Ilustrasi Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kepercayaan tinggi dalam umat Islam. Nama lengkapnya adalah ‘Amir bin ‘Abdillah bin al-Jarrah bin Hilal al-Qurasyi al-Fihri al-Makki. Namun, ia lebih dikenal sebagai Abu Ubaidah bin Jarrah. Dengan sosok yang tinggi, kurus, dan berjenggot tipis, Abu ‘Ubaidah adalah seorang sahabat Nabi yang luar biasa.

Abu ‘Ubaidah adalah salah satu dari lima sahabat pertama Nabi yang memeluk Islam. Bersama dengan sahabat lainnya, seperti ‘Utsman bin Mazh’un, ‘Ubaidah bin al-Harits, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu Salamah bin ‘Abdil Asad, mereka bersama-sama mengucapkan syahadat di hadapan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari yang sama. Selain itu, Abu ‘Ubaidah termasuk dalam sepuluh sahabat senior yang dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu sifat utama Abu ‘Ubaidah adalah kesantunan, kelembutan, kerendahan hati, dan akhlak mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap umat memiliki orang yang tepercaya, dan orang yang tepercaya dalam umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Abu ‘Ubaidah juga pernah diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Yaman bersama dengan sekelompok orang dari Najran. Karena keshalihannya, Abu ‘Ubaidah dijuluki sebagai al-Qawiyyul Amin, yang berarti “kuat dan tepercaya.” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjadikan Abu ‘Ubaidah sebagai pemimpin dalam sebuah pasukan.

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Abu ‘Ubaidah diamanahkan untuk mengelola Baitul Mal, yaitu harta umat Islam. Kemudian, ia diangkat sebagai pemimpin pasukan di wilayah Syam dan mendapat gelar Amirul Umara’ Bisy Syam, yang artinya “pemimpin para komandan di Syam.”

Kemudian, pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Abu ‘Ubaidah diangkat sebagai panglima tertinggi seluruh pasukan Islam, menggantikan sahabat lainnya, Khalid bin al-Walid radhiyallahu ‘anhu. Di bawah kepemimpinan Abu ‘Ubaidah, pasukan Islam menyebar dan merebut kota Baitul Maqdis di Palestina.

Abu ‘Ubaidah juga dikenal sebagai pribadi yang tawadhu’ dan zuhud terhadap dunia. Ia pernah mengatakan, “Aku ingin menjadi seperti orang yang bertakwa, tidak peduli apa warna kulitnya, merah atau hitam.” Kedudukannya yang tinggi tidak mempengaruhi hatinya. Ia selalu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Pada suatu kunjungan Khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ke rumah Abu ‘Ubaidah di Syam, ia hanya menemukan beberapa peralatan perang seperti pedang, perisai, dan pelana kuda. ‘Umar bertanya mengapa rumah Abu ‘Ubaidah begitu sederhana, dan Abu ‘Ubaidah menjawab, “Ini sudah cukup untuk membawa kami ke tempat istirahat (surga).”

Kedermawanannya juga patut dicontoh. Ketika Khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengirim uang kepada Abu ‘Ubaidah dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Abu ‘Ubaidah membagikan seluruhnya kepada orang-orang yang membutuhkan. Meskipun Mu’adz juga berbuat baik, ia menyisihkan sebagian uang tersebut. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memuji tindakan keduanya dan menyatakan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari Islam yang baik.

Abu ‘Ubaidah juga memiliki semangat perjuangan yang tinggi dalam mempertahankan agama Allah subhanahu wata’ala. Ketika terjadi perang Badr, ia menunjukkan keberanian dan pengorbanan yang luar biasa. Di tengah pertempuran, ia melepaskan dua mata rantai yang menancap di wajah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah memuji perbuatan Abu ‘Ubaidah ini dalam Al-Quran (Surah Al-Mujadilah: 22).

Ketika wabah penyakit tha’un melanda wilayah Syam, Khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ingin menarik Abu ‘Ubaidah untuk membantunya. Namun, Abu ‘Ubaidah menolak dan mengatakan bahwa ia harus tetap bersama kaum Muslimin di sana. Khalifah ‘Umar menangis ketika menerima jawaban ini dan berkata bahwa hanya orang-orang yang sabar yang akan mendapatkan pahala tanpa batas.

Sebelum wafatnya, Abu ‘Ubaidah masih sempat memberikan nasihat dan mengingatkan para sahabat tentang ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia meninggalkan dunia dengan penghormatan yang tinggi dari umat Islam dan pelajaran berharga bagi kita semua. Semoga Allah subhanahu wata’ala meridhainya.

Baca juga: Salman al-Farisi, Sang Pencari Kebenaran Sejati

Tinggalkan Balasan