“Setiap turun hujan aku selalu menunggu pelangi. Meskipun hadir sesaat, sebelum akhirnya menjadi kenangan. Seperti kisah kehidupan dunia yang sesungguhnya hanyalah sementara. Aku misalnya di sejenakmu.”
Panrita sore itu sedang duduk di lego–lego rumahnya. Setelan baju kokonya masih lengkap dengan peci putihnya. Sehabis shalat ashar berjama’ah di masjid selalu dimanfaatkan untuk duduk mengaji sampai petang. Atau paling tidak, membaca buku ditemani secangkir kopi.
“Orang-orang cerdas di dunia ini tidak banyak. Mereka adalah orang-orang yang paling mengerti akan tujuan hidup ini. Karenanya mereka sibuk mempersiapkan diri. Tidak ada orang yang mau ‘buru-buru’ mati. Sebagimana tidak ada yang bisa memperlambat waktu demi membuat dirinya lebih muda. Kita sedang berpacu dengan waktu kita masing-masing. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu mempersiapkan kematiannya. Kematian yang datang tiba-tiba. Karena bersahabat dengan kematian adalah cara terbaik untuk tidak terjangkit penyakit al-wahn, cinta dunia” sebutnya menyelesaikan bacaan yang masih sempat aku dengar.
Sore ini pula langkahku harus terhenti. Hujan lebat. Tanpa banyak tanya, aku langsung diajak naik ke rumah yang lebih tua dari Panrita. “Kalau bisa kamu keluar kampung, merantaulah” ujarnya sambil memperbaiki posisi kacamata. Aku mengerutkan dahi tak kuasa menahan melempar pertanyaan.
“Buat apa?” Aku kira tinggal di kampung tiada duanya. Tidak ada macet, tidak bising, aman nyaman.
“Merantaulah mencari ilmu” kata-katanya terhenti sejenak sambil menyerup kopi. Aku juga diisyaratkan untuk mencicipi kue bolu dan teh hangat, nikmat sekali apalagi hujan begini.
“Air yang tergenang jika tidak mengalir akan membusuk” sebutnya menirukan ucapan Imam Syaafi’i. Seperti ulama dahulu mengadakan perjalanan menuntut ilmu. Belajar sampai ribuan guru. Tidak mencukupkan diri di kampung halaman.
Dia sepertinya membaca kekhawatiranku. “Tidak usah khawatir, merantaulah kamu akan mendapatkan Ilmu juga pengalaman baru kok.” ucapnya sambil meletakkan buku di sampingnya. Belakangan baru aku tahu kalau itu buku Tafsir berabjad lontara.
“Orang bugis itu sebenarnya tidak hanya terkenal karena ujung badiknya, ujung lidahnya juga karena ujung penanya” ucapnya di lain waktu saat aku diajak masuk ke perpustakaan pribadinya. Bukunya tidak terlalu banyak, tapi lebih ramai dari perabot rumah.
“Jadi untuk menghasilkan karya-karya sehebat ulama, modalnya apa?” sembari kulihat buku-buku ulama klasik berjejer kebanyakan berbahasa Arab.
“Semakin makin banyak yang kau baca, makin banyak pula yang bisa kau sampaikan. Menulislah! bukan karena dorongan harta, ingin dikenal, bukan itu! Menulislah! Karena dorongan hati, ada kebaikan yang ingin kau sampaikan, ada keresahan hati yang ingin kau suarakan” motivasinya meyakinkan.
Yang dibawa Hujan
Ada yang percaya bahwa dalam hujan ada rahmat yang hanya bisa dibaca oleh iman. Pesan yang menjadi perantara langit dan bumi. Bukan semata hujan lebat membuat takut melangkah, genangan kenangan turut membanjiri. Katanya sangat merindukan hujan. Nyatanya payung digenggam, berselimut mantel, berlindung di bilik-bilik jendela. Sesesal-sesalnya pertemuan pasti menyisakan perpisahan. Kita hanya bertanya-tanya, akankah kesempatan kedua (masih) milik kita?
“Perjalanan menuntut ilmu, ada dua yang harus kamu pastikan” ini wasiatnya yang kupengangi erat-erat. Aku memandangi dalam-dalam wajahnya yang masih kokoh meski sudah dipahat waktu. “Kesabaranmu harus lebih panjang dari perjalananmu. Sabar saja tidak cukup, kita harus yakin dengan apa yang kita perjuangkan. Kuatkan kesabaran dan keyakinanmu dengan do’a. Jadikan do’amu tidak sebatas keinginan. Tapi kebutuhan. Kelak jika keinginanmu telah tercapai kamu masih tetap butuh untuk berdo’a selalu” aku merekam betul kata-katanya dalam pita kenangan.
Tidak semua air di bumi harus naik ke awan lalu turun menjadi hujan. Barangkali air dalam tanah mengajarkan pada kita, bahwa dari tempat tak terlihat pun kita bisa muncul menjadi mata air kehidupan.
“Kamu tahu, kenapa abjad lontara tulisannya lurus-lurus semua?” seraya memperlihatkan buku yang dibacanya. “Filosofinya, kita senantiasa diajarkan untuk selalu bersikap yang lurus, berkata yang baik, berakhlak baik, berbudi pekerti yang baik” suaranya saling berdesakan dengan bunyi rintikan hujan. “Pakkawarui madeceng’e, sappa’i madeceng’e, pagau’i madeceng’e, deceng tu polena” kamu mengerti sesuatu?
Niat yang baik untuk tujuan yang baik. Cari, kerjakan yang baik-baik maka kebaikan juga yang akan kita tuai. “Orang-orang baik baik di dunia ini ada dua orang. Orang pertama adalah orang yang sejak dulu dia memang baik. Dibesarkan dari keluarga yang baik, terjaga akhlaknya. Kalaupun ada salah sedikit, itu karena namanya juga manusia pasti khilaf. Seperti Rasulullah uswatun hasanah” serunya.
“Orang baik kedua adalah mereka yang dulunya tidak baik. Mungkin pengaruh lingkungan atau didikan yang salah. Menyesal dengan gelapnya masa lalu. Kemudian akhirnya mendapat hidayah. Sehingga ia benar-benar memperbaiki sisa hidupnya. Dan orang seperti ini jumlahnya tidak sedikit. Para sahabat Nabi misalnya” seperti tetesan air hujan juga jatuh di dinding pipinya.
Hari ini aku menemukan orang-orang baik sebagaimana kata Panrita tadi. Orang-orang yang sedang berjalan menuju lebih baik. Aku melihat bagaimana dia bertekad penuh untuk berubah, berbenah diri. Tiada hari ia lewatkan kecuali menanam kebaikan. Dia juga sudah berusaha mengubur dalam-dalam masa lalunya, masa kelamnya. Herannya, mengapa justru kita kadang yang sibuk pergi menggalinya?
Jika setiap sesuatu diciptakan bersama membawa pasangannya. Maka apa yang akan dibawa oleh hujan? Kenangan misalnya. Kenangan yang sederhana, tidak selalu dengan indahnya kata-kata maupun setumpuk rasa. Kenangan itu adalah hujan.[]
[1] Sebutan untuk ulama di masyarakat bugis atau orang bijak, yang ahli pada bidang tertentu.
[2] Teras beranda rumah