Bullying di sekolah meningkat. Kondisi ini merisaukan karena berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Akibat maraknya pemberitaan tentang kasus perundungan, sekolah bisa menjadi tempat yang ‘menakutkan’ bagi sebagian orangtua yang ingin menitipkan anaknya.
Ada banyak faktor yang menjadi pemicu aksi kekerasan di lingkungan sekolah, namun salah satu faktor utama di antara sekian faktor yang mendorong anak melakukan tindakan keji adalah pengaruh dari tontonan. Apa yang ditonton anak jelas berpengaruh pada pembentukan suatu perilaku, seperti sikap agresif anak-anak.
Berbagai bahan tontonan termasuk yang dikonsumsi anak-anak semua tersedia di handphonenya, tak hanya beragam hiburan dan permainan tapi mereka bisa terhubung dengan orang asing. Mirisnya kian kemari yang tampak mendominasi kalau bukan kekerasan, judi online, dan pornografi. Ya akhirnya anak yang tidak mendapatkan pengawasan orangtua dengan cukup akan menjadikan hp sebagai rujukan, termasuk untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
Perlu diketahui bahwa otak anak itu juga sedang berproses dalam masa pertumbuhan, untuk bisa optimal hingga ia beranjak dewasa dibutuhkan arahan (baca: pendidikan yang sehat). Namun disayangkan konten-konten yang tersebar kian sulit dibendung. Meski demikian memang, kondisinya semakin sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Diperlukan kesadaran kolektif dan upaya terpadu dan kerjasama yang baik antara individu, keluarga dan masyarakat.
Peran Penting Orangtua
Bullying atau perundungan menjadi masalah yang cukup serius jika tidak tertangani dengan baik. Hal ini bisa menjadi situasi yang menantang dan memerlukan perhatian khusus. Bukan hanya soal mencegah dan menanggulangi dampaknya bagi korban bully, tapi bagaimana menghadapi kenyataan bahwa anak sendiri menjadi pelaku bullying, misalnya? Tentu hal ini bisa memicu perasaan campur aduk seperti kebingungan, kekecewaan, dan kekhawatiran.
Sebagai kedua orangtua, tentu—kita sama sekali tak mengharapkan anak kita menjadi pelaku ataupun korban. Kasus perundungan semacam ini hanya akan bisa ditekan apabila—orang tua berperan dan berani mengambil tanggung jawab untuk hal itu.
Puncak Gunung Es
Kasus perundungan itu hanyalah puncak gunung es, yang kita lihat dipermukaan. Sementara di bagian akarnya ada masalah yang jauh lebih besar yang kadang tidak kita lihat.
Orang tua perlu mencermati, apa saja tontonan mereka. Bisa saja, awalnya hanya sekadar tontonan yang tidak disadari dampak atau efek sampingnya, kemudian anak pun mencoba meng-eksplornya di dunia nyata. Tontonan itu bisa menjadi tindakan mengerikan jika tak segera dikontrol atau dijelaskan. Jika hal ini terjadi, maka orang tualah yang harus bertanggung jawab.
The Indonesian Institute Center for Public Policy Research (TII) menyebutkan bahwa permainan online (daring) sebagai salah satu faktor pemicu timbulnya sifat agresif anak untuk melakukan tindakan perundungan kepada temannya sendiri.
Tontonan kekerasan seperti MMA, UFC, film action yang menampilkan adegan sadis seperti diperankan aktor dalam negeri yang sering diundang di stasiun tv, game mortal kombat dan lainnya bisa memicu anak untuk memiliki sifat agresif seperti memukul, bahkan ada kasus di mana anak membunuh teman gara-gara menonton adegan kekerasan kemudian mencobanya di dunia nyata.
Membebaskan anak untuk hidup dengan gadget, bukan pilihan yang tepat. Sering memberikan izin kepada anak untuk menonton video tanpa adanya pengawasan—sama seperti kita membiarkan anak hidup bebas tanpa ada pengarahan.
Terkait dengan masalah dampak negatif tontonan ini, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017 – 2022, Susanto telah meminta agar Perkominfo Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik, direvisi.
Ia mengatakan bahwa regulasi ini cenderung melihat permainan kekerasan dengan pendekatan klasifikasi usia. Ia menilai, seharusnya usia berapapun, selagi masih usia anak tetap tak dibenarkan mengakses konten kekerasan apalagi sadisme agar anak tidak terimitasi sebab bisa memicu hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
Susanto menambahkan game berkonten kekerasan dan sadisme, harus dipandang bukan materi permainan tapi materi negatif yang tidak boleh dilihat, apalagi dimainkan usia anak.
Oleh karena itu, ia mengajak agar para orang tua melakukan langkah deteksi dini untuk mencegah anak menjadi korban atau pelaku perundungan. Sebab kita tahu, tugas dan tanggung jawab orang tua itu “Tidak Main-Main!”.
Rasulullah ﷺ telah bersabda yang artinya:
“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhi-yallaahu ‘anhuma. Lafazh ini milik al-Bukhari.). Wallahu a’lam.
Oleh: Zulkifli Tri Darmawan, S.Si., M.Si.
Editor: Faisal