Di sepanjang SujudLAZISWahdah.com – Ada kepuasan yang membuncah, seiring dengan semangat yang mengalir dalam desahan nafas, tatkala satu kebaikan mampu dilakukan setelah mengalahkan banyaknya godaan dan rintangan. Seirama dengan hal itu pula, maka selalu ada senyum yang membatin dan merekah pada dinding-dinding hati ketika sebelumnya kita mampu berdiri tegak diatas batu karang dan tak terhempas oleh kelalaian-kelalaian dunia yang melenakan.

Ada kebahagiaan yang tak mampu disandingkan dengan kemewahan duniawi, ada kesenangan yang tak mampu dipasangkan dengan setumpuk harta, tahta dan jabatan. ialah kedekatan kepada Allah Azza wa Jalla. kedekatan kepada sang Pencipta langit dan Bumi. Selalu merasa dekat, merasa diawasi, hingga apapun yang kita lakukan menjadi terkontrol karena takut pada AdzabNya dan mengharap PahalaNya, hingga berpenghujung pada nilai  positif di pandangan Allah Ta’ala.

Allah Ta’alaa. memberikan ‘peluang’ untuk mendekatkan diri kepada-Nya karena Ia dekat dengan hamba-Nya.sebagaimana yang Allah Ta’alaa. katakan:”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku” (QS al-Baqarah 186)”.

Maka, mari sejenak kita menengok hidup ini, kadangkala kita merasa putus asa hingga nyaris frustasi untuk sebuah masalah pribadi. Kita memilih pergi hingga futur dan tidak menyisakan ruang untuk kembali dijalan orang-orang shaleh. Juga memilih menyerah pada keadaan, padahal belum banyak doa yang tertumpah diatas sajadah-sajadah taqarrub kita kepada Nya. Belum seribu langkah yang dicoba untuk menapaki dan memahat ketaatan hingga tercipta kegemilangan.

Jika kita terkadang merasa diabaikan manakala sulit mencari telinga yang mampu menampung segala resah dan masalah yang sedang dialami, maka sesungguhnya Allah akan selalu ada dan setia setiap saat mendengar keluh kesah hambaNya. karena fitralah manusia berkeluh kesah, tapi  Allah yang tak akan pernah bosan mendengarkan hambaNya yang meminta sebanyak apapun dan mengadu setiap resa gelisah padaNya.

Sebagaimana pula dikabarkan oleh qur’an, Allah berfirman yan artinya : Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaaf 16).

Kedekatan kita kepada  Allah, berawal karena cinta, sebuah rasa yang selalu menghadirkan rindu, dan harap. Layaknya sepasang pengantin yang saling mencintai. pun demikian halnya dengan Allah, Allah tak akan melekat dalam hati jika kita tak ingin mengenalNya. Dengan belajar mengenal Allah, melalui shalat, membaca Al-Qur’an, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, maka Allah akan dekat kepada kita. Sebaliknya, jika kita menjauh dengan syariat-Nya, lalai terhadap ketentuan-Nya maka Allah pun akan menjauh dari kita.

Jikalau Allah memberikan sesuatu yang tidak kita sukai, yakinlah bahwasannya apa yang kita suka belum tentu yang terbaik untuk kita dan apa yang Allah berikan adalah yang terbaik yang kita butuhkan. Jadi, bahagia itu adalah dekatnya kita dengan Sang Pencipta, bukan yang lain. Ketentraman itu akan muncul melebihi segala kenikmatan duniawi. Kesulitan pun menjadi indah tatkala Allah menjadi tumpuannya. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah Ta’ala hati akan menjadi tenang.[] (ZA)

Tinggalkan Balasan