Artikel ini adalah konsultasi syariah tentang hukum mewakilkan haji orangtua yang renta.
Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz. Maaf ustadz, bagaimana cara menghajikan orang lain? Bolehkah menghajikan orangtua yng telah renta dan sakit-sakitan sehingga sulit untuk ke tanah suci? Terima kasih jawabannya ustadz. Tety Fatimah di Sudiang, Makassar
Jawaban:
Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh.
Menghajikan orang lain yang telah meninggal itu dibolehkan dengan dalil bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang yang berihram berniat menunaikan haji seraya berkata ‘Labbaika ‘an Syubrumah‘ (aku memenuhi panggilanMu mewakili Syubrumah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendengarnya pun bertanya : “Siapakah Syubrumah?”. Ia menjawab : “Saudara atau salah seorang kerabatku”. Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau sendiri telah berhaji?”. Ia menjawab : “belum Ya Rasulullah”. Beliau berkata: “Engkau dulu yang berhaji sebelum engkau mewakili Syubrumah”. (HR. Abu Dawud).
Adapun umrah atau menghajikan orang yang masih hidup terutama orangtua sebagaimana pertanyaan di atas maka dibolehkan jika memang yang diwakili sudah sangat renta dan sulit melakukan perjalanan haji atau umrah tersebut. Atau ia terkena penyakit yang sudah tidak diharapkan lagi kesembuhannya. Ini berdasarkan dalil bahwasanya seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah, ayahku seorang yang sudah sangat renta dan tidak mampu berkendara, bolehkan aku menghajikannya dan umrah?”. Beliau menjawab : “berhajilah mewakili ayahmu dan berumrahlah”. (Muttafaq ‘Alaihi).
Adapun yang mewakilinya boleh dari kalangan keluarga sendiri seperti anaknya atau orang lain yang amanah dan bisa dipercaya, pahalanya akan didapatkan orang yang diwakili dan adapun yang mewakili juga akan mendapatkan pahala dan keutamaan insya Allah. wallahu a’lam.[]