Hancurnya Kaum Sodom

Dalam buku fenomenal karya ilmuwan Muslim, Harun Yahya, ketika membahas tentang Negeri-negeri yang dimusnahkan, beliau menuliskan bahwa Kota kediaman Nabi Luth ‘alaihissalam, dalam Perjanjian Lama disebut sebagai kota Sodom. Karena berada di utara Laut Merah, kaum ini diketahui telah dihancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Quran. Kajian arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada di wilayah Laut Mati yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania.

Sebelumnya, marilah kita lihat mengapa kaum Luth dihukum seperti ini. Al-Quran menceritakan bagaimana Nabi Luth ‘alaihissalam  memperingatkan kaumnya.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.’” (Terjemahan QS. Al A’raaf, 7: 80-82) 

Nabi Luth ‘alaihissalam menyeru kaumnya kepada tuntunan hidup sesuai fitrah dan tujuan penciptaan mereka serta memperingatkan akibat buruk dari perbuatan dosa dan melanggar ketentuan-Nya, namun kaumnya sama sekali tidak mengindahkan peringatan macam apa pun dan terus menolak serta tidak mengacuhkan ancaman azab yang telah beliau sampaikan.

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang sebelumnya belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. ‘Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?’. Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’” (QS. Al-‘Ankabut: 28-29)

Karena menerima penentangan keras dan jawaban sedemikian dari kaumnya, Luth ‘alaihissalam pun meminta pertolongan kepada Allah. “Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.’” (QS. Al-‘Ankabuut, 29: 30). “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (Terjemahan QS. Asy-Syu’araa’:169) 

Selain QS. Al Hijr [15]: ayat 73-76, ayat lain yang menerangkan penghancuran kaum ini sebagai berikut:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Terjemahan QS. Huud: 82-83).

“Kemudian Kami binasakan yang lain, dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu belerang), maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Terjemahan QS. Asy-Syu’araa’: 172-173).

Ketika kaum tersebut dihancurkan, hanya Luth dan pengikutnya, yang tidak lebih dari “sebuah keluarga”, yang diselamatkan. Bahkan istri Nabi Luth sendiri tidak termasuk yang mengimani risalah kenabian beliau, ia termasuk diantara kaum yang menentang hingga akhirnya ia pun turut dibinasakan.

Lava Gunung meluluhlantakkan seluruh kota dalam sekejap. Tak seorang pun yang selamat dari maut yang mengerikan. Terlihat bekas bencana itu, tubuh-tubuh yang tergeletak bersama pasangannya seperti sedang berbuat zina.

Yang paling mengejutkan adalah terdapat beberapa pasangan sejenis atau homoseksual. Hasil penggalian fosil menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang menunjukkan ekspresi keterkejutan dan ketakutan.

Kita berlindung kepada Allah dari maksiat menjijikkan tersebut dan adzab yang menimpa mereka.[]

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening