Cahaya Tauhid dari Pelosok Banggai, Enam Jiwa Menjemput Hidayah

Wiz.or.id, Batui Selatan — Ada yang berbeda dengan udara di Dusun Tombiobong, Selasa pagi (17/2/2026). Di bawah atap sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk kota, matahari seolah bersinar lebih lembut menyentuh kulit. Hari itu, sebuah rumah di Desa Maleo Jaya, Batui Selatan, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang tak akan pernah dilupakan oleh penghuninya.

Bapak Dinas berdiri dengan jemari yang sesekali bertaut rapat. Di sampingnya, lima anggota keluarganya berkumpul dengan raut wajah yang sulit diartikan—ada ketegangan, ada haru yang membuncah, namun ada pula binar lega yang perlahan terbit. Mereka bukan sedang menghadiri seremoni biasa; mereka sedang bersiap melintasi gerbang baru dalam hidup mereka.

Syahadat yang Menggetarkan Sunyi

“Ikuti kata-kata saya dengan perlahan dan mantap,” suara salah seorang dai Wahdah Islamiyah memecah keheningan. Suaranya rendah dan menyejukkan.

Lalu, kalimat itu pun mengalir. Asyhadu alla ilaha illallah…

Seketika, suasana yang semula penuh bisik-bisik berubah senyap. Hanya ada deru angin tipis yang masuk lewat celah dinding dan isak tangis yang mulai pecah satu per satu. Saat lidah mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, ada beban yang seolah luruh dari pundak keluarga ini.

Enam pasang mata yang basah menjadi bukti nyata: hidayah tidak pernah tersesat jalan. Ia menembus rimbunnya hutan Banggai, melewati jarak yang melelahkan, hanya untuk mengetuk pintu hati yang telah dipilih-Nya.

Memeluk Iman, Bukan Sekadar Kata

Bagi para dai yang membimbing, tugas mereka tidak selesai saat kalimat syahadatain tuntas diucapkan. Justru, ini adalah awal dari sebuah tanggung jawab besar.

“Kami tidak datang hanya untuk menonton mereka bersyahadat. Kami datang untuk menjadi saudara yang menggandeng tangan mereka agar tetap tegak berdiri,” ungkap ustaz Syamsuddin, salah seorang pendamping dari Wahdah Islamiyah.

Di sela-sela obrolan hangat, para dai mulai menanamkan fondasi dasar. Dengan bahasa yang membumi dan mudah dicerna, mereka mulai bercerita tentang indahnya sujud, cara memurnikan tauhid, hingga pentingnya mengikuti jejak Rasulullah ﷺ. Tidak ada kesan menggurui, yang ada hanyalah kasih sayang antara saudara baru. Di ajak mandi besar, bahkan belajar wudhu. Ajaran Islam tentang bersuci, yang sumbernya dari air di alam raya.

Fajar Baru di Maleo Jaya

Kini, keluarga Bapak Dinas menyandang status baru sebagai mualaf. Tentu saja, jalan di depan mungkin tak selalu mulus. Namun, ada ketenangan berbeda yang terpancar dari wajah mereka—sebuah kedamaian yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang baru saja menemukan “rumah” bagi ruhaninya.

Agar iman yang baru tumbuh ini tidak layu diterpa badai, program pembinaan intensif sudah disiapkan. Para dai ingin memastikan bahwa Islam yang mereka peluk bukan sekadar identitas di kartu identitas, melainkan menjadi pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi dan buahnya dirasakan oleh sesama.

Saat senja mulai turun di ufuk Maleo Jaya, babak kehidupan baru resmi dimulai. Enam jiwa telah pulang ke fitrahnya. Mereka tidak lagi berjalan dalam keremangan; mereka telah memilih cahaya untuk menuntun langkah hingga akhir hayat.

Luaskan manfaat sedekah Anda!

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening