Dalam sejarah Islam yang umumnya kita pelajari, kita lebih akrab dengan Dinasti Umayyah di Damaskus, Dinasti Abbasiyah di Baghdad, dan Dinasti Utsmaniyah di Turki. Lalu, Dinasti Mamluk? Sebagian kita barangkali masih asing dengan nama tersebut.
Dalam perjalanan sejarah dan peradaban Islam, Mamluk atau Mamalik memiliki peran yang tidak kalah penting dari pemerintahan-pemerintahan Islam yang disebutkan di atas. Disebut Mamluk berasal dari kata ‘malaka’ (memiliki) dan berarti ‘budak’, sesuatu yang dimiliki. Jadi, orang-orang Mamluk adalah kelompok budak-budak.
Namun, jangan salah, mereka bukan budak-budak berkulit hitam seperti yang berasal dari benua Afrika. Mereka adalah budak-budak kulit putih berasal dari etnis Turki dan Kaukasus (wilayah Rusia). Mereka adalah budak-budak yang dibawa ke negeri Islam, khususnya Baghdad dan Mesir kemudian dipersenjatai dan dilatih secara militer. Awalnya prajurit, pada akhirnya mereka menjadi pemimpin.
Peran Dinasti Mamluk mulai mencuat ke pentas sejarah ketika tahun 1260 (658 H) dalam pertempuran di ‘Ain Jalut. Di bawah komando Sultan Saifuddin Quthuz, mereka menahan laju pasukan Mongol yang hendak menginvasi Mesir. Padahal sebelumnya, pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan meluluhtakkan kota paling megah di dunia: Baghdad.
Sebelum masa Mamluk, Mesir berada di bawah pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, sejak Sultan Shalahuddin memimpin usai meruntuhkan Dinasti Syiah Fathimiyah. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi memang berhasil mengusir pasukan salib Eropa dari Tanah Suci Yerusalem dalam Perang Hitthin. Namun, pasukan salib belum sepenuhnya dapat terusir dari negeri Islam, khusunya di daerah pesisir Syam. Yang berjasa mengusir sisa-sisa pasukan salib dari pesisir Syam tidak lain adalah Dinasti Mamluk. Sultan Mamluk, bernama Al-Asyraf Khalil. Pada 1291, Sultan Al-Asyraf Khalil berhasil mengusir pasukan salib di Acre (Akka) sehingga berakhir pula kekuasaan pasukan salib di wilayah Islam.
Pasukan salib Eropa terusir dari Syam menuju tiga negeri yang menjadi sumber kekuatan mereka, yaitu Kilikia (Armenia), Siprus, dan pulau Rhodes. Tiga kota ini menjadi pusat kekuatan pasukan salib pada masa Perang Salib. Di kemudian hari tiga pulau penting tersebut mampu dikuasai kaum muslimin. Siprus dikuasai pada masa Dinasti Mamluk, sementara Kilikia dan Rodhes ditaklukkan pada masa Dinasti Utsmaniyah.
Baca juga: Zainab binti Khuzaimah, Ibunda Orang-Orang Miskin
Tragedi Alexandria
Siprus (Cyprus) adalah suatu pulau yang terletak di Laut Mediterania. Berada di sebelah selatan Turki dan sebelah barat Suriah. Pulau ini dikuasai oleh kerajaan Kristen dan menjadi pusat kekuatan pasukan salib. Kerajaan Kristen Siprus sangat keras permusuhannya terhadap Islam.
Pada 1365, Raja Siprus, Peter I, mengirim pasukan untuk menyerang Alexandria. Satu kota pelabuhan di Mesir. Sejarawan menyebutkan mereka melakukan pembantaian dan penjarahan di Alexandria sebagaimana pasukan salib pertama masuk ke Baitul Maqdis 1099, membantai penduduknya tanpa ampun. Malhamah Al-Iskandariyah, sejarawan kita menyebutnya. Tragedi Alexandria. Ketika pasukan Mamluk datang, pasukan salib Siprus segera keluar dari Alexandria.
