Diantara yang paling sering ditanyakan oleh Muzakki adalah bolehkah zakat disalurkan untuk pembangunan masjid?

Ulama berbeda pendapat, –sedikitnya- ke dalam tiga pandangan, berkenaan dengan hukum menyalurkan zakat harta untuk pembangunan masjid dan yang semakna dengan itu.

Golongan Orang Yang Berhak Menerima Zakat

Akar masalahnya adalah perbedaan persepsi yang timbul dikalangan mereka tentang pengertian “Sabiilullaah” (jalan Allah) yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala, surah at Taubah, yang merincikan golongan orang yang berhak menerima zakat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

 إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ(60) 

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fi sabiilillah), dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”. (QS. at-Taubah; 60).

Beberapa Pendapat

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “fi sabilillah” (untuk jalan Allah), yang tersebut dalam surat At-taubah ini adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala, karena demikianlah makna dasar dari penggalan ayat tersebut. 

Pendapat kedua dalam masalah ini menyatakan bahwa termasuk juga dalam kategori “fi sabilillah”, -selain para pejuang- yaitu; orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah, berdasarkan hadits Bukhari –rahimahullah- secara mu’allaq dari Abi Laas ––radhiyallahu ‘anhu-:

 حَمَلَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِبِلِ الصَّدَقَةِ لِلْحَجِّ 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengantar kami dengan menggunakan unta zakat yang diperuntukkan kepada seorang jemaah haji.” [HR. Bukhari]. 

Pendapat ketiga adalah pendapat yang lebih umum; tidak membatasi pemberian zakat hanya kepada dua kelompok yang telah disebutkan sebelumnya, tetapi diperuntukkan kepada seluruh jenis kebaikan, juga kepada hakim, mufti, pengajar, dll. Sayyid Quthub –rahimahullah- berkata;

 وذلك باب واسع يشمل كل مصلحة للجماعة ، تحقق كلمة الله . 

“Kata “fi sabilillah” merupakan wilayah yang sangat luas, melingkupi seluruh hal yang dapat mendatangkan kebaikan bagi komunitas muslim dalam rangka tegaknya kalimat Allah Ta’ala.”[Fi Dzhilaali al Quran, (4/43)]. 

Tentunya yang menempati skala paling prioriotas dalam masalah ini adalah pengadaan segala sarana dan prasarana jihad, mempersiapkan kader-kader mumpuni dan mengadakan pelatihan-pelatihan secara intensif kepada mereka, pengiriman da’i serta pendirian sekolah-sekolah yang mengajarkan Islam secara benar kepada mereka. 

Syaikh Al-mubarakfuri –rahimahullah- berkata:

 وقيل : إِنِ اللَّفْظَ عَامٌّ فَلَا يَجُوزُ قَصْرُهُ عَلَى نَوْعٍ خَاصٍّ ، وَيَدْخُلُ فِيهِ جَمِيعُ وُجُوهِ الْخَيْرِ مِنْ تَكْفِينِ الْمَوْتَى وَبِنَاءِ الْجُسُورِ وَالْحُصُونِ وَعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ وَغَيْرِ ذَلِكَ 

“Disebutkan dalam sebuah pandangan; kata “fi sabilillah” adalah kata yang memiliki pengertian umum, tidak dibenarkan untuk mengkhususkan pengertiannya. Karenanya, makna dari kata ini meliputi seluruh jenis kebaikan, seperti; pengadaan kain kafan bagi orang-orang yang meninggal, pembangunan jembatan, tembok pembatas (wilayah), pembanganan mesjid, dst.”[Abhaats Hayati Kibaari al Ulamaa, (1/129)]. 

Kesimpulan

Namun dari ketiga pendapat yang telah disebutkan –wallahu a’lam– pendapat jumhurlah yang paling kuat. Dasar penarikan kesimpulan ini adalah; maksud diturunkannya ayat tentang pembagian zakat adalah membatasi kelompok orang yang berhak menerima zakat. Bila tidak dibatasi, niscaya seluruh manusia -juga- akan berhak mendapatkan bahagian mereka dari zakat harta, dan -tentunya hal ini adalah suatu hal yang kurang tepat-.

Karenanya, membawa pengertian “sabilullah” dalam ayat ini kepada pengertian umum adalah suatu yang bertolak belakang dengan maksud diturunkannya ayat ini. Dan yang benar bahwa makna “fi sabiililah” dalam ayat ini terbatas kepada mereka yang keluar berjihad di jalan Allah. Tidak benar memperluas maknanya kepada selain mereka. Wallahu a’lam bi as shawaab.

Demikianlah artikel tentang bolehkah zakat untuk pembangunan masjid. Yuk #BerbagiBahagia untuk membantu dan memberdayakan para mustahik dengan #BerkahZakat.⁣⁣⁣⁣

Dijawab oleh ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc.

Tinggalkan Balasan