Jaga Lisanmu

Jaga lisanmu – Tak ada tempat belajar tentang sosok-sosok mulia melebihi pelajaran berharga dari para salaf. Pelajaran tentang jalan meniti kehidupan indah, dunia dan akhirat. Salah satu pelajaran dari mereka itu adalah saat-saat di mana kita akan menggunakan lisan. Lisan, karunia Alah yang sangat berharga, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lagi-lagi, lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya tentu dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik bukan dengan mengumbar pembicaraan menurutkan hawa nafsu.

Tersebutlah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat yang isinya sebagai berikut, “Amma ba’d. Sesungguhnya orang yang banyak mengingat kematian, ia akan senang dengan bagian dunia yang sedikit; orang yang menganggap bicaranya itu termasuk amal perbuatannya, ia akan sedikit berbicara, kecuali dalam hal yang akan membawa kebaikan buat dirinya. Wassalam.”

Begitu pula ketika seorang lelaki yang datang menemui Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata kepadanya, “Berikanlah aku nasihat .” Beliau berkata, “Jangan bicara.” Sang penanya kemudian berujar, “Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara?” Beliau menanggapi, “Kalaupun Anda hendak berbicara, berbicaralah yang benar, atau diam.” Lelaki itu berkata lagi, Tolong tambahkan yang lain.” Beliau berkata, “Jangan marah.” Lelaki itu berkomentar, “Kalau tidak bisa menahan diri, terkadang aku tidak sadar.” Beliau berkata menanggapi, “Kalau begitu, bila engkau marah, jaga lidah dan tanganmu.” “Tambahkan lagi”, lelaki itu meminta. Beliau berkata, “Jangan campuri urusan orang lain.” “Orang yang hidup bersama orang banyak, tak mungkn tidak mencampuri urusan orang lain,” sanggahnya. Beliau berkata, “Kalau engkau harus mencampuri urusan orang lain, katakan perkataan yang benar, dan tunaikan amanah kepada yang berhak.”

Suatu saat, Umar radhiyallahu ‘anhu menemui Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang sedang menarik lidahnya. Maka, Umar heran dengan tingkah ‘aneh’ sahabatnya ini. Lalu berkata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya (lidah) ini telah membawaku pada sejelek-jelek perkataan.”

Duhai, jika saja Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, manusia termulia di kalangan sahabat masih risau dengan lisannya, maka kitalah yang lebih pantas memiliki risau yang sangat itu.

Setiap kata yang terlontar dari bibir Anda pasti akan dicatat oleh malaikat yang Raqib dan Atid. Apakah kita tidak malu apabila catatan amal kita yang diisi di penghujung waktu siang, yang sesungguhnya sebagian besar di antaranya ternyata bukanlah termasuk urusan agama maupun dunia yang bermanfaat bagi kita?

Memang tak mudah, sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh rahimahullah bahwa sikap wara’ yang paling berat dilakukan adalah memelihara lidah. Namun, dengan taufiq Allah yang diikuti rasa takut terhadap balasan dan siksa-Nya, segalanya bisa terjadi.

Demikianlah artikel tentang Jaga Lisanmu ini. Semoga bermanfaat.

Wallahu Waliyyu At Taufiq.

Oleh: Ustadz Marzuki Umar, Lc.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Tinggalkan komentar

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening