain: 368).[]
Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi