Cinta Berbalas Murka
LAZISWahdah.com 
– Sebuah syair Arab mengatakan;

كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلا بِلَيْلَى وَلَيْلى لا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ

“Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila

Namun Laila memungkiri semua pengaku-akuan itu”

Cinta bukanlah soal pengakuan semata. Ada konsekuensi logis yang ditimbulkannya, berupa pembuktian. Kalau hanya sekedar pengakuan maka semua orang bisa melakukannya, bahkan orang gila sekalipun. Maka cinta sejati adalah cinta yang diiringi dengan pembuktian. Harta dan jiwa bisa saja jadi taruhannya.

Perumpamaan cinta antara dua sejoli, jika cintanya sejati maka akan saling menjaga diri, apapun dia lakukan untuk menyenangkan kekasih hati. Hal yang membuat kekasihnya senang ia lakukan, apa yang membuat kekasihnya marah maka ia hindari. Baginya pembuktian cinta adalah harga mati.

Cinta kepada Allah Ta’ala adalah sebaik-baik cinta yang dimiliki hamba. Hanya saja, sebagaimana cinta lainnya sekali lagi cinta suci ini butuh pembuktian. Allah Ta’ala sendiri memberikan batu ujiannya;

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

Semua kita pasti mendakwa cinta kepada Allah. Namun kecintaan yang sempurna kepada Allah tidak terwujud kecuali dengan mengikuti Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh keridhaan jiwa dan raga. Ini menjadi prasyarat untuk mendapat balasan kecintaan dan pengampunan dari Allah Pemilik Semesta.

Mengikuti Rasulullah dan mencintainya adalah bagian dari kecintaan kepada Allah. “Ikutilah Aku” inilah kata kunci pembuktian cinta.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr : 7)

Sebuah resep sederhana namun sarat makna. Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melaksanakan perintahnya dan meninggalkan apa yang telah dia larang.

Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan ummatnya kecuali di atas jalan yang terang benderang, malamnya laksana siang karena begitu jelas dan gamblang.

Tidak ada kebaikan melainkan telah dianjurkannya, dan tidak ada keburukan melainkan telah dilarangnya. Sebagaimana kata Sahabat yang mulia Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “”Tidak tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka, kecuali telah dijelaskan semuanya kepada kalian.”
Maka bagaimana dengan pembangkangan terhadap ajarannya? Atau membuat sesuatu yang baru diluar dari apa yang telah digariskan olehnya? Tentu ini tak bisa lagi disebut cinta. Kalaupun itu dilakukan atas dasar “cinta” maka itu tak lebih dari sekedar cinta palsu. Sangat wajar jika berbalas dengan murka.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *