LAZISWahdah.com, Makassar – Dalam hidup, manusia sering kali menginginkan kehidupan yang layak sebagaimana manusia lain merasakannya. Hidup layak bersama keluarga tercinta adalah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan hati manusia terasa begitu tenang dan bersyukur atasnya. Memiliki mereka adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Namun, bagaimana jika semua itu tidak kita rasakan. Keluarga yang sejatinya tempat kita bernaung sama sekali tidak kita rasakan kehangatannya.

Makassar malam itu (29/11), seorang kakek dengan perkiraan usia diatas tujuh puluh tahun tengah terbaring lemas di atas sebuah becak tua. Wajahnya tampak pucat dan badannya tampak sangat kurus. Wajahnya coreng moreng dan beberapa kali bau tidak sedap tercium dari atas becak tua itu. Ibu Sakila, seorang ibu rumah tangga bersama beberapa relawan Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah (LAZIS) Wahdah, yang tak sengaja bertemu dengan Daeng Tulung, nama kakek itu, merasa iba melihat kondisi Daeng Tulung yang tampak mengenaskan. Air matanya tak kuasa ia bendung ketika mengetahui, becak yang sekarang berada dihadapannya adalah rumah kakek tua itu. Ia teringat saat almarhum ayahnya dulu juga berprofesi sebagai tukang becak.

“Dulu ayah saya juga tukang becak,” ujarnya sambil berderai air mata. Ia tak kuasa menahan haru melihat kondisi Daeng Tulung yang tampak tak terawat.

Beberapa kali relawan LAZIS Wahdah membujuknya untuk ikut ke rumah sakit agar Daeng Tulung mendapatkan perawatan yang intensif. Mobil Ambulance sudah siap dan LAZIS Wahdah telah menyiapkan dana operasional pembiayaan Daeng Tulung selama perawatan. Namun Daeng Tulung tetap saja ngotot untuk tidak dibawa keluar dari becaknya.

“Daeng Tulung ini kurus karena jarang makan sehingga ulu hatinya sering sakit. Kakinya juga sakit karena harus tidur diatas becak dengan posisi yang tidak sesuai sehingga perlu perawatan. Untuk biaya kami telah sediakan asal beliau bisa dirawat sampai sembuh,”tambah Muammar, Direktur Program LAZIS Wahdah yang hadir langsung malam itu.

Diusianya yang sudah sangat senja, Daeng Tulung harus rela tinggal sebatang kara disebuah becak tanpa hidup yang menentu. Setiap harinya ia mendorong becaknya tanpa tahu kemana ia harus arahkan. Hidup tanpa keluarga, pontang-panting bergerak menyisir setiap sudut perkotaan, ditambah lagi tidak adanya pemasukan, maka mau tidak mau, Daeng Tulung hanya bisa bersabar menunggu belas kasih orang lain. Naasnya lagi, setiap kali ada orang yang memberinya uang dan makanan, ada-ada saja orang yang tidak punya hati yang merampas benda itu dari tangannya. Padahal, sesungguhnya ia pun butuh makan, untuk sekadar menegakkan tulang punggungnya agar bisa tetap hidup. Kerasnya hidup membuat tubuhnya tampak sangat kurus dan tak terawat. Bau tak sedap yang sering kali tercium dari atas becaknya itu ternyata air seninya.

“Daeng Tulung ini sering pipis diatas becak ini. Beliau tidak bisa berdiri dengan tegak karena sakit. Sehingga terpaksa ia harus membuang kotorannya itu diatas becak,” ungkap Muammar saat merekam video detik-detik akan dibawanya Daeng Tulung ke Rumah Sakit Labuang Baji’.

Ibu Sakila dan Tim LAZIS Wahdah terus berusaha membujuk Daeng Tulung untuk bisa dibawa ke rumah sakit. Namun Daeng Tulung tetap menolaknya dengan alasan tidak bisa meninggalkan becaknya ditengah jalan.

“Jangan mi, terima kasih banyak,”kata Daeng Tulung dengan suara serak karena pilek.

Melihat tubuh kakek tua renta itu yang semakin melemah, Tim LAZIS Wahdah bersama Ibu Sakila dan rekan-rekannya tak patah arang dalam membujuk Daeng Tulung. Akhirnya dengan usaha yang sangat lama, Daeng Tulung pun bisa dibawa ke Rumah Sakit Labuang Baji’ dengan memanfaatkan mobil Ambulance gratis milik Wahdah Islamiyah. Dokter mengatakan bahwa kondisi yang dialami oleh beliau diakibatkan karena kurangnya asupan makanan ke dalam tubuhnya. Daeng Tulung kebanyakan hanya meminum air ledeng yang ia masukkan ke dalam sebuah botol untuk sesekali mengganjal perutnya yang kosong.

Dinas Sosial Kota Makassar, ketika diwawancarai oleh Tim LAZIS Wahdah, mengatakan bahwa Daeng Tulung ini sudah pernah diajak beberapa kali ke dinas sosial kota Makassar untuk dirawat dan dikarantina. Namun Daeng Tulung beberapa kali meminta pulang karena ia merasa sudah sangat nyaman hidup di atas becak tuanya. Daeng Tulung adalah satu dari sekian banyak tunawisma yang ada di kota Makassar dan daerah-daerah lainnya. Mereka adalah saudara-saudara kita yang harus kita tolong. Semoga dengan kejadian ini Daeng Tulung bisa bertemu kembali dengan sanak keluarganya. Juga kepada anda yang masih punya hati yang bersih, lihatlah, betapa beruntungnya kita yang masih memiliki keluarga yang baik dan mencintai kita. Olehnya itu, mari kita sisihkan sebagian dari harta-harta kita sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah. Untuk membantu mereka bisa melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Semoga setiap harta yang kita sedekahkan menjadi pemberat amalan kita di akhirat kelak, Insya Allah. []

LAZIS Wahdah Bantu Daeng Tulung 3

LAZIS Wahdah Bantu Daeng Tulung 2

LAZIS Wahdah Bantu Daeng Tulung

LAZIS Wahdah Bantu Daeng Tulung 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *