Abdullah bin Mas’udLAZISWahdah.com – Abdullah bin Mas’ud termasuk dalam golongan pertama yang masuk Islam (as-sabiquna al-awalun). Ia memiliki kepandaian dan pengetahuan yang mendalam tentang Islam.

Masyarakat di sekitarnya memanggilnya Ibn Umm Abd atau putra dari budak wanita. Namanya sendiri adalah Abdullah dan nama ayahnya adalah Mas’ud.

Ketika kecil beliau menggembala kambing milik salah satu ketua adat Bani Quraisy bernama Uqbah bin Muayt.

Suatu hari, ia mendengar kabar tentang kenabian Rasulullah. Namun Abdullah tidak tertarik dan tidak ingin tahu mengingat usianya yang masih kecil. Selain itu, ia memang jauh dari komunitas masyarakat Makkah, karena pekerjaannya sebagai penggembala kambing, yang terbiasa berangkat pagi dan pulang petang hari.

Namun ia kemudian mengalami pertemuan yang mengesankan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menceritakan pertemuannya:

“Ketika itu saya masih remaja, menggembalakan kambing kepunyaan Uqbah bin Mu’aith. Tiba-tiba datang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bahar radhiyallahu ‘anhu, dan bertanya: “Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami’: “Aku orang kepercayaan” ujarku’: “dan tak dapat memberi anda berdua minuman …!”

Maka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah kamu punya kambing betina mandul, yang belum dikawini oleh salah seekor jantan”? ada : ujarku. Lalu saya bawa ia kepada mereka. Kambing itu oleh Nabi lalu disapu susunya sambil memohon kepada Allah. Tiba-tiba susu itu berair banyak. Kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang digunakan Nabi untuk menampung perahan susu. Lalu Abu Bakar pun minum lah, dan saya pun tidak ketinggalan. Setelah itu Nabi menitahkan kepada susu: “Kempislah!’: maka susu itu pun menjadi kempis..

Aku berkata kepada Nabi “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebutl”

Ujar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!”

Tak lama berselang dari peristiwa itu, Abdullah bin Mas’ud menyatakan masuk Islam dan menyerahkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi pembantu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan dia sebagai pembantunya. Dia pun tumbuh dalam tarbiyah langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pelantun Pertama al-Qur’an

Zubair radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

“Yang mula-mula mendaras Al-Quran di Mekah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abdullah bin Mas’ud ra, pada suatu hari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul, kata mereka, “Demi Allah orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikitpun al-Quran ini dibaca dengan suara keras di hadapan mereka. Nah, siapa diantara kita yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka…?”

Maka kata Abdullah bin Mas’ud, “Saya.” Kata mereka, “Kami khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan adalah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankan dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat…” “Biarkanlah saya!” kata Abdullah bin Mas’ud pula, “Allah pasti membela.”

Maka datanglah Abdullah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy di waktu Dhuha, yakni ketika mereka berada di balai pertemuannya… Ia berdiri di panggung lalu membaca “Bismillahirrahmaanirrahiimi” dan dengan mengeraskannya suaranya; Arrahman…’allamal Quran…

Lalu sambil menghadap kepada mereka diteruskanlah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya, “Apa yang di baca oleh anak si Ummu’ Abdin itu? Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad!”

Mereka bangkit mendatanginya dan memukulinya, sedang Abdullah bin Mas’ud membacanya sampai batas yang dikehendaki Allah. Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak belur ia kembali kapada para sahabat. Kata mereka, “Inilah yang kami khawatirkan tentang dirimu!” Ujar Abdullah bin Mas’ud, “Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat yang sama esok hari!” Ujar mereka, “Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!”

Abdullah termasuk ulama pandai, sehingga dikatakan sebagai al-Imam al-Hibr (pemimpin yang alim, yang saleh). Faqihu al-Ummah (Fakihnya umat).

Beliau adalah sahabat yang senang dengan ilmu, baik menimba ilmu atau mengamalkannya. Sehingga dinyatakan, bahwa di awal keislamannya, yang dinginkan adalah diajari al-Quran. Sehingga dalam suatu pertemuan dengan Rasulullah berkat kecemerlangan akalnya langsung bisa menimba ilmu dari lisan Rasulullah sebanyak 70 ayat.

Sesungguhnya Rasulullah pernah berjalan dengan Ibnu Mas’ud, sedang Ibnu Mas’ud membaca ayat satu huruf-satu huruf. Maka beliau bersabda, “Barang siapa senang membaca Al-Quran dengan cara yang baik sebagaimana diturunkan, maka dengarkanlah bacaan Ibnu Mas’ud.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi bacaan al-Quran dari mulut Ibnu Mas’ud.  Pada suatu hari beliau memanggil Ibnu Mas’ud:

“Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!”

“Haruskah aku membacakannya pada anda, wahai Rasulullah..?”

Jawab Rasulullah: “Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain”

Maka Ibnu Mas’ud pun membacanya dimulai dari surat an-Nisa hingga sampai pada firman Allah Ta’ala:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.” (QS 4 an-Nisa: 41 – 42)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tak dapat manahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya diisyaratkan kepada Ibnu Mas’ud yang maksudnya: “Cukup…, cukuplah sudah, hai lbnu Mas’ud …!”

Keistimewaan Ibnu Mas’ud diakui oleh para shahabat. Amirul Mu’minin Umar berkata mengenai dirinya:

“Sungguh ilmunya tentang fiqih berlimpah-Iimpah’:

Berkata Hudzaifah tentang dirinya:

“Tidak seorang pun saya lihat yang lebih mirip kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, daripada Ibnu Mas’ud.

Dan orang-orang yang dikenal dari sahabat-sahabat Rasulullah sama mengetahui bahwa putra dari Ummi ‘Abdin adalah yang paling dekat kepada Allah!”
Abdullah bin Mas’ud masih hidup hingga masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau Wafat di Madinah pada tahun 32 H, dalam usia 60 tahun lebih. Jenazahnya dishalatkan oleh ribuan kaum muslimin; termasuk didalamnya Zubair bin Awwam, Ammar bin Yasir. Beliau kembali kepangkuan Ilahi. Lisannya basah dengan zikir kepada Allah. Pada malam wafatnya, ia langsung dimakamkan di Baqi’ sebuah pekuburan di Madinah Al-Munawwarah. Semoga Allah meridhainya dan merahmatinya.[]
***
Sumber : Majalah Sedekah Plus

Tinggalkan Balasan