Kejadian tersebut membuat sultan-sultan Mamluk menuntut balas. Namun, karena sejumlah permasalahan internal di pihak Mamluk, pembalasan atas Siprus baru terealisasi sekitar 59 tahun kemudian. Tepatnya pada 1426, pada masa Sultan Al-Asyraf Barsbay. Sultan mengirim pasukan yang diangkut lebih dari 100 kapal perang menuju Siprus. Pertempuran sengit terjadi di darat dan di laut. Atas izin Allah, pasukan kaum muslimin memperoleh kemenangan. Mereka mampu menerobos sampai ke jantung kota Nicosia, ibu kota Siprus. Pasukan Siprus menyerah. Banyak di antara mereka ditawan dan dibawa ke Mesir. Salah satu di antara tawanan itu adalah Janus, Raja Siprus. Penaklukan Siprus menandakan berakhirnya Perang Salib abad pertengahan.
Baca juga: Sejarah Kopi: Minuman Setan dari Tanah Arab
Ibnu Taimiyah
Sulit untuk tidak membahas tokoh ini ketika membahas masa Dinasti Mamluk. Di antara sejumlah ulama, biografi dan karyanya paling banyak dibaca dan dikaji oleh umat Islam masa kini. Dia adalah Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Al-Harrani Ad-Dimasyqi. Lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah seorang ulama, mujahid, syaikhul Islam. Lahir pada 1263 (661 H) di desa Harran, satu desa di Syam. Menjadi korban dari kekejaman pasukan Mongol (Tartar) ketika masih kecil. Pada musim semi 1272, Ibnu Taimiyah yang masih bocah 10 tahun ikut keluarga meninggalkan Harran menuju Damaskus. Tidak lupa ia membawa banyak buku yang diangkut oleh gerobak-gerobak karena tidak memiliki hewan tunggangan.
Sudah menunjukkan tanda kecerdesan sejak kecil, Ibnu Taimiyah tumbuh sebagai pemuda yang haus ilmu. Di usia yang belum genap 20 tahun, ia sudah bisa memberikan fatwa. Disegani oleh kawan maupun lawan. Banyak kelompok yang terusik karena kritikannya. Entah kritikan itu dengan lisan maupun melalui tulisan. Secara luar biasa, Ibnu Taimiyah mampu menulis 80 halaman perhari. Dan sepanjang hidup dia telah menulis sekitar 500 jilid buku.
Kritikan yang ia tujukan kepada kelompok-kelompok menyimpang maupun pemerintah membuatnya akrab dengan jeruji besi. Pada 1309 contohnya, sekitar 500 sufi berdemo di sekitar Benteng Kairo yang menjadi perumahan dan barak kaum Mamluk. Mereka memprotes Ibnu Taimiyah atas kritikannya terhadap sejumlah pemimpin sufi mereka yang dihormati. Ibnu Taimiyah diadili dan dipenjara.
Syaikh Ibnu Taimiyah mengumpulkan dua keutamaan, jihad dengan pena dan jihad dengan pedang. Ia ikut berperang bersama pasukan Mamluk di Syam melawan pasukan Mongol antara tahun 1299 hingga 1302 (699- 702). Kesibukannya belajar-mengajar, menulis, berjihad, serta keluar masuk penjara membuatnya tidak sempat menikah hingga tutup usia di angka 65 tahun.
Sederet ulama lainnya yang hidup di masa Mamluk adalah Syaikhul Islam Ibnu Daqiq al-‘Id, Taqiyuddin As-Subki, Imam Muhammad Az-Zarkasyi mereka ulama syafi’iyah di Mesir. Sedangkan di Syam ada imam ahli tafsir, Ibnu Katsir dan murid terdekat Ibnu Taimiyah: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Melihat sejumlah ulama hebat tersebut, bisa dibayangkan bagaimana perkembangan keilmuan di masa itu.
Demikian artikel tentang Dinasti Mamluk ini. Baca artikel lainnya di sini. Semoga bermanfaat!